
"Lalu sekarang siapa yang sakit pak,?" tanya Arka penasaran. Karna tadi dia bilang istrinya kan sudah sembuh. Lalu sedang apa dua di klinik dokter Adi saat ini.
"Oh, saya lagi nungguin istri saya, dia lagi jenguk tetangga saya yang lagi sakit,"
"Begitu yah,?"
"Iya pak," jawab pria itu sungkan . Karna siapa yang tak mengenal Arka di sini. Dia yang menciptakan lowongan pekerjaan untuk orang-orang sekitar pantai ini.
****
Keesokan harinya Vada sudah sampai di klinik dan di ikuti dengan kedatangan Aciel . Begitu mendengar Nilam tertembak Aciel langsung melajukan motornya tanpa memikirkan apapun.
Perjalanan di tempuh selama tiga jam dari yang seharusnya lima jam. Aciel memecut motornya dengan cepat. Dia mengerti, saat ini Gael yang merupakan inspirasi baginya sedang di uji.
Suara isak tangis Gael selalu menggema di telinganya.
"Bagaimana keadaan Nilam,?" tanya Aciel.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, tapi dia belum bangun," jawab Gael dengan tatapan sendu.
"Sabar Gael,"
"Aku pasti sabar Ciel, dia harus selamat. Dia masih harus bertanggung jawab menemaniku sepanjang hidupku. Karna dia sudah berani membuatku jatuh cinta," ucap Gael dengan mata berkaca-kaca.
Sementara Vada yang sejak tadi berada di pelukan Arka dan terduduk di kursi masih terlihat menitikan Air mata.
"Sudahlah menangisnya, menangis tidak baik dengan kondisimu sekarang," pujuk Arka pada istri tercintanya.
"Aku gak mau kehilangan Nilam, dia segalanya bagiku," ucap Vada lirih.
"Aku juga gak mau itu terjadi, Nilam itu kesayangan kita, apa kau ingat,? Kata pertama yang dia ucapkan saat itu adalah kata 'papa' , kau sampai cemburu padaku. Dan yah, kau selalu membuatkan baju dan celana untuk putri kita itu, dengan tanganmu sendiri.
Dia sangat menyukai baju itu sampai dia menangis kalau melihat bajunya di cuci. Kau ingat itu kan sayang,?"
Vada mengangguk cepat sambil menahan Air matanya.
"Waktu dia kecil, dia selalu membuatku kerepotan dengan berbagai pertanyaannya . Dia sangat berisik, dan lihatlah sekarang. Jangankan bicara membuka mata saja dia tidak bisa, ayo bangunkan dia pah," isak tangis Vada semakin menjadi-jadi.
"Sudahlah istriku, bagaimana keadaan bayi kembar kita, bukankah sekarang kehamilanmu sudah menginjak dua bulan,?" tanya Arka mengalihkan pembicaraan.
"Yah, dua bulan kurang seminggu, kata dokter bayi kita sehat," ucap Vada penuh semangat.
"Syukurlah,"
Arka cepat mengakhiri obrolan mereka agar istrinya itu tidak membahas Nilam lagi. Jika terlalu banyak menangis maka itu tidak akan baik bagi bayi mereka. Keduanya larut dalam lamunan masing -masing.
Tidak lama kemudian Bagas dan Fina datang dan memeluk Gael yang sudah terlihat sembab. Di susul dengan kedatangan Abian dan Diraya.
__ADS_1
Fina dan Bagas tidak banyak berkomentar, setelah memeluk Gael dia menemui Vada dan Arka .
Sementara Abian dan Diraya duduk di samping Gael.
"Gael di sini ada penginapan gak ?" bisik Abian yang masih bisa di dengar oleh Diraya. Pipinya sudah bersemu merah.
"Ada , di pinggir pantai. Langsung aja kesana, Banyak."
"Ya udah kita mau cek in dulu yah Gael, kamu yang sabar yah,"
Gael mengangguk kecil.
"Iya, makasih Yan," jawab Gael.
"Masih siang, Dasar Abian. Kalau pengantin baru bawaannya nyari tempat tidur aja," Gumam Gael.
Benar saja, di penginapan Abian langsung mendaratkan ciumaan di bibiir Diraya. Istri Abian itu sudah mulai lihai mengimbangi permainaan suaminya itu.
Abian mulai menjelajahi setiap incii tubuuh Diraya yang sudah membuatnya kecanduan tanpa terkecuali hingga penyaatuan keduanya yang di penuhi haasrat membara.
Sampai 30 menit berlalu keduanya melakukan peleepasan bersamaan.
Suasana yang indah membuat keduanya bersemangat. Tidak di sangka tujuannya menjenguk Nilam membuatnya sekalian pergi bulan madu. Jika tidak dengan alasan ini maka keluarganya tidak akan mengizinkannya karna berbagai alasan mitos dan yang lainnya.
Setelah selesai membersihkan diri, Abian dan Diraya pergi menyaksikan secara langsung deburan ombak pantai yang terlihat ganas itu.
Hembusan angin kencang menyibak rambut Diraya yang masih setengah basah itu. Dan seketika saja rambutnya mengering.
Pasir pantai yang lembut membuatnya tak bisa berhenti melangkah, bahkan dia berlari kecil.
"Sayang, pelan-pelan. Siapa yang tau kalau di perutmu sudah mulai tumbuh kehidupan lain. Bagaimana kalau gak jadi,?" ucap Abian.
" Tapi ini seru bi, fotoin," manja Diraya.
"Iya, senyum dong,"
Diraya tersenyum manis.
****
Di Klinik Nilam sudah mulai membuka matanya.
Gael tersenyum lega.
"Kamu baik-baik saja Nil,?" tanya Gael.
Nilam mengangguk lemah, tapi dia bahagia melihat Gael berada di sisinya.
__ADS_1
"Apa kau haus,?" tanya Gael.
Nilam mengangguk.
"Sabar yah, kata dokter kamu belum boleh minum atau makan srbelum bisa buang angin," ungkap Gael.
"Terus tadi kenapa nawarin, ya ampun Gael," guman Nilam.
"Jangan memandangku seperti itu, itu perintah dokter, " kata Gael.
Nilam memutar bola matanya malas,
Kemudian kedua orang tua mereka masuk ke dalam ruangan. Vada mengusap puncak kepala putri kesayangannya itu.
Setelah puas melihat keadaan Nilam, Fina dan Bagas yang dari tadi di sibukan dengan Ameer mengajak Gael untuk berbicara hal yang penting di luar.
"Jang kamari aya nu ka bumi, cenah di kiduleun kandang kucing hutan ek di bangun tihang tower kango sinyal jaringan A, " kata bagas.
"Kan masih tanah bapa,?"
"Muhun, jadi di peser na lumayan dua kalieun harga mobil, "
"Wah, rezeki si dede pa,!"
"Rejeki ujang oge, kanggo bapa naek haji oge sapalih, meh ujang teu lieur. Lin ujang teh hoyong bapa sareng mamah naek haji,?" tanya Bagas.
Gael mengangguk. Dengan wajah berbinar Gael menjawab.
" Tos lunas pa , tabungan haji bapak sareng Emak mah, tinggal mangkat taun payun , "kata Gael.
"Oh, syukur atuh ken we acis na jang Nikah ujang we, " kata Bagas.
"Tos aya pa jang Nikah ge, tos aya 100 juta, Nilam hoyong pesta na sederhana wae pa," jelas Gael.
"Wang ango modal buka kantor jasa pengiriman sayuran we pa, Ujang ge bade ngagarap tanah bapa nu aya awian di kalereun kandang kucing hutan. ," ungkap Gael.
"Nya, kitu ge sae jang," kata Bagas.
Selama ini Gael berencana membangun kantor pelayanan pengiriman barang khusus sayuran ke pelosok desa dan ke kota. Dengan begitu cita-cita Nilam untuk membuat para petani sejahtera akan selalu terwujud. dia juga akan menanam beberapa jenis sayuran di lahan terbengkalai milik bapaknya.
Gael bersyukur, akhirnya harapannya menaikan haji kedua orang tuanya akan segera menjadi kenyataan. Dia juga bersemangat untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membahagiakan Nilam.
.
.
.
__ADS_1
...**************** Happy reading...
...****************...