
Di taman terlihat dua orang wanita yg sudah mulai akrab, walaupun nadira hanya kepala pelayan namun rianty sudah menganggap nya teman.
Karena memang hanya nadira lah yg di ijin kan ferdi untuk menemani rianty dan memberi apa yg di butuh kan rianty.
"Aku ingin pulang dira, aku sudah tidak kuat dengan perlakuan si bintang hanyut itu" ucap rianty menutup wajah dengan telapak tangan nya.
"Maaf nona , kalau boleh saya tau ada apa?"
"maaf kalau saya terlalu lancang bertanya seperti ini kepada nona" ucap sopan nadira menunduk di hadapan rianty.
"Entahlah lah, semenjak kecelakaan itu, jeky sangat berubah,"
"Berubah bagaimana maksud nona?"
"Ya.. walaupun kami sering bertengkar tapi itu lebih baik dari pada keadaan sekarang,"
"sekarang dia berbeda, dia acuh padaku, dia melihat ku dengan penuh kebencian" air mata nya rianty pun pecah.
Kasihan sekali nona rianty, belum lama aku melihat mereka mulai akrab dan keadaan langsung berbalik cepat setelah kecelakaan itu.Gumam nadira tak tega melihat rianty terpuruk.
"Dira, aku mau pulang tolong bantu aku" ucapan rianty membuyarkan lamunan nadira.
"Eehh nona, jangan..., pa ferdi menyuruh nona tetap di rumah ini" tegas nadira.
__ADS_1
"Aku tidak mau, kamu tidak tau dira apa yg bintang hanyut itu katakan pada ku"
"memang apa yg tuan jeky katakan kepada nona?" rasa penasaran nadira muncul.
Flashback...
"Apa yg kamu lakukan di kamarku hah.." ucap jeky melihat rianty sedang tidur di tempat tidur nya.
"Ya.. aku mau tidur, kamu bisa lihat sendiri kan bintang hanyut" jawab rianty dengan sibuk menyelimuti badan nya.
"Hah.. apa kamu pikir aku akan percaya padamu apa, aku tau semua akal busuk mu."
"Dasar tidak tau malu" jeky mendengus membawa bantal nya berjalan keluar kamar.
"Haha.. tanya kan saja pada diri mu sendiri, seberapa busuk dan hina nya rencana mu itu" ucap jeky di iringi tawa kecil yg sinis.
TEGG.. hati rianty terasa tersambar petir di siang bolong.
Kenapa dia menghina ku seperti ini, ibu dan ayah ku pun tak pernah berbicara sekasar ini pada ku.
Tak lama pun kristal bening di mata rianty pun pecah menjadi bulir air mata yg membasahi pipinya.
Tak ada suara sedikit pun yg keluar dari mulut rianty, tanpa rasa iba jeky melanjut kan langkah nya keluar dari kamar.
__ADS_1
••••••••••
"Nona yg sabar, badai pasti berlalu nona"
"Saya yakin tuan jeky akan mengingat semuanya nona"
"Mengingat apa dira? , mengingat pernikahan kami yg tak pernah kami ingin kan sebelum nya"
"Aku ingin pulang,aku ingin kembali ke kehidupan ku yg dulu"
"Dimana aku tak pernah mengenal si bintang hanyut itu"
Aduuhh bagaimana ini, tidak mungkin aku mencegah nona rianty untuk pulang
tapi aku juga tidak mungkin membiarkan nona pergi, apa yg harus aku lakukan tuhan..
"Nona pikiran baik-baik , nanti bagaimana kalau tuan ferdi marah karena nona memaksa pulang" bujuk nadira memohon kepada rianty.
"Sebab itu aku minta tolong pada mu dira, aku lihat kamu dekat dengan pa ferdi"
"Aku minta tolong pada mu tolong bujuk pa ferdi agar mengijinkan ku pulang"
Aaaaa.. mana mungkin nona, walaupun aku dekat dengan tuan ferdi aku tidak berani berbicara seperti itu... Gumam nadira dalam hati.
__ADS_1