Pelayan Milik Tuan Mafia

Pelayan Milik Tuan Mafia
Seperti Bayi


__ADS_3

Wiliam masuk ke dalam ruangan nya, dan tak lama kemudian Alexandro pun menyusul.


"Kau dari mana saja? Kenapa tidak makan siang di Villa? Aku tidak melihat mu di sana, dan para pelayan juga bilang. Bahwa setelah kau mengantarkan ku, kau langsung pergi entah kemana." ucap Wiliam.


"Maaf kan saya tuan, hari ini saya keluar sebentar karena ada urusan." sahut Alexandro, berbicara tanpa menunjukan ekspresi sedikit pun.


"Hm, sepertinya urusan mu itu terlalu pribadi. Baiklah!"


Setelah itu Wiliam memerintahkan Alexandro untuk pergi dan mengantarkan pesan kepada keluarga besarnya di Kota.


Bahwa besok kemungkinan dia akan pulang, dan memantau Rumah Sakit secara langsung. Karena rumah sakit tersebut merupakan harta warisan yang sudah pasti akan menjadi miliknya kelak, setelah kematian sang ayah.


Pada saat itu juga Alexandro lantas langsung pergi dan melaksanakan perintah tuan nya.


Hanya tinggal Wiliam seorang sendiri di dalam ruangan tersebut. Pria itu terlihat sedang termenung, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa aku selalu memikirkan nya? Belakangan ini dia selalu saja membuat ku prustasi dan hampir gila." ungkap Wiliam yang membicarakan tentang Margareta, karena pelayan pribadinya tersebut dapat memancing perhatian nya selama ini.


Belum di ketahui secara pasti apakah Wiliam benar-benar mulai mencintainya. Atau tidak! Karena setiap dia merasakan sebuah perasaan yang berbeda, pria itu akan langsung mengelak dan berpikir. Mana mungkin bahwa dia mencintai wanita tak berguna itu.


Karena menurut versinya, dia hanya mencintai Cantika seorang. Dan akan mencintai wanita itu selamanya.


...****************...


Waktu berlalu dengan sangat cepat.


Dan kini malam pun sudah tiba. Tepat pada pukul 12 malam, Wiliam kembali pulang ke Villa Aruga.


Dia benar-benar merasa sangat marah ketika tidak mendapati adanya keberadaan Margareta di dalam kamarnya. Wiliam langsung membuat kegaduhan dengan membanting seluruh benda kaca yang ada di dalam kamarnya tersebut.


Sehingga menimbulkan suara yang begitu keras. Beruntung karena Inggrid menyadari jika tuan nya sudah pulang, langsung dia pun pergi menuju ke gudang, dan membangunkan Margareta agar segera melihat kondisi Tuan Wiliam.

__ADS_1


"Tuan!" ucap Margareta yang langsung masuk ke dalam kamarnya.


Pria itu lantas mengalihkan pandangan ke arah pelayan pribadinya teraebut dengan tatapan yang sangat kesal. Posisi Wiliam saat ini sedang duduk di pinggir ranjang, karena sudah merasa lelah.


Dia sendiri merasa sangat bodoh karena sudah melakukan hal yang tidak penting. Membuang-buang tenaga hanya karena pelayan nya tersebut tidak berada di dalam kamarnya untuk menyambut kepulangan nya pada malam ini.


Rasanya sangat tidak mungkin, kenapa dia bisa se lebay ini?


"Apa yang tuan lakukan? Tuan menghancurkan seluruh benda ini, apa tuan tau betapa bahaya nya jika sampai serpihan kaca itu mengenai kaki anda." ucap Margareta yang tanpa sadar berbicara dengan nada marah.


Dan juga sekaligus merasa khawatir jika sampai Wiliam kenapa-napa.


Dia pun mulai mengutip satu-persatu pecahan kaca yang sedikit besar, lalu membuang nya ke tempat sampah.


Mendengar jika Margareta malah memarahinya, tentu membuat Wiliam langsung merasa tidak terima.


Pria itu bergegas bangkit, dan menghampiri sang pelayan tersebut.


Margareta di buat terkejut setengah mati, karena Wiliam dengan bodohnya malah berjalan dan menginjak pecahan kaca yang belum sepenuhnya dia bersihkan.


"Sepertinya dia adalah raksasa! Sampai pecahan kaca pun tidak dapat membuatnya merasa kesakitan." gumam Margareta, yang sudah kembali ingin melanjutkan aktivitas nya semula.


Namun baru saja wanita itu hendak berjongkok, namun Wiliam sudah kembali menariknya secara kasar. Membuat posisi keduanya menjadi saling berhadap-hadapan, dan menatap satu sama lain.


"Aku melakukan ini karena mu! Kenapa kau tidak menyambutku pulang malam ini?" tanya Wiliam dengan penuh penekanan.


Bingung? Tentu saja Margareta di buat sangat bingung dengan pertanyaan yang di berikan oleh sang tuan.


"Untuk apa saya menyambut kepulangan anda? Karena anda pulang pada larut malam sekali, saya juga butuh tidur tuan." sahut Margareta yang tidak merasa takut sama sekali dengan tatapan tajam yang di berikan oleh pria itu kepadanya.


Karena memang dia merasa sama sekali tidak salah. Dari awal Inggrid mengatakan jika Margareta harus menunggu kepulangan Tuan Wiliam sampai pukul 10 malam. Jika sudah lewat maka dia bisa kembali ke kamarnya sendiri. Karena kemungkinan setelah lewat pukul 10 malam, Tuan Wiliam tidak akan melakukan aktivitas apapun.

__ADS_1


Sementara kini sudah jam 12 malam, tapi pria itu sangat berisik seperti seorang bayi yang tidak bisa melakukan apapun sendirian.


"Berani sekali kau menjawab! Mulai besok kau harus tinggal di kamarku, dan menyambut kepulangan ku setiap hari. Apa kau dengar?" tanya Wiliam.


Mau tak mau Margareta hanya bisa mengangguk, karena tidak ingin membuat permasalahan nya bertambah runyam.


Dia melihat punggung Wiliam yang secara perlahan menghilang dari balik pintu kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan pecahan kacanya, dia beralih mengambil kotak obat dari dalam lemari pakaian Wiliam.


"Di mana? Dia tidak ada disini." tanya Margareta kepada sang tuan yang saat ini sedang rebahan di atas ranjang.


Karena dari tadi dia belum menemukan keberadaan kotak obat yang sedang di carinya tersebut.


Wiliam langsung menghela nafas dan sudah bersiap ingin turun dari atas tempat tidur. Namun Margareta langsung mencegah aksinya tersebut.


"Sudah..sudah, jangan turun! Aku sudah menemukan nya."


Terpaksa Wiliam harus mengurungkan niatnya, dan memperhatikan Margareta yang sedang berjalan mendekat menuju ke arahnya.


Perempuan itu sudah bersiap ingin mengobati luka pada kedua kaki Wiliam.


"Lukanya sangat parah! Tuan, ku rasa anda harus memanggil Dokter saja. Kemungkinan besar ada banyak kaca kecil yang menusuk kulit anda. Dan tertanam disana." ungkap Margareta yang merasa takut, jika sampai pecahan kaca yang tertinggal dapat menyebabkan tetanus.


"Diam lah! Siapa yang menyuruh mu untuk mengkhawatirkan keadan ku? Aku hanya memerintahmu untuk mengobati luka ku dengan obat yang ada di dalam kotak itu." sahut Wiliam merasa kesal.


Sejak tadi Margareta terlalu banyak berbicara, sehingga membuat kepalanya menjadi sangat pusing. Benarkah jika wanita itu adalah Margareta yang selama ini ia kenal? Karena dulunya Margareta tidak seberani ini untuk berbicara atau menyuarakan pendapat kepadanya.


Wanita itu merupakan gadis yang pendiam, tapi sepertinya sekarang Margareta sudah kembali ke setelan pabrik. Wiliam harus memikirkan kembali caranya agar bisa membuat pelayan pribadinya itu menjadi penurut seperti yang sebelumnya. Jangan sampai Margareta kembali menjadi gadis pembangkang dan berniat ingin membunuhnya lagi.


Mungkinkah Wiliam harus kembali membunuh salah satu pelayan di Villa ini agar membuat Margareta berubah? Tapi tidak akan mungkin, Wiliam tidak ingin rugi sama sekali.

__ADS_1


Pembunuhan yang terjadi kepada Wulan pada saat itu, karena alasan jika Wiliam yang mengira bahwa kekasih Alexandro tersebut adalah seorang penguntit.


Jadi mana mungkin dia mau membunuh seorang pelayan lain hanya demi membuat Margareta berubah menjadi penurut. Wiliam sudah memikirkan cara, jika seandainya gadis itu berniat ingin membunuhnya kembali. Maka Margareta lah yang akan dia bunuh terlebih dahulu.


__ADS_2