Pelayan Milik Tuan Mafia

Pelayan Milik Tuan Mafia
Meghan Dan Alexandro


__ADS_3

Setelah Margareta keluar dari dalam kamar Wiliam. Gadis itu tak lupa untuk kembali menutup pintunya. Lalu mulai berjalan menuju ke belakang.


...****************...


Keesokan paginya.


Alexandro langsung pergi menuju ke perusahaan Meghan untuk menemui wanita itu secara langsung.


Meghan adalah kakaknya Wiliam, dan sudah berusia 40 tahun.


"Yang benar saja kau? Aku ini pengusaha Tas, bukan jaket. Aku tidak bisa membuatkan mu barang seperti yang kau inginkan, meskipun nantinya kau akan membayar mahal untuk itu." ujar Meghan yang merasa aneh karena permintaan dari anak buah adik nya tersebut yang meminta untuk di buatkan jaket dari bahan kulit manusia.


Di lain sisi Meghan juga turut ikut prihatin setelah mendengar cerita Alexandro yang mengatakan jika kekasihnya di bun*h oleh Wiliam hanya karena sebuah kesalah pahaman.


"Kenapa tidak bisa? Aku hanya ingin agar kulit kekasih ku di awetkan, dan menjadi sebuah barang yang sangat berharga." ungkap Alexandro memprotes wanita itu.


"Aku tidak pandai membuat jaket Alexandro, bagaimana jika kulitnya kita jadikan tas saja? Ada model terbaru dan bentuknya sangat waw." balas Meghan dengan penuh semangat, berharap agar pria itu tertarik dan mau memperhitungkan tawarannya.


"Apa kau gila Meghan? Aku adalah seorang laki-laki, aku tidak butuh tas." jawab Alexandro dengan cepat.


Sementara Meghan sendiri dan juga salah satu karyawannya malah di buat tertawa. Karena begitu lucu ketika melihat ekspresi wajah pria itu.


"Baiklah, maafkan aku Alexandro! Entah mengapa aku bisa menjadi konyol dan menawarkan mu tas wanita." ujar Meghan merasa bodoh.


Seorang wanita cantik yang merupakan sekretarisnya Meghan datang. Dan langsung membisikan sesuatu kepada bossnya tersebut.


Sementara Alexandro hanya diam dan menatap malas ke arah keduanya.


"Oh, baiklah! Aku bisa mempertimbangkan pesanan jaket mu. Sekretaris ku bisa membuatkan nya untuk mu." ucap Meghan secara tiba-tiba.


Sehingga membuat Alexandro spontan tersenyum.


"Benarkah?" tanya pria itu ingin memastikan lagi.

__ADS_1


Dan Meghan langsung mengangguk.


"Kita bisa berbincang-bincang soal nilai uangnya untuk membayar pesanan jaket kulit mu itu." sahut Meghan selanjutnya, dan langsung membawa Alexandro ikut dengannya menuju ke sebuah ruangan.


...****************...


Margareta sibuk membersihkan kamar Wiliam. Setelah selesai dia pun lantas keluar dengan membawa alat kebersihan.


Namun sayangnya dia malah tak sengaja bertemu dengan Inggrid. Membuat suasana begitu sangat canggung.


"Kau sudah selesai dengan tugasmu?" tanya Inggrid. Dan Margareta langsung mengangguk.


"Kalau begitu, sekarang cuci piring di belakang!" perintah Inggrid dengan tegas.


"Ta-tapi_" Margareta ingin menjawab, namun sayangnya Inggrid sudah lebih dulu mendorongnya, sehingga membuat gadis malang itu tersungkur ke lantai.


"Apa kau tidak dengar dengan perintahku? Aku ini adalah pelayan kepala di Villa ini. Selain harus menghormati Tuan Wiliam, kau juga harus menghormati ku. Karena jabatan ku jauh lebih tinggi di bandingkan posisi mu sebagai seorang pelayan rendahan yang tidak tau terima kasih." ucap Inggrid lagi.


Sebagai pelayan pribadi Wiliam, tentunya tugas Margareta sudah cukup banyak dan begitu melelahkan.


Sementara tugas mencuci piring seharusnya adalah tugas yang di kerjakan oleh pelayan lain. Karena begitu banyak pelayan di Villa ini. Namun sepertinya Inggrid memang sengaja ingin memberatkan tugas Margareta, karena terlanjur merasa tidak suka atas kehadiran wanita itu selama berada di Villa ini.


Terlihat Inggrid yang sedang memantau Margareta dari arah kejauhan.


"Pelayan Inggrid, kenapa Margareta yang mengerjakan nya? Mencuci piring adalah tugas ku yang seharusnya." ucap salah satu pelayan yang merasa kasihan terhadap Margareta, karena terlihat sangat terbebani.


Sementara Inggrid langsung saja mengangkat sebelah tangannya, memberikan perintah agar pelayan itu diam saja.


"Aku sengaja melakukan itu, karena aku tidak suka dengan nya. Aku membencinya! Karena kehadirannya kita semua harus kehilangan Wulan." balas Inggrid dengan bersungguh-sungguh.


"Wulan tidak bersalah, dan kem*tian begitu sangat tidak adil baginya. Selama aku hidup, maka aku akan membalaskan kematian Wulan dengan cara membuat Margareta sengsara." lanjut wanita parubaya itu lagi yang sudah memegang tekad penuh untuk balas dendam terhadap Margareta, karena begitu tidak terima atas kematian sahabatnya Wulan.


"Iya anda benar! Pelayan Wulan sangat baik kepada kami semua, tapi sayangnya dia harus meningg*l karena kebodohan pelayan tidak tau diri itu yang malah membuat kesalahan terhadap Tuan Wiliam." balas pelayan itu akhirnya yang berpendapat sama dengan Inggrid dan jadi ikut membenci Margareta.

__ADS_1


Sementara Inggrid hanya diam saja, dan menyuruh agar pelayan itu pergi dari sini, untuk meninggalkannya sendirian.


Setelah cukup lama terdiam menatap Mergareta dari arah kejauhan, membuat Inggrid akhirnya tersadar jika sekarang sudah hampir menjelang siang.


Dia pun bergegas pergi untuk memasak makan siang, meskipun Wiliam jarang sekali pulang pada siang hari. Karena Tuan nya itu selalu pulang ke Villa pada saat sudah malam hari.


Namun dia tetap memasak hanya untuk berjaga-jaga jika sampai Tuan nya itu pulang secara tiba-tiba. Jika tidak maka makan siang tersebut akan di makan olehnya sendiri.


Setelah Margareta selesai mencuci piring. Inggrid kembali memanggilnya.


Terpaksa wanita itu datang ingin memastikan apa sebenarnya yang di inginkan oleh pelayan kepala itu.


"Ada apa Pelayan Inggrid?" tanya Margareta.


"Kau sudah selesai mencuci piring?" tanya Inggrid sambil mengiris daging yang akan di masaknya nanti.


Seperti biasa, maka Margareta langsung mengangguk.


Inggrid langsung membanting pisau tersebut, dan beralih menatap ke arah Margareta sambil menghela nafas.


"Kalau begitu, masaklah makan siang untuk Tuan Wiliam sekarang juga. Aku lelah dan ingin beristirahat." ungkap Inggrid yang memerintah Margareta dengan seenaknya.


Padahal Margareta juga merasa sangat lelah sekarang, namun dia sama sekali tidak berani menolaknya dan hanya bisa menuruti kemauan Inggrid.


Wanita itu kini menggantikan posisi sang pelayan kepala tersebut dan mulai memasak makan siang untuk sang tuan. Padahal belum pasti jika Wiliam akan pulang ke Villa siang hari ini.


Sementara pelayan lainnya yang melihat kejadian tersebut hanya bisa tertawa senang, ketika melihat kesengsaraan pada diri Margareta yang di perintah seenaknya oleh Inggrid.


"Oh ya pelayan Margaret! Jangan lupa setelah selesai memasak, kau juga harus membersihkan kamar kami." ucap salah satu pelayan disana dengan begitu angkuhnya, tidak ingin sadar diri jika ia sendiri pun merupakan seorang pelayan yang memiliki status serupa dengan Margareta.


Namun itu sengaja dia lakukan karena ingin membuat Margareta menderita. Kini suasana di Villa Aruga kian semangkin memanas, para pelayan di sana dengan seenaknya memerintah dan mengejek bahkan tak segan-segan untuk membuli Margareta, sehingga membuat telinga wanita itu menjadi panas dan tidak tahan.


Ingin rasanya Margareta menangis pada saat ini juga. Namun dia mencoba untuk menahan nya sekuat tenaga. Mengabaikan cemohan mereka semua yang mengejeknya sebagai seorang pelayan tidak tau diri. Margareta mencoba untuk fokus memasak saja. Meskipun ada beberapa gangguan yang terus-terusan ia dapat, seperti lemparan kain kotor, dan juga pukulan ringan yang tentunya membuat ia sangat merasa tidak nyaman.

__ADS_1


__ADS_2