
Hari ini Fii tidak datang ke sekolah. Kemungkinan besar dia ikut melihat atau menyelenggarakan jenazah temannya itu.
(Di pemakaman keluarga putri dan serly.)
Putri dan Serly di makam kan secara berdampingan. Karna mereka adalah satu keluarga. Kakek putri dan kakek Serly bersaudara. Jadi mereka berdua masih ada talian darah. Walaupun itu tidak cukup kuat.
"Put, ser, kenapa kalian bisa selengah ini. Kenapa?" rutuk Fii.
Setelah kedua mayat itu di makam kan, seluruh keluarga sudah pulang. Hanya tersisa, Fii, putra,Riski,Bima dan Riko.
Keluarga putri dan Serly tau kalau selama ini mereka berlima lah sahabat sejati anak-anak nya. Jadi mereka tidak mencurigai kalau mereka masih meratap di sana.
"Fii, Sekarang kita harus lebih waspada lagi" ucap Riko.
"Iya benar. Di antara kita berlima jangan ada lagi yang menjadi korban nya" ujar Bima.
"Apakah kita harus minta maaf sama roh Lia, biar kita tidak di terornya lagi?" Tanya putra yang sedikit ketakutan.
"Jangan bodoh. Selama kita memakai jimad ini, dia tidak akan bisa menghampiri kita maupun mengganggu kita. Maka nya, kita tidak boleh lengah sedetik pun" kali ini Fii yang angkat bicara.
"Put, ser kami pamit dulu ya. Maaf kami tidak bisa menjaga kalian dengan baik" Fii meneteskan air matanya.
"Untuk kamu put aku sangat menyayangimu sayang. Semoga kamu bisa tenang di alam sana. Semoga dosa-dosa kita di ampuni" bisik Fii lirih.
Sepulang dari pemakaman, mereka berlima pulang ke rumah masing-masing untuk menenangkan diri.
__ADS_1
***
Dua bulan telah berlalu, hari ini adalah penentuan kelulusan untuk Alfi. Dengan rasa yang bercampur aduk, Alfi menerima selembar amplop putih.
"Selamat anda lulus" satu baris tulisan yang mampu membuat Alfi melompat kegirangan.
"Alhamdulillah, akhirnya lulus juga." Ucap Alfi.
"Otw jadi pengangguran" ujar Tasya.
Orang-orang yang mendengar kan penuturan Tasya, malah tertawa terbahak-bahak.
Di sudut ruangan, Lia sedang asyik duduk dengan menjuntai kan kakinya ke lantai.
"Lu kenapa?" Bisik Alfi.
"Tapi semua sudah sirna Al. Bahkan impian ku ikut terkubur bersama jasad yang di timbun." Sambung Lia.
"Andai saja waktu bisa aku putar kembali. Sudah pasti aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Namun semuanya sangat mustahil untuk terjadi" Lia menatap ke arah Fii yang tertunduk.
"Dia yang telah menghancurkan segalanya" lirih Lia mengudara. Kobaran dendam kembali menyelimuti hati Lia.
"Sudah Lia. Semua adalah takdir. Dulu kamu sebagai manusia hanya bertugas menjalani nya saja. Sekarang tugas mu adalah mengikhlaskan semuanya Lia. Kembali lah ke alam mu dan istirahat lah dengan tenang." Nasehat Alfi.
"Tidak Al, bahkan kamu saja tahu. Kalau orang yang mati bunuh diri, dia tidak akan di terima di syurga. Maka aku akan membawa para bajingan itu bersama ku. Aku akan membawanya ke neraka bersama ku, hahahaha" lai tertawa dengan khas.
__ADS_1
Alfi menggeleng kan kepala tidak percaya. Entah bagaimana lagi cara Alfi, agar bisa menyadarkan Lia. Setelah kematian putri dan Serly, Alfi sudah tidak mau lagi menolong Lia untuk membalas kan dendam. Karna Alfi merasa berdosa telah membantu Lia. Seburuk apa pun orang itu, tidak lah pantas bagi kita untuk merenggut kehidupan nya secara paksa.
Tapi Lia tidak marah sedikitpun kepada Alfi. Malah Lia sangat berterima kasih, karna Alfi sudah mau menjadi teman nya selama ini. Tapi yang namanya dendam akan tetap membara di hati Lia. Sampai semua nya tuntas seorang Lia tidak akan pernah berhenti.
"Aku mau pulang, kamu mau ikut?" Tanya Alfi Kepada Lia.
"Nanti aku nyusul Al" Lia menghilang.
Di parkiran Alfi melihat Fii yang sedang mengeluarkan motornya. Ingin rasanya Alfi mendatangi Fii dan memberi nasehat kepada Fii. Namun rasa nya sangat mustahil. Karna Fii sudah tidak lagi terbuka untuk kebenaran. Mata dan hatinya telah di gelapkan oleh ketakutan, sehingga hanya Allah lah yang mampu memberikan hidayah nya.
Sesampainya di rumah. Alfi memeluk sang emak.
"Alhamdulillah, aku lulus Mak" ujar Alfi.
"Alhamdulillah nak. Jadi bagaimana kelanjutan nya?" Tanya Wati serius.
"Apakah kamu tidak ingin kuliah?" Sambung Wati lagi.
"Al bingung Mak. Al cemas kita tidak mampu untuk membayar semua biaya perkuliahan. Al takut nanti kecewa, karna berhenti di pertengahan." Alfi mengeluarkan ketakutan nya.
"Jangan pernah takut pit. Semua sudah di atur oleh Allah. Setiap manusia itu punya Rezki nya masing-masing. Jadi jangan pernah menakuti apa yang belum terjadi. Yang penting kita selalu berusaha, berdoa dan hasil akhir nya kita serahkan kepada yang Maha Kuasa" nasehat Wati.
Tapi nanti kalau Al kuliah, emak akan tinggal sendiri disini, Al pasti tidak akan Tenang kalau berjauhan dengan emak" ujar Alfi sedih.
"Kamu tidak usah memikirkan emak. Kalau kamu sukses nanti emak lah orang nomor satu yang akan bangga pit. Dan ingat kamu harus pandai menjaga diri kamu sendiri. Jangan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Dan jangan pernah terpengaruh oleh teman. Karna seburuk-buruk nya orang adalah musuh yang menyamar menjadi teman." tutur Wati memberikan pencerahan.
__ADS_1
"iya mak Al mengerti. Al akan fikirkan kembali perkataan emak. Doa kan Al agar bisa mengambil keputusan yang tepat. Dan Al bisa memberikan kebanggaan untuk emak di kemudian hari." Alfi memeluk sang ibu.