
Riuh suara dalam ruang IGD langsung terdengar saat Anna memaasuki ruangan itu. Melihat Anna datang dengan terburu-buru suster Mery menghampirinya. "Dokter, jadwal operasi mu sudah ditetapkan jam sembilan malam ini. Ada dua pasien yang dijadwalkan untuk operasi. Masih ada waktu satu jam untuk persiapan. Apa ada yang perlu aku siapkan untukmu selain ruang operasi dokter?" kata suster Mery. "Tidak perlu aku hanya akan mengambil secangkir kopi untukku. Oh iya, siapa saja yang melakukan operasi bersamaku?" tanya Anna. "Suster Sonya, dokter Sebastian dan dokter Eric sebagai asisten mu. " jawab suster Mery. "dokter Eric? Apa dia dokter baru? " tanya Anna. "Ya. Dia putra direktur yang baru datang dari USA. " Jawab suster Mery. "Oh begitu.. baiklah, aku akan istirahat sebentar di ruanganku." kata Anna.
Anna duduk bersender di kursinya. Ia mulai meregangkan tubuhnya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangannya.
tok tok tok...
"Masuklah" kata Anna. Seketika ia sumringah melihat bahwa yang datang adalah Jason. "Jason?! Kamu..?! Ada apa kamu kemari?" tanya Anna bingung. Karena baru saja Jason mengantarnya ke rumah sakit setelah perjalanan dari Parta. "Aku membawakan makanan untukmu, aku tau kamu lapar. Kita bahkan tidak sempat makan malam tadi. Ini makanlah! Aku rasa ini masih sempatkan. Tadi suster Mery mengatakan bahwa operasi akan dilakukan jam sembilan. Masih ada setengah jam lagi ayo makanlah! " kata Jason sambil membukakan kotak makanan yang dibawanya. "baiklah.. hm, apa ini? Wow steak??" tanya Anna sambil melihat ke arah Jason. "yah.. makanlah! Lain kali aku akan mengajakmu untuk makan steak di restoran. Sekarang kamu makan di sini dulu. Cepatlah makan! " kata Jason. Anna pun menurutinya. Iya memakan steak itu dengan lahap. Sementara itu Jason menemaninya hingga tertidur. Anna memakan makanannya dengan lahap. Setelah selesai makan barulah ia menyadari bahwa Jason tertidur.
"Dokter Anna sudah waktunya untuk...!!!" suster Mery menghentikan ucapannya
__ADS_1
ketika melihat Anna meletakkan jari telunjuk dibibirnya. Anna menyuruhnya tidak melanjutkan bicaranya. Melihat Jason yang sedang tidur suster Mery pun mengerti qmengapa dokter cantik itu seperti itu. " Baiklah, aku akan segera ke ruang operasi. " bisik Anna. Suster Mery pun pergi meninggalkan ruang kerja Anna.
Anna mengambil sebuah selimut dari lemari dan menyelimuti tubuh Jason. Ia tidak tega membangunkannya. Gadis itu kemudian pergi ke ruang operasi. "Apa semuaa lu sudah disiapkan? " tanya Anna pada tim operasinya. "Sudah dokter." jawab suster Sonya. "Baiklah, antarkan pasiennya kesini sekarang. " kata Anna.
"Halo dokter Anna, perkenalkan nama ku Eric. Aku yang akan menjadi asisten mu hari ini." kata dokter Eric sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Ah Halo. Aku Anna." jawab Anna seraya menjabat tangan Eric kemudian pergi membersihkan tangannya. Merekapun menyelesaikan operasi dengan sukses.
Anna bergegas kembali ke ruangannya. Sesampainya di sana tampak Jason masih terlelap dalam tidurnya. Anna membereskan barang-barangnya kemudian membangunkan pria tampan itu. "Jason.. Jason.. " panggil Anna sambil menggoyang tubuh Jason. Jason mulai bangun dan membuka matanya. "Hah, maaf aku tertidur An. Kamu urus saja operasimu aku akan menunggumu. " kata Jason sambil mengusap matanya. "Tidak perlu, operasi sudah selesai. Mari kita pulang!" ajak Anna. "Benarkah? Apa aku tertidur selama itu?" Kata Jason heran. "Ya.. kamu hampir menginap di ruang kerja ku. " Jawab Anna dengan nada mengejek. "Huh.. Ayo aku antar kamu pulang. " kata Jason.
"Bagaimana operasi mu? Apa itu berjalan lancar tadi? " tanya Jason sambil melajukan mobilnya. "Ya itu sangat baik tadi. Ada dokter hebat yang menjadi asisten ku. Pindahan dari rumah sakit ternama di USA. " jawab Anna. "Syukurlah.. " ucap Jason. Mereka pun sampai di rumah Anna. "baiklah, apa kamu mau masuk dulu? " tanya Anna. "tidak, aku langsung pulang saja. Ini juga sudah malam. Aku harus menyiapkan pengunduran diri untuk besobesok" jawab Jason. "ok. kalau begitu aku masuk dulu. " pamit Anna. Ia pun turun dari mobil dan melambaikan tangannya dengan senyum tipis di wajahnya. Jason pun berlalu.
__ADS_1
***
Matanya terus menatap selembar surat yangbsedari tadi di pegangnya. Jason masih diam terpaku dalam mobilnya. Sungguh berat baginya meninggalkan kepolisian yang merupakan cita-citanya sejak kecil.
huuuuuuuuh... ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya sekali. Setelah itu barulah ia turun dari mobilnya. Saat itu suasana kantor polisi sangat ramai. Ada kasus perkelahian antar geng. Sepanjang perjalanan menuju divisi Narkotika ia melihat sekeliling. Ia sadar bahwa suasana itu pasti akan ia rindukan.
tok. tok.. tok..
Jason mengetuk pintu kepala divisi Narkotika pak Nando. Terdengar suara seraknya menjawab dari dalam "Masuklah Jason! ". " Pak, saya datang ingin menyerahkan surat ini. " kata Jason sambil menyerahkan surat pengunduran dirinya. "Apa ini? " tanya Pak Nando. "ini surat pengunduran diri saya pak" jawab Jason. "Kamu duduklah dulu, apa masalahmu? Jelaskan kepada ku. kalau kamu masih berduka kamu masih bisa mengambil cuti beberapa hari. " kata pak Nando. "Bukan seperti itu pak, saya sudah tidak bisa bekerja di kepolisian lagi karena harus menjalankan perusahaan ayah saya. Sungguh saya tidak ingin meninggalkan kepolisian. Namun ini adalah wasiat terakhir ayah saya bahwasanya saya harus menggantikan beliau saat dia tiada. " jelas Jason.
__ADS_1
"Sayang sekali Jason, aku harus kehilangan pasukan berharga seperti dirimu. Kamu adalah salah satu orang kepercayaan yang paling bisa ku andalkan di tim kita. Tidak bisakah kamu pikirkan lagi? " bujuk pak Nando. "Maafkan saya pak. Percayalah ini juga sangat sulit untuk saya. Tapi sungguh saya tipunya pilihan lain. Banyak orang menggantungkan harapan pada saya di perusahaan sekarang. Saya harap bapak bisa mengerti. " terang Jason lagi. "baiklah.. walaupun berat aku harus menerima alasanmu. Kapan pun kamu ingin kembali kembalilah! " kata tuan Nando mencoba menerima pengunduran diri Jason. "terima kasih kalau begitu saya permisi dulu" kata Jason seraya meninggalkan ruangan pak Nando.
bersambung....