
Margareta terbangun dan melihat ke arah samping nya yang mendapati bawah pria kejam itu sedang tertidur dengan sangat lelap.
Dia melihat ke arah tubuhnya yang sudah bugi* tanpa busana. Hanya tertutupi dengan sebuah selimut saja.
Tak lama kemudian Wiliam ikut terbangun dan langsung berdiri begitu saja, sehingga membuat Margareta ingin menjerit namun langsung segera di tahan nya.
Bisa-bisanya pria itu dengan sangat pede berjalan di hadapan nya tanpa menggunakan apapun.
Ini gila dan benar-benar sangat gila. Margareta mulai menurunkan kakinya dan hendak pergi keluar kamar.
Namun sebelum itu Wiliam langsung menahan nya. "Kau mau kemana?" tanya pria itu.
Jantung nya seakan berhenti di tempat ketika berhadap secara langsung dengan tuan nya.
Bayangan buruk tentang betapa kejamnya Wiliam kembali menghantui pikiran nya. Dan membuat rasa trauma dan ketakutan itu sudah kembali lagi.
"Saya ingin keluar tuan, bisakah tuan melepaskan tangan saya sekarang juga." pinta Margareta dengan menggigit bagian bibir bawahnya, dan tak lupa untuk meremas kuat selimut yang tengah menutupi seluruh tubuh polosnya.
Wiliam langsung menghela nafas. "Bersihkan terlebih dahulu tubuh mu di kamar mandi." perintahnya dengam tegas.
Al hasil mau tak mau Margareta masuk ke dalam kamar mandi milik Wiliam. Namun ternyata pria itu juga ikut masuk ke dalam, sehingga membuat Margareta menjadi sangat panik. Apalagi pada saat Wiliam mengunci pintu kamar mandi nya.
Dari awal firasatnya sudah merasa tidak enak, dan mengatakan bahwa akan ada hal buruk terjadi kepadanya. Dan benar saja, kini dia harus kembali memberikan tubuhnya secara paksa kepada pria kejam itu.
Entah karena Margareta terlalu polos sehingga tidak sadar jika Wiliam sudah menjebaknya. Rasanya begitu tidak rela, kesucian serta tubuhnya harus di berikan kepada orang yang belum sah menjadi suaminya.
Setelah selesai membersihkan tubuh, Margareta di perintahkan oleh Wiliam untuk segera keluar dari dalam kamarnya jika sudah selesai memakai baju.
Sementara pria itu sendiri sudah pergi entah kemana.
__ADS_1
Kini Margareta sedang berdiri menatap bayangan nya di cermin. Baju panjang berwarna biru muda terlihat begitu indah saat sedang di kenakannya. Dan juga sangat cocok pada tubuh ramping nya.
Baju itu adalah baju milik Cantika yang masih tersimpan rapi di dalam lemari pakaian milik Wiliam. Pria itu yang memberikan nya secara langsung untuk Margareta.
"*Pakailah baju itu, karena sudah tidak a*da lagi yang akan memakainya." ucap Wiliam pada saat itu.
Sehingga Margareta langsung menerimanya.
Wanita itu keluar dengan ragu-ragu dari dalam kamar Wiliam. Pada saat sudah sampai di lantai dasar, dirinya malah tak sengaja berselisihan dengan salah satu pelayan yang kebetulan sedang lewat.
Pelayan itu terlihat serius sedang memperhatikan penampilan nya.
"Dimana baju pelayan mu? Kenapa kau malah menggunakan baju nona Cantika? Berani sekali kau mencuri barang-barang milik calon istrinya Tuan Wiliam." cemoh pelayan tersebut dengan suara yang lumayan keras.
Tentu Margareta merasa sangat panik karena rekan nya tersebut sudah salah paham kepadanya.
"Aku tidak mencuri barang-barang milik calon istrinya Tuan Wiliam. Tapi tuan lah yang memberikan nya padaku." ungkap Margareta dengan sangat jujur, berharap dapat meluruskan permasalahan ini.
"Kau pikir aku percaya? Aku sudah sejak lama tinggal di Villa ini, jadi aku tau dan mengenal dengan baik siapa itu Tuan Wiliam. Dia tidak akan semudah itu memberikan barang-barang milik orang yang di cintainya kepada seorang pelayan seperti mu." balas pelayan itu yang menolak untuk percaya dengan penjelasan yang di berikan oleh Margareta sebelumnya.
"Tapi aku berkata jujur!" ucap gadis itu masih terus meyakinkan rekan nya tersebut.
"Aku akan melaporkan mu kepada Tuan Wiliam." bentak pelayan itu, namun sebelum dia pergi. Inggrid sudah lebih dulu datang dan bergabung dengan keduanya.
"Kenapa kalian ribut seperti tadi?" tanya Inggrid berbasa-basi, padahal dia sudah tau jelas permasalahan nya. Karena wanita parubaya itu sempat menguping sebelum nya.
"Pelayan Inggrid, dia sudah berani mencuri pakaian milik Nona Cantika.
Dan dia mencoba untuk mengelak, bahwa Tuan Wiliam lah yang sudah memberikan pakaian itu. Apakah Pelayan Inggrid percaya dengan ucapan nya? Sudah jelas-jelas dia berbohong dan mencurinya, tapi masih tidak mau mengaku." sahut pelayan itu mengadukan semuanya.
__ADS_1
"Oh!" Inggrid hanya membalas singkat.
"Tentu saja aku percaya, Tuan Wiliam memberikan pakaian itu pasti karena suatu alasan." sambung nya lagi, sehingga membuat pelayan itu sama sekali tidak mengerti.
Kenapa secara tiba-tiba Inggrid malah membela Margareta? Padahal sudah sangat jelas jika sebelumnya pelayan kepala tersebut begitu membenci gadis itu.
"Apa kau tidak tau jika Nona Cantika pergi ke Jepang untuk bekerja di Negara Impian nya?" tanya Inggrid.
Dan tentu pelayan itu langsung mengangguk. Sementara Margareta memilih untuk menyimak percakapan antara keduanya.
"Setelah nona Cantika pergi, tentu Tuan Wiliam merasa kesepian dan tidak memiliki tempat untuk bercinta. Lalu dia menjadikan pelayan pribadi nya sebagai pelampiasan atas kepergian kekasihnya tersebut." ujar Inggrid yang memang mengetahui secara pasti.
Jika Tuan Wiliam sudah menyentuh Margareta, sehingga membuat gadis itu memakai baju milik Cantika. Karena baju pelayan yang sebelumnya mungkin saja sudah kotor, atau pun robek.
Seketika pelayan itu baru sadar dan tersenyum penuh arti. Karena sangat paham dengan arah pembicaraan nya.
"Oh, pantas saja! Sudah sejak tadi Margareta tidak keluar dari dalam kamar Tuan Wiliam. Ternyata kau di jadikan budak ranjangnya ya?" tanya pelayan itu yang kini bergantian menatap ke arah Margareta yang sedang terlihat kebingungan.
"Kasihan sekali kau! Sudah di jadikan pelayan pribadi, lalu di jadikan pelayan ranjang nya juga. Dasar murahan!" sambung pelayan itu lagi merasa miris dengan kelakuan Margareta.
Padahal yang sebelum-sebelumnya, para pelayan pribadi Tuan Wiliam tidak pernah sudi untuk memberikan tubuhnya kepada Tuan mereka.
"Sudahlah, mungkin dia jatuh cinta kepada Tuan Wiliam sehingga mau memberikan tubuhnya begitu saja. Sebaik nya kau jangan mudah terbawa perasaan, karena Tuan Wiliam hanya menjadikan mu sebagai pelampiasan hasr*t nya saja." ungkap Inggrid yang ikut angkat bicara.
Lalu mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan Margareta yang sedang terdiam dan tak tau harus berbuat apa lagi.
Mereka berbicara semudah itu karena tidak mengalami secara langsung ketika sedang berada di posisinya. Kedengaran nya sangat mustahil, bahwa pelayan-pelayan yang sebelumnya menolak untuk di tiduri oleh Tuan Wiliam. Benarkah begitu? Jika mereka bisa menolaknya, lalu kenapa dia tidak bisa?
Mungkinkah sekarang dia terlihat begitu lemah? Sehingga mudah di manfaatkan oleh siapa pun, termasuk Wiliam.
__ADS_1
Kalau begitu mulai sekarang, maka Margareta akan kembali mencoba untuk berbuat berani dan melawan perintah Wiliam. Jika seandainya pria itu meminta untuk di layani lagi.