
"Sepertinya kau sangat perduli dengan ku? Memang nya kenapa jika aku pulang cepat? Apa itu berurusan dengan mu?" tanya Wiliam membalas perkataan Margareta sambil menatap bibir wanita itu dengan pandangan yang lapar.
Lapar akan rasa keinginan nya untuk memuaskan h*srat yang selama ini tidak pernah lagi di tuntaskan nya, karena Cantika telah pergi dan tidak akan kembali lagi bersama nya.
"Maksud saya, bukankah Tuan selalu pulang malam. Jadi saya bertanya kenapa anda pulang secepat ini, karena biasanya tuan tidak pernah pulang pada siang hari." ujar Margareta berbicara dengan nada yang pelan, karena takut kepada pria itu.
Kini Margareta sangat menyesal karena sudah menjawab pertanyaan dari Wiliam. Seharusnya dia diam saja tadi, dan tidak usah membuka mulut. Karena semuanya akan tetap salah di mata pria itu. Lagi pula Margareta sangat tidak paham kepada dirinya sendiri, yang sudah berani mencoba untuk mencampuri urusan tuan nya.
"Kau terlalu bawel!" umpat Wiliam yang langsung saja mencium bibir Margareta secara tiba-tiba, sehingga membuat gadis itu terlonjak kaget, dan melebarkan kelopak matanya.
Margareta mencoba untuk melawan dengan cara memukuli bagian dada pria itu. Namun Wiliam malah mencoba untuk menenangkan nya, dan membisikan kata-kata yang mampu membuat gadis itu jadi ikut terlena.
__ADS_1
"Aku pulang cepat karena ingin menemui mu sayang!" ungkap Wiliam berbicara dengan suara yang berat, karena ia sudah mulai kehilangan kendali dan berada jauh di bawah alam kesadarannya.
Margareta mampu membuat tubuh ya kian semangkin memanas, dan h*srat yang semangkin berkobar, ingin segera di padamkan atau pun di tuntaskan.
Percaya atau pun tidak percaya, jika ucapan itu memang benar adanya. Belakangan ini pikiran Wiliam merasa sangat tidak tenang, dan selalu terpikirkan tentang pelayan pribadinya itu.
Makian yang terlontar pada malam sebelum terjadinya tragedi pembunuhan pada Wulan. Membuat Wiliam merasa tertarik karena baru kali ini dia menemukan seorang gadis dengan kepribadian ganda.
Tentu Wiliam meperhatikan nya, dan meyakini jika pelayan pribadinya itu merasa sangat trauma terhadap nya.
Akhirnya Wiliam sudah berhasil menjinakan kucing liar tersebut, agar bisa menjadi patuh terhadap tuannya.
__ADS_1
Pria itu menyadari, hanya dengan cara kekerasan yang akan bisa membuat Margareta mau berubah.
Sedikit lucu ketika mengingat satu-persatu ekspresi tertekan pada saat wanita itu sedang berada di dekatnya atau pun pada saat bersamanya di dalam kamar.
Seperti ikhlas dan tidak ikhlas, namun harus tetap memaksakan untuk melakukannya karena rasa takut yang teramat besar.
Di dalam kamar itu, Wiliam malah seakan semangkin menuntut untuk melakukan hal yang lebih. Beruntung karena Margareta segera tersadar atas tindakan yang sudah mereka lakukan, dan langsung mencoba untuk mengakhirnya.
Begitu Wiliam melepas ciuman keduanya, gadis itu langsung mengatur nafas nya yang terasa memburu.
"Ku mohon hentikan!" ucapnya di sela-sela mengatur nafas, sambil menundukan wajahnya.
__ADS_1
Karena tidak tahan atas permainan Wiliam yang begitu hebat dan juga tidak bisa di seimbangi olehnya yang hanyalah sekedar gadis awam yang tidak pernah berpacaran dengan lawan jenis, apalagi sampai melakukan ciuman seperti itu.