
Gael memutuskan untuk mengabari Fina bahwa dia akan memperkenalkan Nilam sebagai pacarnya hari ini juga. Sekalian membawa empat anak kucing hutan untuk di titipkan. Fina sangat bahagia dan antusias untuk menyambut kedatangan calon menantunya yang sangat luar biasa itu.
Nilam sangat di sukai banyak orang di kampung tempat Gael di besarkan. Tentu saja Fina akan sangat bangga memiliki calon menantu seperti Nilam.
Sebelum berangkat, Gael mampir ke warung Alisha. Di sana ada Daffa yang sedang bermain dengan kucing, melihat anak kucing yang bulunya terlihat indah Daffa pun tertarik.
"Sha, rokok dong sebungkus,!" pesan Gael.
"Sebentar, ngomong-ngomong mau pada kemana nih bawa anak kucing gitu,?" tanya Alisha sambil memberikan rokok kesukaan Gael.
"Kita mau ke rumah orang tuanya Gael kak, mau nitipin anak-anak kucing ini," jawab Nilam.
"...." sementara Gael hanya tersenyum sambil memberikan uang rokok.
"Ayah , kucingnya kaya macan ih bagus, mau di jual kemana yah ,? Tante Nilam ikut ayah jual anak kucing ini,?" tanya Daffa.
"Gak di jual sayang, mau di titipin sama nenek di kampung," jawab Gael.
Sementara Nilam masih merasa belum terbiasa dengan kebaikan hati Gael. Dia merasa tidak nyaman saat Daffa memanggilnya ayah meski sebenarnya dia sudah mengizinkannya.
"Iya tante juga ikut ayah Gael ke rumah nenek, ah jangan panggil tante, Mulai sekarang Daffa bisa panggil tante ibu yah sayang," kata Nilam yang di angguki oleh Daffa.
"Ayah Daffa mau baby Ciel lagi , yang kaya macan ini galak banget . Dia nyakar Daffa," kata Daffa sambil memandang ke arah anak kucing yang dari tadi menggeram.
"Baby Ciel,?" tanya Gael.
"Anak nya si Micil Gael, Anak ku emang suka banget sama anak kucing. Si phepey sama cherry kan udah laku kemarin," kata Alisha.
"Oh, anak Micil, hahaa.. Kok bilangnya Baby Ciel sayang,?" kata Gael sambil tergelak.
"...." Daffa hanya tersenyum malu.
"Ini anak kucing hutan yang masih liar sayang, hati-hati emang masih galak,?" kata Gael memperingatkan. Padahal peringatannya itu sangat terlambat karena Daffa sudah terlanjur di cakar kucing hutan.
"Iya yah," jawab Daffa.
"Nanti yah Daff, om Aciel nya masih sibuk mau bawa kucing jantannya," kata Gael.
"Ok ayah."
__ADS_1
****
Setelah membawa kandang bekas anjing yang lumayan besar, Gael dan Nilam menuju rumah orang tua Gael di kampung Banjaran.
Sesampainya di sana Gael langsung di sambut oleh Fina, Bagas, nenek kakek gael dan beberapa keponakannya. Gael sangat bahagia karena dia di sambut oleh Fina khususnya, yang saat lalu masih sangat fokus sama adik bayi. Gael sempat iri pada adik barunya itu.
"Kenalin, ini pacarku mak. Namanya Nilam,!" kata Gael.
"KITA SUDAH TAU,!!" sahut semua orang serentak.
"O Ow, sepertinya kalian lebih kenal sama Nilam," rungut Gael.
"Iya dong, sekarang hasil panen nenek lebih banyak berkat bantuan neng Nilam," sahut neneknya Gael.
"Kak Nilam juga baik sama kita , dia bantuin kita ngerjain PR Setiap hari waktu kak Nilam di sini. Sekarang udah jarang kesini sih," kata keponakan Gael.
"Wah, kamu itu Luar Biasa banget sayang, aku bangga deh jadi pacar kamu," kata Gael.
"...." Nilam hanya tersenyum tanpa kata.
"Awalnya gimana sih kalian bisa kenal,? Kalian itu memang pasangan yang luar biasa ,!" kata Kakeknya Gael.
Fina memperhatikan keduanya sambil menggendong bayi kecilnya yang sangat suka tidur.
"Awalnya saya minta tolong Gael saat di kejar penjahat kek, waktu itu saya merasa bersalah karena Gael jadi babak belur gara-gara nolongin saya. Saat saya mau berterima kasih Gael menolak. Jadi saya selalu berusaha biar bisa membalas kebaikannya," jelas Nilam.
"Sebenarnya aku sengaja biar di cari-cari sama kamu sayang, kamu itu terlalu indah buat di tolak,"kata Gael.
"...." Nilam tersenyum sambil mencubit pinggang Gael.
"Auh.. Sakiiit," pekik Gael.
"Anak jaman sekarang banyak akalnya yah," kata kakeknya Gael.
"... " Gael hanya diam menahan rasa sakit bekas capitan jari Nilam yang mematikan.
"Iya dong, siapa dulu bapaknya," kata Bagas.
"Tapi dia lebih sayang sama aku loh pak, Gael suka bantuin nyuci piring dari kecil" kata Fina tak mau kalah.
__ADS_1
"Itu karna dia takut di gigit sama Emak, Emak kan galak," kata Bagas.
"...." Fina memelototi Bagas.
"Tuh kaan," rungut Bagas.
"Sudah-sudah, mending sekarang kita makan dulu yah," kata Nenek.
Kini mereka menyantap hidangan yang sudah di siapkan Fina , gulai ayam, sambel terasi, dan berbagai macam sayuran segar.
Setelah selesai makan, Gael menurunkan kandang yang sangat besar dari mobil merah Nilam, kemudian dia menurunkan kandang kecil berisi empat anak kucing.
Gael menitipkan empat anak kucing ini pada Bagas, Bagas pun setuju menjaga anak - anak kucing hutan ini karena ada pak Maman yang akan membantunya membersihkan kotoran kucing tiga hari sekali seperti yang di anjurkan Nilam bahwa kandang kucing harus selalu bersih.
Gael memasukan beberapa ranting pohon ke kandang kucing agar dia merasa berada di habitatnya. Setelah itu Gael dan Nilam buru-buru kembali ke kota karna besok mereka punya kesibukan lain.
Di perjalanan pulang Nilam melihat seorang wanita muda tergeletak di jalanan penuh luka di tangannya. Nilam menghentikan mobilnya untuk melihat keadaan wanita itu.
"Kak, saya antar ke rumah sakit yah,?" tanya Nilam.
"Gak perlu kak, biarin saya mati di sini saja, saya mau mati,!" rungut wanita itu.
"Gak boleh gitu kak, pamali,!" kata Nilam.
"...." Gael hanya menyimak.
"Aku stress kak, rasanya mau gantung diri saja. Aku baru keguguran seminggu yang lalu, suamiku seorang mafia yang memegang daerah ini, anak-anak dari istri pertamanya selalu memaksa ku untuk bercerai, aku di celakai sampai keluar masuk rumah sakit sejak dulu." kata wanita itu.
"Sabar ya kak,!" kata Nilam sambil mengelus punggungnya.
"Sabar yah kak," kata Gael. "Aku juga kalau sudah setress itu rasanya ingin gantung leher tetangga," kata Gael.
"...." wanita itu tersenyum.
.
.
.
__ADS_1