Pelayan Milik Tuan Mafia

Pelayan Milik Tuan Mafia
Bayi Besar Yang Manja


__ADS_3

"Ti-tidak tuan!" sahut gadis itu dengan menggeleng pelan.


Namun Wiliam tidak mau mempercayainya.


"Pria ini sangat aneh! Dia yang berbuat, tapi malah dia yang menyalahkan ku. Siapa juga yang senang ketika melihatnya kesakitan seperti ini? Justru aku malah semangkin di buat menderita karena harus mengurus bayi besar yang sangat kejam." batin Margareta sambil menekuk wajahnya.


"Kalau begitu cepat telpon Alexandro dan suruh dia datang kemari." Tiba-tiba saja Wiliam memberikan perintah, dan langsung memberikan hanphone nya kepada Margareta.


Gadis itu langsung menerimanya. Namun di dalam hatinya berkata. "Memang dasar bayi besar! Padahal yang sakit dan terluka adalah kakinya, bukan tangannya. Tapi dia bersikap seolah-olah tidak bisa berbuat apapun, dasar manja." keluh Margareta sedikit merasa kesal dengan tuan nya itu.


"Sudah cepat telpon. Tangan ku memang tidak sakit, selagi kau ada disini. Lalu apa guna nya kau sebagai pelayan jika hanya melihat ku saja." ucap Wiliam yang seakan-akan tau dengan isi hati wanita itu.


Mau tak mau Margareta terpaksa menuruti perintah dari Wiliam.


Beberapa saat kemudian..


"Hallo pak! Apakah bapak bisa menolong saya? Di sini ada sebuah penculikan, dan saya sedang di tahan oleh seorang Mafia_" ucapan Margareta seketika terhenti pada saat Alexandro membekap mulutnya dari arah belakang.


"Berani sekali kau!" bentak pria itu yang langsung mematikan sambungan telpon nya.

__ADS_1


"Mafia kejam!" sambung Margareta lagi dengan memandang ke arah pria dingin itu. Seorang pria yang pada saat itu sempat di temuinya. Akhirnya mereka berjumpa lagi sekarang.


Margareta benar-benar merasa sangat takut dan spontan mundur ke belakang.


Mencoba untuk menjauh dari Alexandro.


"Jangan berani membentaknya. Dia pelayan pribadi ku, dan hanya aku seorang yang boleh memarahinya atau pun memerintahnya." tegur Wiliam dengan penuh keseriusan, dia merasa sangat tidak terima ketika anak buahnya tersebut memarahi Margareta, apalagi sampai membuat wanita itu jadi ketakutan.


"Tapi dia sudah lancang menelpon polisi_"


"Memangnya siapa yang peduli?" potong Wiliam dengan cepat.


Sehingga membuat Alexandro menjadi terdiam seribu kata. Tak bisa melawan lagi, ketika melihat ekspresi kemarahan yang di tunjukan oleh tuan nya itu.


Wanita yang di maksud oleh Alexandro adalah Margareta tentunya. Lantas pria itu langsung tersenyum penuh arti, namun baru saja beberapa detik, Alexandro terpaksa harus kembali menyimpan senyuman nya itu, karena Wiliam sudah menegurnya lagi.


"Pergilah dari sini, aku muak melihat wajah mu sekarang!" perintah pria itu.


"Tapi bukan kah tuan tadi menyuruh Margo untuk menghubungi ku karena ada sesuatu?" tanya Alexandro merasa bingung.

__ADS_1


Karena tadinya dia sudah dengar ketika Wiliam memerintahkan pelayan pribadinya tersebut untuk segera menghubungi nya lewat telpon. Pertanda jika dia sedang di butuhkan, tapi sepertinya sekarang sudah tidak lagi.


Baiklah, maka Alexandro bergegas pergi dari dalam kamar tuan nya dan hanya tinggal menyisahkan Wiliam dan juga pelayan pribadinya di dalam sana.


Setelah kepergian anak buahnya tersebut. Kini Wiliam sudah kembali beralih memandang ke arah Margareta.


"Kemarilah!" perintahnya, dan wanita itu secara perlahan mulai mendekat.


"Cepat temui salah satu anak buah ku yang sedang berada di dalam Villa ini. Kemungkinan mereka sedang berjaga di bagian ruangan depan. Perintahkan mereka untuk memanggil seorang Dokter secepatnya." ucap Wiliam, karena sangat tidak mungkin jika ia harus menyuruh Margareta secara langsung memanggilkan seorang Dokter ke Villa Andaru.


Jadi dia pun menyuruh perantaran melalui salah satu anak buahnya saja. Mengingat bahwa seluruh pelayan di Villa Aruga sama sekali tidak di perbolehkan untuk keluar.


"Hm, baiklah!" balas Margareta yang langsung bersiap ingin pergi keluar kamar.


Namun tiba-tiba saja.


"Tadinya aku ingin menyuruh Alexandro, hanya saja sepertinya dia masih berduka atas kematian kekasihnya yang bernama Wulan. Aku takut, bukannya membawa Dokter Bedah tetapi Alexandro malah membawa Dokter Gigi nantinya." ujar Wiliam dengan gemblang nya, sehingga membuat Margareta spontan tertawa.


Namun tak lama kemudian, gadis itu langsung menahannya dengan cepat. Karena mengingat jika ia harus segera menjalankan perintah yang di berikan oleh tuan nya tersebut.

__ADS_1


Entah sejak kapan tuan mafia itu bisa membuat lelucon seperti sekarang. Tapi yang pasti Wiliam memang mengatakan nya secara sadar hanya demi ingin melihat tawa gadis itu.


Ia pikir jika Margareta tidak bisa tertawa setelah di culik oleh ayah tirinya sendiri, dan di jual kepadanya. Tapi faktanya, keceriaan itu masih lah tetap tinggal di dalam dirinya. Meskipun sempat beberapa kali mengalami kekerasan dari Wiliam. Serta mengetahui dengan jelas apa pekerjaan Tuan nya tersebut. Tetapi Margareta tidak berniat sama sekali untuk mengakhiri hidup karena rasa trauma. Hal itulah yang mampu membuat Wiliam sedikit merasa takjub.


__ADS_2