
"Bisa tuan jelaskan apa motif alasan atas pembun*han terhadap pelayan yang bernama WULAN itu?" tanya Alexandro dengan menekankan kalimat terakhirnya.
"Dia merupakan seorang penguntit, dan aku tidak suka! Semuanya sudah sangat jelas, karena Margareta bisa mengetahui dengan jelas tentang bisnis il*gal yang tengah ku jalani, dan pada saat aku bertanya siapa yang sudah memberi tahunya tentang hal itu. Lalu di menjawab, bahwa Wulan yang memberitahukann nya! Sudah jelas bukan? Dari mana Wulan bisa tau tentang rahasia kita, jika dia memang seorang penguntit yang sudah lancang ingin menyelidiki dan mencari tahu tentang siapa aku yang sebenarnya." sahut Wiliam dan seolah sudah merasa paling benar dengan keputusan yang telah dia ambil sebelumnya.
Karena menurutnya Wulan memang pantas mendapatkan balasan kemati*n karena sudah berani mencari tahu tentangnya.
Sementara Alexandro tak bisa berkata-kata lagi, dan hanya bisa memihat keningnya yang terasa sangat pusing dan hampir saja dia pingsan jika seandainya Alexandro tidak mengingat tentang siapa jati dirinya yang sebenarnya adalah orang kepercayaan Mafia.
Tentu sangat memalukan jika sampai dia pingsan hanya demi seorang perempuan. Tapi tak menutup hal jika hatinya benar-benar merasa tidak terima, karena Alexandro sangatlah mencintai Wulan sang pelayan di Villa itu.
Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya telah terjadi, dan terlambat. Menyesal atau pun menangis, tidak akan bisa membuat pujaan hatinya itu kembali hidup.
Alexandro hanya bisa sekedar mendoakan Wulan saja, semoga kekasih hatinya itu bisa tenang di alam sana.
"Tuan mohon jawab aku, lalu di mana jasadnya sekarang? Jangan bilang Tuan sudah mengambil seluruh org*n tubuhnya dan hanya tinggal tersisa tengkorak saja?" tanya Alexandro dengan bersungguh-sungguh.
Kali ini dia tidak tau harus berbuat apa lagi jika sampai dugaan nya itu benar terjadi.
__ADS_1
"Meskipun otaknya sudah pecah dan tidak dapat di jual ke rumah sakit. Tapi ginjal dan hatinya masih bisa, kulitnya juga sangat bagus. Kakak ku pasti akan merasa sangat senang, dan aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengulitinya dan mengantarkan kulit tersebut secepatnya agar bisa segera di buat menjadi sebuah tas. Yang nantinya akan ku berikan pada Cantika." sahut Wiliam pula dengan mudahnya, tanpa memikirkan bagaimana hancurnya perasaan Alexandro bagaikan tercabik-cabik ketika mendapat penuturan yang sangat sadis tersebut.
"Tuan benar-benar gila, apakah tuan tau jika Wulan bukanlah seorang gadis penguntit. Dia adalah kekasihku, orang yang sangat ku cintai selama 2 tahun belakangan ini. Tapi tuan dengan tega malah melenyapkannya. Dia mengetahui semua identitas anda secara lengkap karena dari ku. Aku yang memberitahukan semuanya! Dan dia sama sekali tidak berniat ingin mencampuri urusan anda, dia bekerja sangat profesional sebagai seorang pelayan. Lalu kenapa anda malah membunuh dia yang sama sekali bukan ancaman bagi anda?" ucap Alexandro dengan nada suara yang bergetar.
Matanya memerah karena mencoba untuk menahan tangis di hadapan tuannya, sekaligus menahan rasa sakit di dalam hatinya.
Wiliam langsung tak habis pikir ketika mendapatkan penjelasan dari anak buahnya tersebut jika ternyata Wulan dan juga Alexandro berpacaran selama ini.
Dia merasa sangat bersalah, dan segera ingin meminta maaf! Namun Alexandro sudah terlanjur pergi meninggalkannya.
Meskipun selama ini Wiliam terkenal kejam, tapi siapa sangka dia juga masih memiliki sedikit hati dan rasa kasihan. Apalagi ketika melihat orang kepercayaan nya selama ini yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri harus menahan tangis di hadapannya.
Sementara Alexandro kini langsung mendatangi bagian belakang Villa Andaru karena ingin bertemu dengan salah satu Dokter Bedah yang merupakan anak buahnya Wiliam.
"Apa kau Dokter yang menangani seorang korban bernama Wulan? Dia pelayan di Villa Aruga." tanya Alexandro dengan nafas yang memburu akibat sempat berlari tadinya.
"Oh, pelayan yang menjadi korban penembakan Tuan Wiliam? Dia gadis perawan yang masih sangat muda. Tuan memintaku untuk mengangkat org*n dalamnya. Sementara kepala dan dagingnya masih utuh. Hanya saja Tuan Wiliam memerintahkan ku untuk menyendirikan kulitnya agar di jadikan sebuah tas. Dan sebentar lagi kulit nya akan di antarkan oleh kurir menuju ke perusahaan Nona Meghan." sahut Dokter Bedah tersebut menjelaskan secara rinci.
__ADS_1
Lagi-lagi Alexandro harus memejamkan matanya akibat merasakan dadanya yang terasa nyeri ketika mendengarkan pernyataan tersebut.
Pria itu lantas masuk menuju ke sebuah ruangan, tempat di simpan nya jasad Wulan.
Rasanya begitu sangat menyedihkan, ketika melihat bagian kepala kekasihnya berlubang karena tembakan peluru dari sang tuan.
"Bahkan ketika dia sudah mengetahui jika faktanya Wulan bukanlah seorang gadis penguntit. Tetapi Wiliam tidak menyesalinya, dan tidak ingin meminta maaf!"
Tidak heran, karena pastinya sangat mustahil jika Mafia kejam itu akan meminta maaf kepada anak buahnya. Dan Alexandro juga sangat memahami akan hal itu.
...****************...
Orang kepercayaan Wiliam yang tak lain adalah Alex kini sedang berdiri terdiam menatap pemakaman pujaan hatinya.
"Aku tak percaya jika kau akan pergi secepat ini." gumam Alexandro yang secara tiba-tiba mengingat tentang masalalu dan seluruh kenangannya bersama dengan Wulan.
Tentu sangat sulit untuk di lupakan pastinya, karena wanita itu adalah cinta pertamanya yang sekaligus menjadi kekasih hatinya.
__ADS_1
Bisa di bayangkan betapa kehilangannya Alexandro setelah kematian Wulan. Tak akan menutup kemungkinan jika pria itu akan trauma dan tidak mau lagi menjalin hubungan lagi dengan seorang wanita manapun.
"Kau adalah cinta pertamaku, dan akan menjadi cinta terakhirku Wulan." ungkap Alexandro dengan tersenyum penuh luka.