
Andai saja Margareta tidak datang dan tidak menjadi salah satu pelayan di Villa Aruga. Maka kedamaian para pelayan di Villa ini tidak akan berakhir dengan sangat cepat. Karena dulunya sebelum Margareta hadir, semua pelayan selalu merasa senang dan bahagia, termasuk Wulan yang menjadi salah satu sumber kebahagiaan tersebut.
Gadis yang ceria dan menjadi penyemangat bagi para pelayan lain nya. Menganggap semua pelayan di Villa ini sebagai seorang saudara dan tidak pernah membeda-bedakannya.
Namun sayang nya sekarang tidak lagi sama seperti dulu! Semua pelayan di Villa ini menjadi kacau, dan tidak pernah berbincang atau pun berkumpul satu sama lain. Mereka semua memilih untuk menyibukan diri masing-masing, dan sangat membenci Margareta.
Mengganggap jika pelayan baru itu sebagai seorang gadis pembawa sial. Dan mereka semua memilih untuk menjauhinya, serta mengucilkan Margareta seorang diri.
Bahkan ada sebuah kalimat yang sangat kejam terdengar dengan jelas secara langsung di telinga Margareta. Bahwa seorang pelayan mengatakan. "Kenapa Tuan Wiliam harus menjadikan nya sebagai seorang pelayan. Karena sungguh dia tidak layak untuk hidup dan lebih pantas mati saja." ungkapan itu tentu membuat hati Margareta terasa sakit, dan mencoba untuk tetap tegar menghadapi permasalahan yang tengah menimpanya saat ini.
Setelah selesai menyiapkan makan siang. Margareta memilih masuk ke dalam kamar miliknya yang terletak di dalam gudang. Bahkan setelah kejadian pada saat itu, semua pelayan tidak ingin berbagi kamar dengan nya, dan menyuruh Margareta untuk tidur di dalam gudang yang sangat kotor dan juga menjijikan karena di penuhi oleh banyak nya kotoran tikus dan serangga lainnya.
Tak bisa menyangkal karena faktanya semua pelayan memang sangat membenci dirinya. Margareta terdiam dan duduk di atas kasurnya yang sudah lusuh. Meratapi nasibnya yang kini sangatlah menyedihkan.
Di jadikan pelayan pribadi oleh seorang pria kejam, dan juga tidak memiliki seorang teman pun untuk bercerita.
Margareta mengingat ketika dulunya pada saat Wulan menolongnya dan langsung mengobati seluruh luka di tubuhnya.
Mungkin jika seandainya wanita itu masih hidup, maka Wulan lah orang yang akan menjadi satu-satunya teman di dalam hidupnya.
Hingga tanpa sadar Margareta mulai menangis ketika mengingat tentang kejadian tersebut.
"Maafkan aku kak! Aku memang bersalah, dan sudah membuat mu harus tiada di tangan pria kejam itu. Aku memang pantas mendapatkan balasan ini dari mereka." ucap Margareta dengan penuh rasa penyesalan, sambil menundukan wajahnya.
Mungkin dengan ia di benci oleh semua pelayan disini, adalah suatu balasan atas perbuataan nya yang terlalu bodoh dan tidak mau mendengarkan pesan yang sudah di berikan oleh Wulan sebelumnya. Terlalu keras kepala karena sudah memberontak dari Wiliam.
__ADS_1
Dan merasa bahwa ia sangat kuat, lalu bisa melawan pria itu sendirian dengan sangat mudah. Tapi faktanya malah berujung dengan tragis, dan memakan seorang korban yang sama sekali tidak bersalah.
Menyesal? Tidak akan ada gunanya, karena Wulan sudah meregang nyawa dan tidak bisa kembali lagi.
Terlihat Inggrid yang sedang sibuk merapikan vas bunga di meja ruang tamu, namun tiba-tiba saja Tuan Wiliam datang bersama dengan orang kepercayaan nya, yaitu Alexandro.
"Dimana Margo? Suruh dia untuk melayani ku, cepat!" perintah Wiliam yang tidak ingin berbasa-basi.
Inggrid spontan berlari untuk memanggilkan Margareta. Pada saat sudah sampai di gudang, dia melihat gadis pembawa sial itu tengah meringkuk di atas kasurnya.
"Margareta, hey kau gadis pembawa sial! Cepat bangun, Tuan Wiliam sudah datang. Kau harus segera melayani nya!" ucap Inggrid berbicara dengan nada sedikit keras.
Meskipun Margareta tertidur, namun dia dapat mendengar dengan jelas perkataan yang di ucapkan oleh sang pelayan kepala itu.
Dia bergegas bangun, dan pergi keluar dengan langkah yang sangat cepat. Mempersiapkan diri untuk segera melayani, dan menghidangkan makan siang untuk Tuan Wiliam.
Wiliam memang tidak pernah makan di meja makan, dan lebih memilih untuk menyantap nya di dalam kamar. Karena sungguh dia sangat malas untuk melihat para wajah pelayan di Villa ini. Sungguh membosankan menurutnya. Padahal semua pelayan disini rata-rata memiliki wajah yang sangat cantik, karena memang dia sendiri yang memilihnya.
Margareta melihat wajah pria itu dengan seksama. Ada sedikit rasa kekaguman karena wajah Wiliam yang memang terlihat sangat sempurna dan juga begitu tampan. Namun sayang nya dia adalah seorang mafia, sehingga membuat rasa kekaguman itu menghilang dengan seketika. Margareta memilih untuk memalingkan wajahnya, dan tidak ingin menatap lebih lama lagi.
Karena detak jantungnya sedang tidak karuan sekarang. Bahkan Wiliam dapat mendengar dengan jelas bunyi detakan itu, namun dia hanya bisa tersenyum singkat sembari melanjutkan aktivitas makan siang nya.
Beberapa menit kemudian. Wiliam telah selesai dan akan segera mandi.
Namun sebelum itu dia menyempatkan diri untuk bersantai sejenak di atas sofa sambil bermain dengan ponselnya.
__ADS_1
Membiarkan Margareta menyiapkan terlebih dahulu baju yang akan di kenakan nya nanti.
"Tuan, pakaian untuk sudah siap! Apakah tuan ingin mandi dengan air hangat atau air dingin saja?" tanya Margareta dengan penuh ke hati-hatian.
Karena sedikit kesalahan dalam berbicara akan mengakibatkan sebuah kefatalan yang luar biasa.
Wiliam beralih memandang ke arah wanita itu dengan tatapan yang penuh makna. "Aku mandi dengan mu saja." balas pria itu dengan ambigu.
Sehingga membuat Margareta menjadi bingung dan sekaligus panik.
"Ma-maksud tuan?" tanya nya lagi yang ingin memastikan. Barang kali jika Wiliam salah dalam ber-ucap.
Pria itu langsung mengusap bagian wajahnya secara kasar. Karena Margareta begitu tidak peka, padahal saat ini dirinya sedang merasa nafsu kepadanya.
"Sudahlah, aku mandi dengan air dingin saja." balas Wiliam yang langsung meraih sebuah handuk dari atas ranjang nya, lalu ingin segera pergi berlalu menuju ke dalam kamar mandi.
Margareta menggangguk paham. Dan sudah bersiap ingin pergi dengan membawa piring kotornya. Namun sebelum itu, entah mengapa dia tiba-tiba saja berkata.
"Kenapa hari ini Tuan pulang cepat sekali? Apakah ada sesuatu?" tanya Margaret dengan polosnya.
Sehingga langsung menghentikan langkah kaki pria itu yang tadinya hendak pergi.
Detik berganti, barulah Margaret sadar dengan apa yang telah di lakukannya barusan.
Begitu bodoh, karena dia sudah terlalu lancang dan bertanya hal yang seharusnya tidak di tanyakan pada Wiliam.
__ADS_1
Memangnya kenapa jika pria itu pulang cepat? Margaret benar-benar sangat tidak mengerti kenapa dia bisa menanyakan hal seperti itu kepadanya.