Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
Kembali dengan wujud yang lain


__ADS_3

"Rat lu ngapain sendiri di sini? Ngelamun pula" tegur Alfi yang baru masuk ruangan. Alfi melihat Ratna yang sedang duduk sendiri dengan tatapan kosong. Entah apa yang ada di fikiran Ratna saat ini.


"Nggak ada kok Al, aku cuma lagi sedih saja" ujar Ratna tersenyum kecut.


"Loh sedih kenapa? Memangnya lu ada masalah apa?" Tanya alfi ingin tahu.


"Jadi gini Al, sebenarnya aku berasal dari keluarga broken home Al. Ayah dan ibu ku pisah dan aku di asuh oleh ayah ku. Sedangkan ibuku nikah lagi Al. Setahun setelah orang tua ku pisah, ibu ku meninggal karna kdrt yang di lakukan oleh suami barunya. Selama ini aku tidak mendapatkan kasih sayang dari mereka Al. Ayah ku cuma sibuk menyenangkan diri bersama tante-tante girang yang berkeliaran setiap malam." Curhat Ratna.


"Sebenarnya aku sudah bosan hidup Al. Tidak hanya di rumah aku menderita Al. Di kampus ini juga aku di bully dan di siksa oleh beberapa senior Al. Sungguh aku sudah tidak sanggup lagi. Ayah ku sama sekali tidak memberikan aku uang selama ini. Untung saja aku lulus bidik misi, setidaknya dengan itu lah aku masih bisa untuk bertahan hidup Al. Hiks" Ratna akhirnya menangis di hadapan Alfi.


"Kamu menyuruh aku untuk menjagi tangguhkan Al. Aku sudah berusaha tapi kenyataannya aku tetap tidak bisa Al. Aku lemah, aku pecundang dan aku cuma kacung dalam kehidupan semua orang" sambung Ratna.


Alfi menghela nafas panjang. Bahkan kehidupan Alfi belum seberapa dengan kehidupan yang di rasakan Ratna. Alfi masih bisa merasakan kasih sayang sang ibu. Walau pun mereka dengan paksa memisahkan Alfi dan emaknya.


Sedangkan Ratna mempunyai ibu dan ayah, tapi dia tidak merasa kan yang namanya kasih sayang. Dan bahkan Ratna seperti anak yang tidak di harapkan.


"Udah rat, lu nggak usah sedih. Nanti gue bantuin lu buat balas semua kelakuan mereka. Gue janji sama lu kalau siapapun yang membully lu ataupun nyakitin lu pasti akan gue balas dengan tangan gue sendiri. bujuk Alfi.


"Lu mau mereka menerima ganjaran nya seperti apa? Lu mau mereka gue mutilasi?" Tanya Alfi sedikit menghibur.


"Iiih kamu ada-ada saja Al. Masak iya kamu mau memutilasi mereka. Kayak di film-film itu kan?" Sahut Ratna yang terpancing dengan hiburan Alfi.


"Hehe, ya nggak berani juga gue rat. Emang tampang gue spikopat apa?" Gurau Alfi.


"Dikit sih" jawab Ratna ragu.


"Ayok ke kantin, kebetulan beasiswa sama bisik misi gue cair kemarin jadi bisa traktir lu makan" ajak Alfi. Namun siapa sangka Ratna menolak ajakan itu.


"Kamu duluan saja Al. Aku cuma pengen sendiri buat nenangin diri." ujar Ratna sambil berjalan menuju belakang kampus yang penuh dengan beberapa pepohonan rindang.


Alfi yang merasa biasa saja, membiarkan Ratna pergi untuk menyendiri. Alfi merasa setiap orang berhak untuk menenangkan diri nya sendiri, termasuk Alfi. Bahkan Alfi lebih suka ketenangan di saat otaknya penuh dengan pemikiran yang berat.


Alfi dengan langkah gontai berjalan menyusuri longrong untuk menuju ke kantin.


"Al?" Panggil seseorang sambil berlari. Alfi menghentikan langkahnya. Dan berbalik badan.


"Iya2 ren. Lu habis ngapain kok ngos-ngosan begitu?" Tanya Alfi ketika sudah mengetahui siapa pemilik suara itu.


" ya gue habis lari ngejar lu lah. Pakai nanya lagi. Kok lu sendirian? Ratna mana?" Tanya Rendi.


"Dia lagi menenangkan diri. Lu mau ke kantin? Mau barengan?" Tanya Alfi.


"Boleh, gue juga udah lapar ini. Tadi belum sempat sarapan" Rendi dan Alfi berjalan beriringan menuju kantin.


Haikal yang melihat pemandangan tersebut merasa terbakar cemburu. Karna Alfi dan Rendi seakrab itu. Tak hanya Haikal beberapa cewek fans rendi pun menggeram tak terima melihat murid baru bisa seakrab itu dengan sang idola.


***


Di tempat lain ratna sedang berusaha mengakhiri hidupnya. Ratna menggunakan pecahan kaca untuk menggores tangan nya. Sekali sentak pecahan kaca itu mampu menggores tangan Ratna.

__ADS_1


Darah mengucur keluar dari pergelangan tangan Ratna. Ratna memejamkan matanya sambil sesekali meringis menahan sakit. Setelah banyak darah yang keluar badan Ratna tiba-tiba menjadi lemas. Bahkan tubuhnya ambruk ke belakang. Untuk saja ada pohon Pinus yang berdiri kokoh di belakang Ratna, sehingga tubuh Ratna bisa di tompang oleh itu.


Setelah beberapa menit barulah Ratna menghembuskan nafas terakhir nya. Ratna nekat mengakhiri hidupnya karna dia memang sudah buntu untuk berfikir bagaimana mengubah hidupnya untuk kedepan. Bahkan ucapan Alfi yang akan membantu Ratna hanya di anggap guyonan bagi Ratna. Ratna tidak menganggap perkataan Alfi itu serius.


Lia yang menyaksikan hal tersebut tersenyum sinis. Dengan secepat kilat Lia menghilang menuju tempat Alfi berada.


"Astagfirullah" Alfi kaget melihat penampakan Lia. Karna sudah beberapa lama ini Lia tidak lagi muncul di hadapan Alfi. Tepatnya setelah Lia berpamitan kepada Alfi untuk kembali ke alamnya.


"Kenapa Al?" Tanya Rendi.


"Hehe nggak ada ren, gue cuma kaget" jawab Alfi.


"Ooh" kata Rendi singkat.


"Apa kabar Al? Ikut dengan ku sebentar Al. Ini penting sekali" ajak Lia dengan suara yang serius.


Alfi langsung berdiri dan meninggalkan Rendi yang masih makan dengan lahap.


"Al? Mau kemana lu?" Sorak Rendi.


"Ke toilet bentar ren" alasan Alfi sambil memegang perutnya. Rendi hanya mengangguk paham.


"Ada apa?" Tanya Alfi berbisik.


"Ada perempuan yang bunuh diri di belakang kampus" jelas Lia. Alfi langsung teringat dengan Ratna. Dengan sekuat tenaga Alfi berlari menuju belakang kampus.


"Rat, Ratna?" Panggil Alfi. Namun Ratna tidak memberi kan respon sedikit pun.


"Rat? Kenapa lu bertindak bodoh seperti ini? Bukankah gue selalu ada buat lu rat. Kenapa lu nggak percaya sama gue? Bukan kah gue sudah janji akan membalaskan orang-orang yang sudah menindas lu" Tanya Alfi yang menggoyang kan tubuh Ratna.


Alfi bangkit dan ingin segera meminta pertolongan. Namun Lia mencegah niat Alfi.


"Tunggu Al. Kamu mau kemana?" Tanya Lia.


"Aku akan memberi tau para dosen agar jasad Ratna bisa untuk di selenggarakan" jelas Alfi.


"Jangan Al. Aku sudah lama menunggu jasad yang mati bunuh diri. Aku akan memakainya Al. Dan aku berjanji akan membalaskan semua dendam yang dia pendam selama ini" jelas Lia.


"Apakah bisa?" Tanya Alfi.


"Bisa! Selagi dia mati dalam keadaan menaruh dendam yang teramat besar. Aku bisa menguasainya" ujar Lia yang kemudian menghilang.


Tak lama berselang Ratna kembali bangun dengan mata yang terbuka dan melotot.


"L-lia? Itu lu kan?" Tanya Alfi.


"Hai Al. Aku hadir kembali" Lia memeluk Alfi menggunakan jasad Ratna. Tubuh itu pergerakan nya sangat kaku.


"Apakah akan aman kalau lu menguasai tubuh ini?" Tanya Alfi.

__ADS_1


"Aman Al. Akhirnya aku bisa merasakan hidup kembali. Walau hanya menggunakan tubuh ini" ujar Lia dengan senyuman kepuasan.


" Tapi Lia, itu tangan Ratna masih mengeluarkan darah." Ujar Alfi.


Lia langsung menjilat darah itu hingga tak tersisa. Alfi bergidik ngeri melihat pemandangan itu.


"Lia, bisa tidak lu jangan bertingkah aneh seperti itu di depan gue maupun yang lain. Gue jijik Lia" protes Alfi.


"Hihihi, sorry Al" lia meminta maaf.


"Dan satu lagi, Lu ketawa jangan kayak gitu. Yang ada semua orang akan lari karna suara lu" protes Alfi lagi.


" Hehe iya Al. Aku akan belajar bagaiman menjadi manusia kembali" ucap Lia.


"Ayo kembali kedepan, jangan ada yang melihat kita disini" ujar Alfi sambil menarik tangan Ratna.


Tanpa Alfi sadari Haikal sudah melihat semua itu. Tapi Haikal tidak tau kalau Ratna sudah meninggal dan yang tinggal di tubuh nya adalah Lia.


Di fikiran Haikal adalah Ratna dan Alfi adalah manusia jadi-jadian yang suka meminum darah manusia. Karna Haikal melihat Ratna alias Lia menjilati darahnya sendiri.


"Pantas saja aku bertemu dengan Alfi ketika pembunuhan itu terjadi. Kemungkinan besar Alfi lah yang menjilati darah lima orang yang meninggal itu. Karna mustahil rasanya ada orang yang dimutilasi tapi darahnya cuma tinggal sedikit yang berserakan" gumam Haikal.


"Aku yakin Alfi adalah vampir yang berwujud kan Manusia seperti yang di film-film itu. Dan Ratna adalah teman nya atau jangan-jangan mereka berdua adalah kanibal? Ah yang mana sih yang betul?" gumam Haikal bingung sendiri dengan apa yang baru saja dia lihat.


***


"Al? lu dari mana saja?" Tanya Rendi yang kebetulan bertemu dengan Alfi di lorong menuju belakang kampus.


"Eh sorry ren, Gue tadi ingat sama Ratna. Makanya gue keluar sebentar, iya kan rat?" Alfi menyenggol tangan Ratna.


"I-iya ren. Maaf sudah mengganggu kalian makan" ucap Lia pura-pura tidak enak hati.


"Owh ya sudah tidak apa-apa rat. Ini Al makanan lu terpaksa gue bungkusin takutnya lu nanti kelaparan. Kan tadi lu belum sempat makan. Kalau gitu aku masuk dulu ya" pamit Rendi setelah memberikan kantong plastik putih berisi soto yang telah di pesan Alfi.


"Ren tunggu, ini makanan nya belum di bayarkan?" Tanya Alfi.


"Lu tenang saja, udah gue bayar kok." jawab Rendi dengan senyuman manis di bibir nya. Alfi tersipu melihat senyuman itu.


"Al, lu naksir ya sama Rendi?" Goda Lia.


"Jangan nuduh yang macam-macam lu Lia. Gue santet baru tau rasa lu" umpat Alfi kesal.


"Ayo masuk ruangan. Tapi lu punya hutang penjelasan sama gue." Ujar Alfi meninggalkan Lia yang masih berdiri.


"Al tunggu in aku Al" Lia melangkah dengan pelan-pelan. karna setelah dia mati Lia tidak lagi pernah berjalan menggunakan kaki. Bahkan jalan Lia menyerupai robot. Beberapa mahasiswa yang melihatnya ikut tertawa. Bahkan ada pula yang terang-terangan mengejek Lia.


"Kesambet di mana lu babu? Kok jalan seperti itu. Atau lu habis nganu ya? Pasti sakit kan rasanya" ejek salah satu dari mereka.


"Awas kalian ya" umpat Lia sambil terus berjalan ke depan.

__ADS_1


__ADS_2