Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
berkomitmen


__ADS_3

"Lu mau kemana ren? Apa salah gue sefatal itu?" Tanya Alfi beralih memegang kedua sisi wajah Rendi, menggunakan ke dua tangan nya. Seketika tatapan mereka berdua bertemu. 2 detik tatapan itu mampu membuat semangat hidup Rendi kembali muncul.


"Lu marah sama gue?" Tanya Alfi lembut. Tanpa mengalih kan Tatapan nya.


Rendi membalas tatapan itu dengan tatapan  sayu. Seakan-akan tatapan itu menandakan kerinduan yang sangat mendalam bagi Rendi.


"Kenapa lu nggak nemuin gue, apa lu udah nggak mau berteman sama gue lagi?" Akhirnya satu pertanyaan keluar dari mulut rendi, Alfi hanya terdiam.


"Ck, menjauh lah, jangan halangi gue" Rendi melepaskan tangan Alfi dari wajahnya. Alfi Segera memeluk Rendi dan menangis.


"Maafin gue ren. Maaf kalau gue udah buat lu kecewa. Lu nggak akan paham sama apa yang gue lakukan. Tapi yang penting, intinya juga sayang sama lu" ujar Alfi mengerat kan pelukannya.


"Bagaimana gue bisa faham Al, kalau lu sendiri tidak mau memberikan pemahaman itu sama gue" Rendi juga memeluk Alfi dengan erat. Alfi tak mau menjawab. Biarlah pelukan itu yang akan menjadi pelebur semua masalah yang ada.


"Lu rindu ya sama gue?" Goda Alfi sambil merenggangkan pelukan nya.


"Sangat Al. Lu tau hidup gue nggak ada artinya kalau lu tidak ada di sisi gue" ucap Rendi tulus.


"Ayo, katanya lu mau pindah. Sini gue bantuin angkat barang-barang lu" sindir Alfi tertawa.


Rendi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ada rasa malu dan bahagia yang sekali gus terpancar di hatinya.


"Ayo. Lu mau pindah kemana?" Guyon Alfi.


"Mau pindah ke kosan lu Al. Biar gue bisa dekat terus sama lu" ujar Rendi ikut tertawa.


"B*Angke lu ren" umpat Alfi. Mereka berdua sama-sama tertawa renyah.

__ADS_1


"Ren gue lapar nih. Cari makan yuk?" Ajak Alfi. Rendi mengangguk mengiyakan.


Rendi kembali memasukan semua tas dan barang bawaan nya. Niat nya ingin pindah pupus sudah berganti dengan harapan tunas yang baru muncul.


Sengaja mereka hanya menggunakan satu motor untuk keluar. Alfi yang di bonceng Rendi duduk dengan tenang di jok belakang. Sedangkan tangan jail Rendi menyambar tangan Alfi dan melingkarkan nya di pinggang Rendi.


"Pegangan yang erat. Nanti jatuh" tutur Rendi sambil senyam-senyum.


"Huufff dasar bad boy bucin" umpat Alfi.


Rendi hanya tertawa mendengar umpatan sang pujaan hati.


Sesampainya di caffe, Alfi dan Rendi menikmati makanan siang yang telah mereka pesan sebelumnya.


"Al, lu nggak kuliah?" Tanya rendi penasaran.


"Jadi lu bolos?" Tanya Rendi lagi.


"Iya, semua gara-gara lu" umpat Alfi.


"Kalau saja lu nggak kayak anak kecil pake ngambek-ngambek segala. Kemungkinan besar sekarang gue masih di kampus saat ini" sambung Alfi bergurau.


"Tau dari mana lu, kalau gue mau pindah?" Selidik Rendi.


"Gue kan punya Indra ke enam. Jadi ya tau lah" cibir Alfi.


"Pasti Haikal ka. Yang ngasih tau lu. Karna cuma dia yang tau kalau gue mau pindah" ucap Rendi.

__ADS_1


"Haikal? Nggak tuh. Lagian gue nggak ada ketemu sama dia satu Minggu ini. Tumben juga ya.? Biasanya dia selalu lihatin gue kalau ketemu" Alfi menggetok-getok kepalanya menggunakan jari telunjuk.


"Ah mungkin dia nggak enak hati sama lu. Lu ingatkan waktu dia bilang kalian berdua vampir. Mungkin saja dia nggak enak karna itu." Ujar Rendi mengingat kan Alfi.


"Bisa jadi sih" Alfi tersenyum kecut.


"Jadi sekarang kita jadian ini?" Tanya Rendi.


"Ren, apa sih yang lu harapin dari gue.?" Alfi menghembuskan nafas gusar.


"Lu cinta pertama gue Al. Cukup selama ini gue pendam rasa ini. Kali ini gue nggak mau lu di ambil orang Al. Lu saja yang tidak tau kalau anak-anak kampus banyak yang mengagumi lu" jelas Rendi.


"Haha, serius? Kok gue nggak tau ya" Alfi mengerjai rendi.


"Lah mulai. Nyesel gue bilang sama lu. Pokoknya lu cuma milik gue doang Al. Nggak boleh siapapun yang miliki lu" tegas Rendi.


"Ren boleh tidak gue mengajukan syarat sama lu" pinta Alfi.


"Syarat apa?" Tanya Rendi penasaran.


" Lu mau kan menunggu gue sampai waktu itu datang. Untuk sekarang ini biarlah hubungan kita berjalan seperti ini. Kita tidak tau kedepan nya akan terjadi seperti apa. Gue hanya tidak ingin lu kecewa nanti nya ren. Gue sayang sama lu. Dan sebagai buktinya gue akan melakukan apapun asalkan lu tetap aman" ujar Alfi yang banyak mengandung tanda tanya di fikiran Rendi.


"Maksud lu? Gue? Aman? Ini apa sih Al. Sumpah gue nggak ngerti." Ujar Rendi.


"Udah nanti lu pasti akan mengerti seiring berjalannya waktu" jawab Alfi tersenyum getir.


Rendi memilih tak memikirkan perkataan Alfi lebih lanjut. Karna Rendi tidak ingin merusak rasa bahagia yang baru saja dia rasakan.

__ADS_1


Benar kata Alfi, biarlah  hubungan ini berjalan apa adanya. Dan yang penting sekarang Rendi sudah mengetahui isi hati Alfi yang sebenarnya. Dan Alfi juga sudah tidak menghindari Rendi lagi.


__ADS_2