
Pagi ini Abian memilih banyak paket untuk di kirimkan , tapi menuai protes dari Gael. Pasalnya di ujung sana sudah terlihat kurir baru bernama Angga yang masih terlihat kebingungan memilih.
"Maaf Gael , ini hari sabtu dan besok aku masuk kerja jam satu siang, kamu pasti ngerti lah. Aku lagi semangat," ujar Abian.
"Aku juga semangat, kamu pasti mau jalan-jalan sama pacar kamu itu, siapa namanya,? Tia yah,?" tanya Gael asal.
"Tia.. Tia...! Namanya Raya bukan Tia, Tapi Raya, DIRAYA," Kata Abian sedikit sewot.
"Oh, Diraya. Tenang dong gak perlu sewot gitu,!" ucap Gael.
"Gak bisa tenang lah, takut dikira playboy nanti, Raya itu orangnya over protective, emang nya Nilam percaya banget sama kamu," jelas Abian.
"Ya sudah, Angga kasih kesempatan yah. Aku pergi dulu,!" kata Gael.
"Iya tenang aja,"
Gael sangat peduli pada Angga karna dia masih baru, di bayar per paket itu harus dapat banyak paket yang di kirim. Sementara uang bensin hanya cukup untuk beli bensin dan makan.
Gael sangat bersemangat karna besok pagi dia akan ke rumah orang tuanya bersama Nilam seperti biasa.
****
Keesokan harinya, Hari Minggu yang di tunggu-tunggu pun tiba, seperti biasa Gael melakukan ritual beres-beres sisa kekacauan yang di buat Daffa malam tadi.
Daffa sangat senang menyuruh Gael membuatkannya mobil-mobilan yang terbuat dari botol air mineral bekas dan sendal jepit bekas.
Tapi Daffa tak pernah mau di suruh menginap. Dia tak bisa tidur kalau Alisha tak ada di sampingnya. Janda anak satu itu semakin hari semakin cantik saja. Dia masih menaruh rasa yang sama pada Gael.
Jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, Gael sudah setia menunggu Nilam di depan rumahnya yang besar itu.
Kali ini Gael membujuk Nilam agar mau di bonceng dengan motornya, tapi Nilam tetap menolak. Dia beralasan takut kehujanan di jalan dan akhirnya demam. Nilam tidak mau hal itu terjadi karna dia bertekad untuk selalu menjaga ibunya.
Sementara Gael hanya tak ingin terlambat saat bekerja nanti. Padahal Nilam masih kesal karna Gael tak mau mendengarkannya. Dia tetap suka ngebut di jalan menerbangkan motornya.
__ADS_1
****
Sesampainya di rumah orang tua Gael, Nilam langsung bersemangat melihat Phepey , Cherry, dan dua kucing hutan lainnya. Tak ada tanda-tanda keberadaan Fina di rumahnya.
"Awas ! Si Phepey pipis," Gael memperingatkan Nilam.
"Iw.. Jiji kamu Phey, ini lebih bau dari kucing biasa," rungut Nilam.
"Jangan sembarangan kamu Phey,! Mending kalau wangi jeruk atau sirsak, ini bau banget . Ummm.. Cuci tangan dulu sayang,!" kata Gael.
"Iya, ada sabun gak ,? " tanya Nilam "Gak apa-apa Gael, ini bagus,! Itu tandanya dia siap Kawin. Kita pisahkan kandang mereka . Jadinya sepasang-sepasang," usul Nilam saat melihat Gael terus menatapnya tak berkedip.
"Baiklah,"
"Pake sarung tangannya,! Aku takut kamu di gigit,!" teriak Nilam.
"Iya,"
"huffh... Dah beres,!"
"Kamu tuh pinter banget sih sayang, aku cium deh,!" kata Gael.
"jang....," Nilam tak sempat melanjutkan kata-katanya.
"Hummp...," ciuman lembut dan sekilas yang dilakukan Gael membuat Nilam kaget.
"Jaaang..," teriak Fina yang memergoki Gael.
"Ehh, Emak. Ngapain mak,?" tanya Gael.
"Ngapain-ngapain ,! Ujang nu ngapain nyium anak orang di kandang ucing kieu,?" rutuk Fina yang setia menggendong adik bayi yang sudah mulai aktif.
"Maksudnya, emak timana. Teu araya,?" tanya Gael mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Ti rumah si bibi, pek ujang mah alesan wae, Gera nikah tos hoyong nikah mah," kata Fina.
"Nya mak, ke ngumpulkeun heula acis na,!" kata Gael.
"Seeur acis mah, jual we tanah bapa," kata Fina.
"Gael belum saya kenalin sama papa' Arka bu, insya Allah se bulan lagi dia pulang," bela Nilam.
"Oh iya sayang, tapi kamu sudah siap nikah kan? jangan diam aja kalau anak emak macam-macam kayak tadi,!," perintah Fina.
"Saya tergantung Gael aja bu, iya siap,!" kata Nilam patuh.
"Kamu cepat nikahin Nilam, jangan asik cium -cium aja,!" kata Fina.
".... " Nilam hanya diam, dia merasa aneh karna ini adalah ciuman pertamanya. Dia sangat malu karna ciuman Gael ke pergok oleh ibunya.
"Aku kenapa sih, ? mendengar nilam menjelaskan tentang kucing yang siap kawin, aku malah ikutan terjebak birahi gini," gumam Gael dalam hati.
"Aku gak boleh Nikah dulu, tinggal sedikit lagi,! tabungan ku sudah hampir cukup untuk emak dan bapak naik haji, tinggal nunggu dede gede dan lepas asi,!" rutuk Gael pada dirinya sendiri.
Dia punya keinginan yang kuat untuk menghajikan kedua orang tuanya meski Fina sudah sering menolak. Tapi Gael tetap yakin pada dirinya sendiri. Meski dia sangat kesulitan mengendalikan hasratnya untuk menikah dengan Nilam, tapi harapannya untuk menghajikan kedua orang tuanya lebih besar.
Nilam selalu menganggapnya sebagai seorang super hero, tapi dia merasa jadi super hero yang menyedihkan karna tak mampu melakukan sesuatu yang besar untuk orang yang paling mencintainya di dunia ini.
Fina selalu memberinya segalanya. Apapun yang Gael inginkan akan dia berikan karna saat kecil Gael tak punya adik. Fina tidak ingin Gael merasa kesepian dan selalu kepikiran ingin punya adik.
.
.
.
**** Terima kasih sudah mampir di karyaku ya Authorrr..
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya...****