Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
rencana buruk anto


__ADS_3

Sepulang sekolah, seperti yang sudah Alfi dan Rendi sepakati. Mereka berdua pergi menuju tempat jual beli motor second.


Alfi melihat-lihat motor yang rasanya, nyaman dan cocok untuk dia pakainya.


"Yang ini keren Al" Rendi menunjuk salah satu moge yang sangat gagah. Dengan body merah hitam yang sangat terawat.


"Iya ren, tapi sepertinya mahal deh. Uang gue nggak akan cukup" ujar Alfi beralih menatap motor yang lain.


"Yang ini berapa ya pak?" Tanya Alfi spontan.


"Satria Fu, keluar an 2050 sekarang harganya xxxxxxx ." Ujar sang penjual.


"Saya ambil yang ini ya pak" ucap Alfi. Entah kenapa hati Alfi sangat terpaut dengan motor itu. Alfi mendapatkan kemistri dengan motor barunya.


"Baiklah, mari kita isi formulir serah terima nya dulu" ajak sang bapak.


Setelah menandatangani serah terima jual beli. Si bapak memberikan surat-surat lengkap kepemilikan untuk Alfi.


Alfi pulang dengan mengendarai motor barunya. Hati Alfi sangat senang dan bahagia. Akhirnya dia bisa memiliki motor sendiri.


"Al, singgah dulu yuk. Aku lapar" ajak Rendi.


"Boleh ren, mau makan dimana?" Tanya Alfi.


"Di rumah makan tempat biasa. Sudah lama aku tidak makan di sana" ujar Rendi.


Alfi memacu motor barunya dengan kecepatan tinggi. Rendi ikut menyusul Alfi dengan kecepatan tinggi juga.


"Mantap betul tenaganya Al. Cocok buat pembalap kayak kamu" goda Rendi.


"Ah kamu bisa saja ren, ayok masuk." Alfi mengajak Rendi masuk ke dalam rumah makan.


Setelah lama menunggu akhirnya makanan mereka datang. Rendi yang sangat kelaparan langsung menyantap makanan yang ada di depannya.


Ketika Alfi hendak ikut menyicipi makanan. Tiba-tiba Lia muncul duduk di samping Alfi.


"Jangan di makan Al, makanan itu sudah di nodai oleh makhluk gaib" tegur Lia.


Spontan Alfi kembali menurunkan tangan nya.dan meletakkan kembali nasi itu ke piringnya. Ingin rasanya Alfi bertanya lebih jauh, tapi rasanya tidak mungkin. Bisa-bisa Alfi di kira tidak waras karna bicara sendiri.


"Pejamkan mata kamu Al, lalu buka kembali" pinta Lia.


Alfi melakukan apa yang Lia perintah kan. Dalam hitungan detik mata Alfi di pejamkan, lalu di buka kembali. Dan ternyata apa yang di katakan Lia benar.


Makanan yang ada di hadapan Alfi berubah menjadi belatung berwarna merah. Dan makanan yang ada di piring Rendi juga ikut berubah menjadi belatung dengan warna yang sama. Namun hanya Alfi yang dapat melihatnya.


'gue merasa belatung nya beda dari yang lain. Setahu gue belatung warnanya putih., Ini kok merah ya?' batin Alfi.


"Berhenti ren" Alfi menahan tangan Rendi yang akan masuk ke dalam mulutnya.


"Kenapa Al?" Tanya Rendi bingung.


Di penglihatan Rendi, belatung yang ada di tangan nya adalah nasi ternikmat yang pernah ia makan. Sedangkan di mata Alfi, di tangan Rendi belatung itu sedang menari-nari meliuk-liuk kan tubuh mereka.


"Ren kita makan di tempat lain saja" ajak Alfi.


"Memang ada apa Al?" Tanya Rendi serius. Rendi mencuci tangan nya sampai bersih. Kemudian meminum jus jeruk yang mereka pesan.


"Tadi gue lihat ada cicak yang masuk ke dalam makanan kita. Gue merasa jijik ren" bisik Alfi di telinga Rendi.


Mendengar hal itu Rendi menjadi mual. Dia berlari ke luar ruangan dan memuntahkan semua isi perutnya.


Alfi segera membayar makanan yang telah mereka pesan dan bergegas meninggalkan tempat itu. Di luar rumah makan, Rendi masih saja memuntahkan isi perutnya.


Alfi yang melihat belatung keluar dari mulut Rendi jadi bergidik ngeri.


'semoga saja tidak menjadi penyakit' batin Alfi.


'untung gue belum sempat memakannya, dan kalau si Rendi tau bahwa yang dimakannya adalah belatung. Gue rasa dia akan langsung pingsan di tempat' batin Alfi lagi.


"Sudah ren?" Tanya Alfi.


"Iya Al. Kenapa tidak dari tadi kamu kasih tau aku" protes Rendi.


"Hehe, maaf ya ren, gue baru tau tadi pas mau makan, di nasi gue ada ekor cicak" ucap Alfi berbohong.


"Iiiih nggak lagi deh gue makan di situ. Bikin trauma saja" ujar Rendi sambil berjalan mengahampiri motor mereka.


Alfi dan Rendi berpisah di persimpangan jalan. Rendi memilih untuk pulang kerumah nya dan Alfi juga pulang kerumahnya.


"Makasi ya ren" ucap Alfi sambil tersenyum.

__ADS_1


Sebenarnya senyuman Alfi sangat menggoda, bagaimana tidak, dia memiliki lesung pipi nya menambah kemanisan di wajahnya. Tak luput pula dua gingsul yang akan menonjol keluar jikalau Alfi tersenyum ikhlas. Namun sayangnya Alfi bukan lah tipe wanita yang mudah untuk tersenyum. Alfi lebih suka bermuka datar dan dingin.


"Sama-sama Al." Rendi ikut tersenyum ke arah Alfi.


Di perjalanan pulang, Lia kembali nangkring di jok belakang Alfi.


"Makasi Lia" ujar Alfi.


"Sama-sama Al. Aku bersyukur bisa membantu kamu Al. Selama ini aku termasuk manusia yang tidak bersyukur Al. Betapa beruntungnya aku dilahirkan di keluarga yang berkecukupan, sehingga apa yang aku lakukan tidak pernah di fikirkan secara matang. Dan akhirnya aku juga yang menyesal" lirih lain dari belakang Alfi.


Bagaimana pun Lia adalah mahkluk gaib. Tak luput ketika nafas Lia mengenai tengkuk Alfi. Membuat semua bulu Alfi berdiri.


***


Sesampainya di rumah.


"Mak?" Panggil Alfi.


"Iyaa" Wati berjalan menuju luar rumah.


"Ini pit motor barunya?" Tanya Wati.


"Iya mak, bagus tidak?" Tanya Alfi dengan wajah sumringah.


"Masya Allah, bagus sekali pit" Wati mengusap-usap jok motor baru Alfi.


"Nanti sore kita jalan-jalan ya Mak." Ajak Alfi.


"Kamu serius? Mau kemana kita?" Tanya Wati.


"Ini masih ada sisa uang nya Mak. Aku ingin mengajak emak, membeli baju baru. Sudah lama rasanya kita tidak membeli baju kan." Jelas Alfi.


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih untuk rezeki mu untuk kami" ujar Wati bersyukur.


"Emak masak apa hari ini?" Tanya Alfi.


"Itu emak masak, sambal terasi ikan asin sama lalapan" jawab Wati.


"Wah, tambah lapar Mak. Aku masuk dulu ya Mak. Pengen makan" Alfi meninggalkan Wati, yang masih berdiri di dekat motor.


Sesampainya di dalam rumah, Alfi segera mengganti bajunya dan mengambil nasi untuk makan. Alfi melahap semua makanan yang terhidang, hingga kekenyangan.


"Alhamdulillah" ucap Alfi.


"Enak, lu mau?" Kali ini Alfi tidak terkejut akan kehadiran Lia.


"Mau Al. Aku belum pernah memakan makanan seperti itu" jelas Lia.


"Memang hantu bisa makan?" Tanya Alfi.


"Hehe ya nggak bisa lah." Jawab Lia enteng.


"Ya sudah kalau begitu, aku habis kan semuanya" Alfi kembali menambah kan satu sendok nasi ke piring nya.


"Masya Allah pit. Sambelnya habis?" Tanya Wati tak menyangka.


"Hehe ludes Mak. Sambal nya enak Mak. Emak sudah makan?" Tanya Alfi basa basi.


"Alhamdulillah udah tadi. Ya sudah nanti emak bikin lagi untuk kamu" ucap Wati dan dia berlalu ke dapur.


Karna kekenyangan, Alfi melangkah masuk ke dalam kamar nya.


"Al, bisakah malam ini kita beraksi?" Tanya Lia.


"Hmm bisa. Apakah target sudah ditemukan?" Tanya Alfi.


"Sudah Al, dua perempuan itu adalah target pertama kita" ujar Lia.


"Dua perempuan? Siapa yang lu maksud?" Tanya Alfi


"Putri dan Serly. Kedua wanita ****** yang menjadi selingkuhan Fii. Mereka berdua ikut Handil ketika pemerkosaan tersebut" ucap Lia lirih dengan Wajah dingin dan tak berekspresi.


"Putri? Seperti nya aku pernah mendengar nama itu?" Tanya Alfi.


"Apakah kita mengenal nya?" Sambung Alfi.


"Entah lah Al. Aku tidak mengenal mereka berdua, tapi rasanya aku tidak asing dengan wanita yang pernama putri." Ujar Lia.


"Apakah kamu ingat dengan putri, anak IPS yang dulu pernah di keluarkan dari sekolah? Kalau tidak salah dia di keluarkan setelah 5 bulan bersekolah" Alfi mengingat kan.


"Aku ingat sekarang Al. Benar itu orang nya" ucap Lia mantap.

__ADS_1


'berarti dia adalah mantan Rendi yang sempat bertemu dengan ku di rumah makan waktu itu, sekitar 2 tahun yang lalu.' batin Alfi.


"Baiklah Lia, dimana kita bisa menemukan mereka?" Tanya Alfi serius.


"Di hotel melati nomor 21. Mereka open bo di sana malam ini." Jelas Lia.


"jadi apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alfi lagi. Lia tersenyum penuh dendam.


"Nanti kamu akan tau sendiri Al" Lia segera menghilang.


Sore harinya Alfi mengajak Wati untuk berbelanja baju baru. Mereka berdua mampir di salah satu pasar besar yang menjual semua peralatan dan kebutuhan.


"Mak nanti kita bertemu di parkiran ini ya. Aku mau cari sesuatu dulu. Ini uang untuk emak" Alfi menyerahkan segepok uang di tangan Wati. Dengan secepat kilat Wati memasukkan nya ke dalam dompet, agar tidak mengundang kejahatan.


Alfi berjalan sendiri menyusuri los tempat penjuang senjata tajam. Seperti pisau, tang, obeng dan lain-lain.


Sesuai dengan instruksi Lia, Alfi membeli beberapa peralatan yang di butuhkan. Tak lupa Alfi juga membeli jubah hitam sebagi bentuk penyamaran.


Setelah selesai berbelanja untuk misi mereka. Alfi beralih membeli beberapa baju kaos dan celan Jeans untuk sehari-hari tak lupa Alfi juga membeli sepatu dan sendal untuk harian.


Karna belanjaan Alfi lebih sedikit, Alfi memutuskan untuk menunggu sang emak di tempat parkir.


Namun Alfi malihat Fii yang sedang berjalan dengan seorang perempuan cantik dan ****. Pakaian sang gadis hanya menggunakan tangtop dan celana pendek hingga paha.


Fii merangkul gadis itu dengan tangan yang melingkar di pinggang sang gadis.


'siapa kah wanita itu?' batin Alfi bertanya-tanya.


"Pacar baru nya kali" ujar Lia yang tiba-tiba muncul.


"Dari mana lu tau?" Bisik Alfi lirih.


"Aku selalu mengawasi nya. Namun sayangnya aku sudah tidak bisa mengganggu nya Al" ucap Lia lirih.


"Maksud lu.?" Tanya Alfi tak mengerti.


"Seminggu yang lalu aku mengikuti Fii dan teman-teman nya. Ternyata mereka sudah menyadari akan teror yang aku lakukan. Mereka semua menggunakan jimad untuk perlindungan diri. Maka dari itu aku meminta bantuan kamu Al. Hanya manusia lah yang bisa menyingkirkan jimad itu. Setelah jimad itu hilang, maka aku akan bisa menakut-nakuti mereka, sehingga mereka mengakhiri hidup mereka sendiri." Jelas Lia terus terang.


"Ooo jadi itu yang lu maksud selama ini. Pantas saja lu memohon-mohon sama gue untuk membantu lu" cibir Alfi berbisik.


"Takkk" sebuah batu mengantam kepala Alfi.


"Aduuuuhhhhh" keluh Alfi.


"Rasain kamu Al. Jangan mengejek ku kalau tidak mau kena batunya" protes Lia sambil menghilang bagai butiran debu.


"Udah lama pit?" Tanya Wati.


"Lumayan Mak. Emak sudah selesai?" Tanya Alfi.


"Iya sudah. Dasternya bagus-bagus pit, murah-murah lagi" ujar Wati sumbringah.


"Memang seberapa murah sih mak?" Tanya Alfi.


"3 helai 100 Al. Hehe" Wati tertawa.


"Alhamdulillah kalau gitu. Ayo Mak kita pulang sebentar lagi magrib. Nanti malam aku mau belajar kelompok ke rumah guru" jelas Alfi.


"Malam ini mulainya pit?" Tanya Wati.


"Iya mak. Emak tidak apa-apa kan tinggal sendiri sampai jam 11 nanti?" Tanya Alfi.


"Ya tidak apa-apa kok nak. Kan cuma sampai jam 11, tidak semalaman" goda Wati.


"Wkwk emak bisa saja" Alfi melajukan motor barunya untuk pulang.


Di tempat lain paman Alfi yang bernama Anto, sedang minum kopi di warung tepi jalan.


Anto melihat Alfi dan Wati, melewati jalan yang ada di depan warung tempat Anto duduk.


"Motor siapa lagi itu?" Gumam Anto.


"Dasar keluarga tidak tahu diri. Sudah tidak mau mengganti motor punya ku, eh malah asyik-asyik memakai motor orang lain" umpat Anto.


"Ngomongin apa nto?" Tanya mang Ujang pemilik sawit.


"Eh itu mang si Alfi. Motor siapapula yang dia pakai itu. Memang hidup mereka hanya menyusahkan orang saja." Ujar Anto.


"Owh kamu belum tau ya nyo, kalau Alfi membeli motor baru. Itu motor milik dia sendiri nto. Baru juga tadi dia beli. Second sih, tapi lumayan lah masih kayak baru" ucap mang Ujang.


'dari mana mereka punya uang untuk membeli motor baru?' batin Anto.

__ADS_1


'kita lihat saja nanti. Tunggu saja giliran kalian' batin anto menerbitkan senyum sinis


__ADS_2