
Anna terus saja menutup matanya.. sepanjang jalan ia tak berbicara sepatah katapun. Dokter Eric yang tidak tahu apa yang harus dilakukan hanya bisa membawa Anna pulang saat itu juga. Ia merasa khawatir tapi tidak ada keberanian untuk mengusik gadis yang sedang bersedih itu. Setelah berjam-jam sampailah mereka di rumah Anna. Hari menunjukkan pukul 2 sini hari. Anna turun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia membuka pintu rumahnya dan masuk begitu saja. Ia tidak lagi peduli dengan keadaan sekitar termasuk dengan dokter Eric. Pria itu pun memaklumi hal itu. Ia hanya memperhatikan Anna sampai Anna benar-benar masuk ke dalam rumahnya.
"Kakak!! Apa yang terjadi sehingga kamu pulang ditengah malam seperti ini?" terdengar suara seorang gadis dari pintu kamar.
"Anya?? Apa yang kamu lakukan di rumahku? kapan kamu datang kemari?" tanya Anna.
Ternyata gadis itu adalah adiknya yang baru saja datang dari colombia. Anya berusia lebih muda 3 tahun di banding Anna. Ia adik kandung Anna satu-satunya. Hanya Anyalah keluarga Anna yang tersisa saat ini.
"Aku baru datang sore ini. Aku mencoba menghubungi kakak, entah kenapa ponsel kakak tidak bisa tersambung..? " Kata Anya.
"Kalau begitu kamu tidurlah lagi. Aku akan masuk sebentar lagi." Kata Anna sambil menyandarkan tubuhnua di sofa.
"Ada apa dengan mu kakak? Mengapa kamu terlihat menyedihkan seperti ini? " tanya Anya penasaran melihat keadaan kakaknya yang terlihat kacau dengan make up berantakan karena air mata.
"Aku tidak apa-apa. kamu tidurlah..! " kata Anna tanpa membuka matanya.
"Apa benar tidak ada apa-apa? Kakak bisa menceritakannya padaku apapun itu?!" kata Anya sambil berjalan kemudian duduk di samping kakaknya.
"Untuk saat ini aku hanya ingin seorang diri dulu. Mungkin besok baru aku bisa menceritakannya padamu. Kamu tidurlah dulu.. " Anna tetap tak mau menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Jason pada adiknya.
"Baiklah kak, aku tidur duluan ya. Kalau kakak sudah cukup memenangkan diri segeralah kakak masuk..! " kata Anya sambil menepuk lengan kakaknya. Kemudian ia pergi ke kamarnya.
Anna masih memejamkan kedua matanya namun hatinya terus saja berbicara. "Mengapa ia tak bisa mempercayai Jason saja? Siapa yang harus ia percaya?" namun ia tak bisa menemukan jawabannya, hingga ia tertidur di sofa itu.
__ADS_1
***
Pagi ini matahari belum juga menampakkan wajahnya. Langit terlihat gelap tanda hujan akan segera turun. Jason berjalan pelan menuju mobilnya, namun belum sampai mobilnya hujan telah turun dan membuatnya basah kuyup. Alih-alih berlari menghindari hujan, pria itu malah menutup matanya dan menengadah kan wajahnya. Ia masih saja tidak bisa berpikir dengan tenang sejak kejadian semalam. Jason sama sekali tidak bisa menghubungi Anna karena gadis itu mematikan ponselnya. Ia sangat bingung dan khawatir namun ia tidak tahu harus berbuat apa. Sampai seketika ia sadar air hujan tak lagi menyentuhnya. Jason segera membuka matanya. Terpampang jelas ada sebuah payung hitam yang menaunginya. Ternyata tuan Feng Lah yang mengangkat payung itu agar Jason tidak lagi terkena hujan. Jason perlahan menatap tuan Feng dan mengambil payung itu. Ia berjalan kembali ke dalam rumah untuk mengganti pakaian tanpa mengucapkan satu kata pun pada tuan Feng. Tak lama ia kembali dengan setelan yang baru dan membawa serta payungnya. Jason langsung masuk ke mobilnya. Ia di dampingi tuan Feng dan seorang supirnya.
"Tuan Jason, saya akan membacakan jadwal tuan hari ini. Jam 10 pagi meeting dengan tuan Sandi. Jam 2 siang meeting dengan Nyonya Diana dan jam 8 malam meeting dengan presdir Marco. " Jelas tuan Feng.
"Baiklah.. aku mengerti. Kita ke kantor saja dulu, banyak hal yang ingin aku pastikan di kantor. " kata Jason sambil memijat pelan kepalanya.
"Tapi tuan Jason, sepertinya tuan kurang sehat hari ini. Apa mau kita cansel saja janji meeting dengan kolega hari ini? " tanya tuan Feng.
"Tidak perlu. Aku akan segera menyelesaikan semua pekerjaan ku dan kembali bersama dengan Anna. " kata Jason.
***
Dokter Eric berdiri di dekat pintu rumah Anna. Ia menunggu gadis itu keluar. Ia cukup khawatir tentang keadaan Anna. Tak lama terdengar suara pintu terbuka dan sesegera mungkin dokter Eric melompat ke depan pintu. Namun pada saat itu Anya lah yang membukanya.
"Seharusnya aku yang bertanya kepada mu. kamu siapa? Apa yang kamu lakukan di sini? " tanya Anya.
"Aku Eric rekan kerja Anna. Apa Anna ada di rumah? " tanya Eric.
"Oh seperti itu.. Aku Anya, adik satu-satunya kak Anna. Sekarang kak Anna masih siap-siap, kami juga belum sarapan. Kalau begitu masuklah, sarapan bersama kami saja. " ajak Anya..
"Apa tidak merepotkan?" kata Eric.
__ADS_1
"Tidak sama sekali. Aku akan senang, semakin banyak orang makan ku akan semakin lahap." kata Anya dengan wajah cerianya.
Anya adalah seorang gadis yang ceria dan energik. Berbeda dengan Anna yang cantik dan bergaya elegan. Anya lebih bergaya seperti gadis belia walaupun dirinya sudah menyelesaikan kuliahnya. Ia gadis yang sangat ceria.
Dokter Eric dan Anya telah duduk lebih dulu di meja makan. Tak lama Anna menyusul mereka untuk sarapan. Anna sedikit terkejut menyadari keberadaan Eric yang tengah disiapkan sarapannya oleh Anya.
"Eric? kamu di sini? kapan datangnya?" tanya Anna.
"Baru saja An. Anya yang membukakan pintu dan mengajakku untuk masuk sarapan. Apa tidak apa-apa? " tanya dokter Eric.
"Tidak apa-apa Eric. Kamu boleh sarapan bersama kami. Silahkan Eric jangan sungkan?!" kata Anna yang kemudian ikut duduk di meja makan.
"Sebenarnya aku ke sini karena ingin mengetahui kabarmu. Karena ponselmu terus saja mati, ku putuskan untuk langsung saja ke sini melihat mu. Bagaimana perasaan mu sekarang?" tanya dokter Eric.
"Aku sudah baikan sekarang. Terima kasih sudah mau mengantarkan aku pulang. Oh ya, maafkan aku Eric. Karena harus mengantar aku malah kamu meninggalkan pesta dan pulang larut malam.Harusnya kita baru akan kembali hari ini. Sungguh aku minta maaf." Kata Anna sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa An. Akulah yang membawa mu ke sana sehingga kamu harus melihat hal yang tidak menyenangkan. Maka sudah kewajiban ku untuk mengantarkan kamu." kata Dokter Eric.
"Tunggu dulu. Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi semalam? apa yang membuat kak Anna seperti semalam? Apa kalian bisa menceritakannya padaku?" tanya Anya.
"Apa kamu belum menceritakannya pada adikmu An?" tanya Dokter Eric.
Anna menghela nafas panjang. Ia merasa harus menceritakannya pada Anya.
__ADS_1
***
Bersambung...