
Suasana meja makan berubah menjadi hening. Anya tengah bersiap mendengarkan cerita kakak perempuan nya itu. Sejak semalam ia terus bertanya-tanya apa yang membuat kakaknya sampai sesedih itu. Dengan pandangan teduh ia menghampiri kakaknya dan menggenggam tangannya.
"Ceritakanlah kak, apa yang membuatmu menjadi sesedih ini. Aku merasa melihat dirimu 3 tahun lalu saat ibu meninggalkan kita. Kamu bahkan lebih tegar dari ini. Sebenarnya aku sangat khawatir melihat kondisimu semalam. Sekarang ceritakanlah padaku! Apa sebenarnya alasan kakak menangis semalaman?!" kata Anya sambil duduk di hadapan Anna dan terus menggenggam tangan kakaknya.
"Begini Anya, sebenarnya aku sekarang memiliki seorang kekasih. Ia seorang presdir perusahaan ternama. Namanya Jason, untuk sementara ia menetap di kota Parta. Ia seorang dengan kepribadian yang sangat baik. Ia sangat sering membantuku menyelesaikan hampir setiap masalah yang aku hadapi termasuk masalah dengan Leo. Kami berdua saling mencintai dan saling percaya. Sampai pada saat kemarin malam aku menemani Eric menghadiri sebuah pesta ulang tahun presdir grup Lho, aku melihat Jason berpasangan dengan putri presdir itu. Saat pertama kali melihat itu aku langsung merasa kecewa dan berpikir bahwa Jason telah menghianati ku. Seketika ku tinggalkan pesta itu dan Jason pun mengejarku untuk menjelaskan. Ia menjelaskan bahwa tidak ada hubungan apa-apa antara dirinya dan wanita itu. Ia hanya memenuhi permintaan presdir Marco untuk menjadi pasangan anaknya di acara itu sebagai syarat kerja sama. Aku masih gusar, tapi itu sedikit meredakan amarahku. Namun yang membuatku kembali meragukan Jason adalah wanita itu datang dengan penjelasan berbeda. Ia mengatakan bahwa ia dan Jason adalah sepasang kekasih di masa lalu dan sampai sekarang masih saling mencintai. Mendengar pernyataan wanita itu hatiku kembali meragukan kesetiaan Jason. Aku merasa Jason hanya menipuku." Jelas Anna sambil kembali air matanya membasahi pipinya.
Anya yang melihat kakaknya menangis langsung menenangkannya. Ia memeluk Anna dan menepuk-nepuk punggungnya.
" Sudahlah kak. Jangan menangis lagi. Di sini ada aku. Menurut ku kakak seharusnya tidak langsung berpikiran buruk terhadap kak Jason dan mempercayai wanita itu. Bisa saja apa yang dijelaskan wanita itu tidak semuanya benar. Kalau kak Jason tidak mencintai kakak, ia tidak akan mengejar kakak dan memberikan penjelasan. Dengan kak Jason memperjuangkan kepercayaan kakak padanya, menurut ku kak Jason sangat mencintai kakak. Ia juga memberikan ruang untuk kakak menenangkan diri tanpa memaksakan egonya. Itu berarti ia sangat mementingkan perasaan kakak. Setelah kakak tenang sebaiknya kakak dengarkan lagi penjelasannya. Mungkin sekarang dia lebih rapuh dari kakak. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari keputusasaan karena tak ada yang mempercayai kita. Aku berharap kakak akan lebih bijaksana. Nilailah Juga dari sudut pandang kak Jason. Yah?! " Anya berubah menjadi pribadi yang sangat dewasa.
Eric yang melihat kedewasaan Anya merasa kagum pada gadis itu. Ia sangat berbeda dengan Anya yang ditemuinya beberapa menit yang lalu.
"Kamu benar Anya. Seharusnya aku memikirkan juga bagaimana perasaan Jason atas perlakuanku. Dia pasti menderita dengan ketidakpercayaan ku. Aku sangat egois. " kata Anna sambil melepaskan pelukannya pada Anya.
"Kalau kalian sudah selesai, bisakah kita pergi sekarang? Aku rasa kita sudah terlambat An. " sela dokter Eric.
"Baiklah. Anya kami pergi dulu. Kalau kamu butuh sesuatu hubungi saja aku ya. " kata Anna.
"Sampai jumpa Anya. Terima kasih atas sarapannya. " kata dokter Eric sambil melambaikan tangannya dan melemparkan senyuman pada Anya.
"Hati-hati lah kalian berdua..! " jawab Anya sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Anna masih saja irit bicara. Dia hanya mengucapkan kata terima kasih saat turun dari mobil. Selebihnya tak sepatah katapun diucapkannya. Para karyawan rumah sakit pun bertanya-tanya ada apa dengan Anna. Mengapa gadis itu terlihat tak bersemangat. Mereka saling melempar kode dan berakhir pada dokter Eric. Dokter Eric pun hanya menggelengkan kepalanya.
***
Jason sangat giat bekerja. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan menyusul Anna. Satu demi satu pekerjaan diselesaikannya. Hingga waktu rapat dengan tuan Marco tiba. Mereka berdiskusi serius tentang pekerjaan. Setelah selesai Jason menyampaikan bahwa apa yang ia rasakan terhadap Julie adalah sebatas teman saja.
"Presdir Marco,boleh kah kalau aku ingin berterus terang padamu tentang perasaan ku pada putrimu Julie..? " tanya Jason.
"tentu saja Jason. Silahkan aku akan mendengarkan mu. "Jawab presdir Marco.
" Sebelumnya aku minta maaf untuk ini, mungkin ini akan membuat hatimu tidak senang, tapi sudah seharusnya ini ku katakan padamu. Memang benar, dulu aku sangat mencintai putrimu Julie. Namun perasaan ku itu sudah tidak ada lagi. Rasa cinta untuknya hilang setelah setahun kepergiannya ke luar negeri. Saat ini ada wanita lain yang sangat aku cintai dan wanita itu bukan Julie. Aku rasa presdir Marco bisa mengerti apa yang aku katakan. Aku berharap presdir Marco berhenti untuk mengharapkan aku menjadi menanti mu karena di hatiku sudah ada wanita lain. Itu saja yang ingin aku sampaikan. Aku harap presdir bisa mengerti. " kata Jason.
" Ayah.. apa aku terlambat? " tanya Julie yang baru saja tiba.
"Kalau begitu aku permisi dulu presdir Marco. Terima kasih atas pengertian mu." kata Jason sambil menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan restauran itu.
"Hei Jason!! kamu mau kemana, aku kan baru datang. ? " tanya Julie.
"Aku sudah selesai berbicara dengan ayah mu. Sekarang aku ada urusan penting. " kata Jason tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Ayah?!! mengapa ayah diam saja? cepat hentikan dia ayah!!" seru Julie pada ayahnya.
__ADS_1
"Tenanglah putriku.. Apa kamu tidak malu menjadi pusat perhatian orang? " kata presdir Marco dengan wajah kemerahan menahan emosi nya pada Julie.
"Tapi ayah. Seharusnya ayah mengikatnya sekarang. Mengapa ayah membiarkannya pergi? " tanya Julie bingung.
"Julie putri ayah. Sekarang duduklah dan dengar kan baik-baik apa yang akan ayah katakan! Jason, sudah memiliki orang yang dia cintai sekarang. Kesalahan mu lah yang membuatnya pindah ke lain hati. Kita tidak dapat memaksakan kehendak kita padanya sekarang." kata presdir Marco mencoba memberi penjelasan pada putri tunggalnya itu.
"Tapi ayah, aku merasa dipermalukan kalau seperti ini jadinya!" kata Julie kesal.
"Bersabarlah Julie. masih banyak pria hebat yang akan ayah kenalkan padamu. Ayah akan pilihkan yang terbaik untuk mu. " kata presdir Marco.
"Tidak ayah!!! yang aku inginkan hanyalah Jason ayah?! " rengek Julie.
"Tapi bukankah kamu sudah tahu bahwa dia sudah tidak lagi mencintaimu. Bagaimana cara kita untuk memaksanya?!! Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri jika kamu seperti ini terus! " kata presdir Marco dengan mata yang penuh amarah.
"Kalau begitu, aku akan berusaha sendiri. Aku tidak butuh bantuan ayah lagi." kata Julie sambil pergi meninggalkan ayahnya.
"Terserah padamu. Tapi jangan sampai kamu yang akan terluka nantinya. " kata presdir Marco seraya menghembuskan nafas panjang.
***
Bersambung...
__ADS_1