Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
liburan 1


__ADS_3

Alfi terbangun ketika pagi menjelang. Dengan mata yang masih mengerjab-ngerjab Alfi merasakan sesuatu yang beda di bawah kepalanya.


Alfi memegang sesuatu yang aneh itu, dan ternyata tangan Rendi yang masih di jadikan Alfi sebagai bantal.


'sejak kapan aku tidur sama nih orang?' batin Alfi.


Dengan sedikit gerakan yang lembut Alfi melihat ke arah dalam selimut. Dan ternyata Alfi masih menggunakan pakaian seperti tadi malam.


"Syukur lah, gue masih per*wan" gumam Alfi lirih.


"Ya masih lah. Orang kita nggak ngapa-ngapain kok" bisik Rendi yang mampu membuat Alfi malu. Rendi mengeratkan pelukannya dan membawa kepala Alfi tepat di dadanya.


"Seperti ini sangat nyaman Al." Bisik Rendi. Alfi hanya terdiam dan membalas pelukan Rendi.


"Lia_ eh Ratna aman-aman saja kan?" Tanya Alfi dengan suara serak khas bangun tidur.


"Aman, lu tenang saja. Kami berdua tidak jahat dan bejat seperti kebanyakan laki-laki yang lain kok. Eh tadi kamu kok menyebut nama Lia?" Tanya Rendi heran.


"Hmm nggak tau ren. Entah kenapa tiba-tiba aku inget sama Lia. Mungkin aku rindu kali sama dia." alasan Alfi.


"Oh begitu rupanya." Respon Rendi.


"Gue mau ke kamar mandi ren." Izin Alfi agar Rendi melepaskan pelukannya.


"Jadi?" Tanya Rendi.


"Ya lu lepasin dong tangan lu ini" tutur Alfi.


"Jangan Al. Disini saja, aku lagi nyaman soalnya" tolak Rendi.


"Ye orang mau buang air kecil juga" protes Alfi.


"Udah kencing disini saja Al. Aku mau tidur lagi soalnya" Rendi menghirup aroma rambut Alfi yang sangat wangi.


"Ayo lah ren. Kebelet ini. Masak gue kencing di tempat tidur, emang gue anak kecil apa?" ujar Alfi memohon. Namun Rendi tak memberi respon.


Lia yang pura-pura tidur langsun bangun dari tidurnya. Dan sedikit berteriak.


"Aaaaaaarrggghhh" teriak Lia.


Rendi, Alfi, dan Rizal langsung melompat dari tempat tidur nya. Kepala yang masih oyong membuat Rizal terjatuh dan terduduk di atas lantai.


"Kenapa rat?" Tanya Rendi dengan mengusap-usap matanya.


"Hehe nggak kenapa-napa." Jawab Ratna enteng.

__ADS_1


"Jadi kenapa lu teriak-teriak?" Tanya Alfi yang duduk di atas bed.


"Habisnya kalian tidur peluk-pelukan begitu. Aku kan jadi kaget, sejak kapan kalian tukar posisi?" Tanya Lia mengintimidasi.


"Sorry rat. Lagian kami nggak ngapa-ngapain kok. Lu lihat saja baju kami masih utuh dan nih tempat tidur juga tidak ada noda setetes pun" Rendi menunjuk ke arah bed miliknya.


"Haha, iya gue percaya kok. Lagian mana mungkin Alfi mau lakuin hal yang buruk seperti itu. Sebenarnya aku cuma bantuin Al kok. Dia kan kebelet pipis dan kamu tidak mau melepaskan nya ren. Makanya aku teriak-teriak" ujar Lia jujur. Alfi yang teringat keinginan nya membuang hajat langsung berlari dan masuk ke dalam toilet lalu mengunci nya dari dalam.


"Makasi rat" teriak Alfi dari dalam toilet.


"B*ngsa* lu rat. Lu nguping pembicaraan kami ya?" Tanya Rendi tak enak hati.


"Heh kok sewot kamu ren. Ya jelas-jelas aku dengar, bed kita saja hanya berjarak dua langkah doang" jelas Lia sambil senyam-senyum.


"Zal, lu ngapain di bawah?" Tanya Rendi mengalihkan topik pembicaraan.


Jantung gue lemah ren. Apalagi dengar perempuan teriak-teriak" jawab Rizal yang masih tertunduk.


"Hehe, sorry zal. Aku nggak tahu" ujar Lia merasa bersalah.


"Ayo aku bantuin duduk di atas" Lia membantu Rizal untuk kembali ke atas tempat tidur.


Sentuhan tangan Lia yang berada di pinggang rizal membuat Rizal salting. Begitupun sebaliknya. Lia merasa kan jantung nya berdegub dengan kencang. Beda dengan Rizal yang tidak merasa kan detak jantung Lia berdetak.


'lah kok dia biasa-biasa saja berdekatan sama gue. Jantung gue mau copot eh jantung dia malah nggak ada respon' batin Rizal heran.


"Ah lega" ujar Alfi yang keluar dari kamar mandi. Rizal dan Lia saling melepas kan pegangan tangan mereka. Alfi berjalan mendekati bed milik Lia.


"Haaaa, mau kemana lagi lu Al? Sini?" Rendi menyeret Alfi dan kembali memeluknya.


"Apaan sih ren. Malu tau dilihatin mereka" protes Alfi.


"Hehe, gue cuma bercanda kok." Rendi melonggar kan pelukannya.


"Ren lu udah pesan sarapan belum? Gue lapar nih" ujar Rizal yang sudah tenang.


" Bentar ya, biar gue pesan dulu ke bawah. Al temani gue yuk?" Ajak Rendi.


"Lah gue capek ren. Lu aja sendiri ya" tolak Alfi malas.


" Ya sudah. Kalian tunggu disini, jangan kemana-mana" Rendi keluar dari penginapan.


"Dan jangan dekat-dekat sama si Rizal" Rendi berbalik dan menatap Alfi tajam. Alfi hanya menatap Rendi heran.


"Kesambet apa sih tu bocah. Kok semakin aneh begini?" Tanya Lia.

__ADS_1


"Gue juga nggak tau" jawab Alfi cengingisan.


Setelah Rendi kembali, beberapa menit kemudian sarapan pun ikut datang.


"Kalian duluan sarapan nya. Gue mau cuci muka dulu" Rendi beralih ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Habis ini kita mau kemana?" Tanya Rizal di sela sarapan.


"Gue mau naik paralayang. Sudah lama gue tidak menantang adrenalin"  ujar Rendi.


"Gue juga mau" sahut Alfi.


"Lu berani nggak Rat" tanya Alfi.


"Hehe aku nggak ikut deh. Nanti aku tungguin di bawah saja" jawab Ratna.


"Hantu kok takut ketinggian" bisik Alfi di telinga Ratna.


"Sssttttt diam kamu Al" tegur Lia.


"Bagaimana? Kalau nggak gini deh. Al sama gue, dan lu rat sama si Rizal" usul rendi.


"Boleh juga, gue setuju" jawab Rizal.


"Gue sama Rizal saja rat, lu sama si Rendi" sanggah Alfi. Mata Rendi melorot ke arah Alfi.


"Cari gara-gara nih anak" gumam Rizal.


"Hehe ampun Bg jago" ujar Alfi menoel pipi Rendi.


"Awas lu ya Al. Gue ikat baru tau rasa lu" ancam Rendi.


"Mau lu ikat dimana? Di kandang sapi?" Gurau Alfi.


"Gue ikat di kamar gue baru tau rasa lu" sahut Rendi yang mampu membuat Alfi terdiam.


Mereka menghabiskan sarapan pagi sambil bercanda gurau. Setelah selesai baru lah mereka berangkat ke lokasi tempat terjun para layang.


Jarak tempat itu dari penginapan hanya memakan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki. Di jalan setapak itu menyuguhkan panorama alam yang sangat indah.


Setiap sudut yang terlihat oleh mata benar-benar di jaga ke Asrian nya.


"Seru juga di sini" ujar Rizal.


"Bagus lu buat rumah disini zal. Jadi bisa lu tiap hari menikmati pemandangan yang sangat mengagumkan ini" saran Alfi.

__ADS_1


"Bagus kepala lu Al. Yang ada gue temanan sama binatang penghuni hutan ini lagi. Gue masih normal, gue masih ingin menjalani hidup seperti manusia biasanya. Gue mau punya pendamping hidup dan memiliki keturunan" curhat Rizal.


"Nah maka dari itu zal, di sini lah tempat yang sangat pas buat lu berkembang biak. Gue yakin setiap sekali setahun bini lu pasti melahirkan bayi yang lucu-lucu. Secara disini kalau malam cuaca nya dingin zal, bikin sesuatu langsung berdiri dengan tegak" sambung Alfi terkekeh.


__ADS_2