
"Maaaaaakkkkkkkkkkkkk"
"Ini pasti cuma mimpi kan. Ini pasti cuma mimpi" Alfi menampar pipi nya sekuat-kuat mungkin. Berharap dia bisa bangun dari tidurnya. Namun semua bukan lah mimpi. Yang ada di depan Alfi adalah nyata.
"Sabar lah Al. Kita serahkan kepada yang berwajib" seorang ibuk-ibuk menenangkan Alfi.
Alfi yang masih terduduk di lantai, menyaksikan beberapa orang polisi masuk dan mengidentifikasi jenazah. Mereka memungut bagian-bagian tubuh Wati yang sudah terpisah.
"Mak maafin Al Mak. Seharus nya Al tidak meninggalkan emak sendirian di rumah. Seharusnya Al mendengar kan kata hati Al. Maaf kan Al makk" ucap Alfi di sela Isak tangisnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya salah satu polisi kepada beberapa saksi.
"Kami tidak mengetahui apa yang terjadi pak. Tapi ketika kami pulang dari sholat di mushola. Kami melihat pintu rumah mbak Wati terbuka lebar. Karna tidak biasa-biasanya beliau membuka pintu selebar itu di subuh hari. Kami teringat kalau Alfi sedang di kota untuk kuliah. Makanya kami memberanikan diri untuk mendekati rumah itu bersama-sama. Setelah tiga kali kami memanggil tidak ada sahutan dari dalam. Maka saya berinisiatif untuk masuk dan mengecek. Dan ketika saya melihat ke kamar itu, mbak Wati sudah tergeletak bersimbah darah, dan yang tragisnya lagi bagian badan mbak Wati sudah di mutilasi." Jelas pak Korim.
"Baiklah, terima kasih atas keterangan nya. Untuk mengetahui lebih lanjut, kami akan membawa jenazah untuk di visum. Agar kita bisa mengetahui siapa pelakunya. Siapa tahu mereka meninggalkan jejak sidik jari di badan korban." Jelas pak polisi.
"Apakah anda keluarga korban?" Tanya polisi kepada Alfi. Alfi mengangguk karna tak mampu lagi untuk mengeluarkan satu kata pun dari mulut nya.
"Benar pak. Dia adalah anak kandung korban satu-satunya. Dia kemarin siang berangkat ke kota untuk menempuh pendidikan." Jelas ibuk-ibuk yang sedang menompang badan Alfi.
"Baiklah. Kalau begitu, kami meminta izin untuk membawa jenazah korban ke rumah sakit. Apakah saudara mengizinkan?" Tanya polisi kepada Alfi.
"Silahkan pak. Cepat temukan pelakunya, saya ingin meminta pertanggung jawaban nya." Pinta Alfi.
__ADS_1
Jenazah Wati segera di masukan kedalam Kantong kuning khusus untuk mayat. Setelah itu para polisi di ikuti Alfi berangkat menuju rumah sakit untuk melakukan autopsi jenazah.
Autopsi di lakukan hingga hitungan jam. Alfi menunggu proses itu 2 jam lamanya. Setelah selesai barulah tim medis membantu Alfi untuk memandikan jenazah dan mengafani nya. Untuk mensholatkan dan menguburkan Alfi meminta bantuan para warga yang ada di kediaman nya.
Alfi langsung turun tangan untuk menyambut jenazah sang ibu di liang lahat. Di saat jenazah sang ibu di masukan ke liang lahat, tangan Alfi terasa bergetar. Tak ada hari yang paling menyakitkan di banding kan dengan hari ini.
Alfi di bantu oleh warga untuk naik kembali ke permukaan,setelah jenazah sang ibu siap untuk di timbun.
"Mak, semoga emak tenang beristirahat di sana. Aku berjanji akan menebus semua kesalahan ini" gumam Alfi lirih.
Alfi di papah menuju ke rumahnya. Untung saja masih ada para tetangga yang peduli kepadanya. Namun Alfi sempat berfikir,
'kenapa paman tidak menghadiri pemakaman emak. Kenapa cuma istri nya yang datang?' tanya Alfi dalam hati.
Sesampainya di rumah, Alfi terduduk lemas di kursi dapur tempat dia dan emaknya biasa mengabiskan makanan.
Ketika Alfi sedang sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Lia datang menghibur Alfi.
"Al jangan sedih. Ayo aku bantu untuk membalas kan dendam" bujuk Lia. Wajah Alfi terangkat dengan mata yang menyala merah.
"Katakan pada ku, siapa yang telah membunuh emak?" Tanya Alfi emosi.
"Tenang lah. Jangan gegabah dalam bertindak Al. Mereka tidak hanya satu tapi tiga. Maka kamu harus bermain cantik untuk dapat membalas mereka. Kalau kamu gegabah maka kamu, hanya akan mampu membalas satu orang saja. Setelah itu kamu akan membusuk di penjara" jelas Lia.
__ADS_1
"Lalu dua orang lagi akan tertawa di atas penderitaan kamu" sambung Lia.
Alfi kembali meredam emosi nya yang sempat tersulut.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Alfi dingin.
"Lihat lah sendiri Al. Maaf aku datang terlambat dan tidak bisa menolong emak kamu" Lia mengusapkan telapak tangan nya ke depan wajah Alfi.
Seketika Alfi dapat melihat bayangan siluet tentang semua kejadian itu.
"Kurang ajar. Ternyata dia biang kerok nya" rutuk Alfi.
"Tenang lah. Untuk sekarang ini, kamu tidak akan bisa menemukan nya. Karna dia sudah pergi jauh untuk bersembunyi. Tapi ka.u tenang saja. Dengan bantuan ku, kamu akan mudah melacak keberadaan nya Al." Jelas Lia.
"Tapi.. kamu harus mau membantu aku Al. Bantu aku untuk menghabisi Fii dan kawan-kawan nya. Maka aku pun akan membantu kamu untuk menghabisi Mereka" tawar Lia.
Alfi yang sedang tidak bisa berfikir jernih, menyetujui kesepakatan yang Lia ajukan. Bagi Alfi membalas dendam kematian Sang emak adalah hal utama yang harus dia lakukan. Walaupun Alfi harus mengorbankan nyawanya sendirian.
"Jadi kapan kita akan menghabisi mereka?" Tanya Alfi dengan wajah datar.
"Kita akan mulai besok" ujar Lia.
"Tapi aku ingin bermain-main dulu dengan keluarga mereka. Akan aku buat mereka merasa kan, sama seperti apa yang aku rasakan." Tutur Alfi dengan suara yang menyeramkan.
__ADS_1
"Aku akan mendukung semua keputusan kamu Al" Lia tertawa cekikikan.
Di tengah-tengah pemikiran Alfi yang kacau, tiba-tiba ponsel Alfi berbunyi.