Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
ayo menikah


__ADS_3

Rendi datang membawakan sekotak bubur untuk dikonsumsi Lia.


"Ayo makan dulu Al" Rendi mengeluarkan kotak itu dari plastik nya.


"Makasi banyak ya ren" Alfi mengulas senyum tak enak hati.


"Sini gue suapin" Rendi menyendok kan bubur itu ke mulut Alfi.


Dengan perlahan Alfi membuka mulut nya. Dan melahap satu sendok bubur itu.


"Al, gue nggak ngizinin lu tinggal di rumah itu lagi. Karna di sana lu udah nggak aman lagi Al. Lu ingat kan rumah itu bekas pembantaian. Dan gue rasa pembunuh itu tidak akan berhenti sebelum dia berhasil melenyapkan lu Al." Tutur Rendi penuh dengan kekhawatiran. Alfi hanya diam membisu, tak ada kata yang keluar dari mulutnya.


"Gue jadi penasaran, sebenarnya apa motif dari orang tersebut. Apakah dia hanya mengincar keluarga lu saja? Atau memang memilih seseorang untuk di jadikan target?" Tanya rendi seolah-olah ingin memecahkan teka teki.


"Gue juga tidak tau ren. Semoga saja orang itu cepat tertangkap" lirih Alfi.


"Huufff" Rendi mengeluarkan nafas gusar.


"Gue harap setelah ini lu mau untuk tinggal di rumah gue" saran Rendi.


"Hehe, mana mungkin ren. Lu ada-ada saja, kita bukan saudara ren. Dan kita tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Apa nanti kata orang kalau mereka tau gue tinggal di rumah lu. Bisa-bisa nyokap dan bokap lu akan mendapatkan malu" jelas Alfi dengan sedikit senyum.


"Kalau begitu ayo kita menikah?" Ajak Rendi di luar pemikiran Alfi.

__ADS_1


"M-menikah? Apa lu sudah gila ren. Sini gue rasakan dulu jidat lu, siapa tau panas" cibir Alfi. Rendi tertawa cekikikan.


"Habis nya lu susah sekali untuk di bilangin. Tapi apa salahnya kalau kita menikah. Bukan kah sah-sah saja kita membina rumah tangga?" Guyon rendi


"Rumah tangga kepala botak lu ren. Gue belum siap untuk menikah. Masih banyak impian gue yang belum terpenuhi. Dan memang nya lu siapa, berani-beraninya melamar gue? Lu sadar diri dong ren, lu itu anak orang kaya mana cocok sama orang miskin kayak gue" ucap Alfi bergurau.


"Al, mulut lu pengen gua sumpal deh. Nggak ada hubungan nya antara si miskin dan si kaya. Kalau memang sudah jodoh lu mau apa coba.?" Tanya Alfi.


"Udah lah ren. Pembahasan kita terlalu jauh. Gue masih Polos ren. Jangan bicara yang seperti itu di depan anak kecil kayak gue" protes Alfi dengan tawa cekikikan.


"Syukur lah, akhirnya gue bisa membuat lu kembali seperti diri lu lagi Al. Jujur saja, selama kepergian emak lu. Gue tidak pernah lagi melihat Alfi yang dulu. Dari sorot mata lu hanya ada kebencian dan dendam yang membara. Namun sayangnya gue tidak tau kebencian dan dendam itu untuk siapa" jelas Rendi.


"Lu bisa saja ren. Gue nggak ada dendam kok. Mungkin cuma perasaan lu saja" ungkap Alfi yang mulai was-was.


"Eh sebentar ren" Alfi mencegah Rendi.


"Iya ada apa?" Tanya Rendi menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Alfi.


"Rumah gue lu kunci kan?" Tanya Alfi.


"Iya al. Ini kunci nya" Rendi merogoh saku celana nya dan memberikan kunci ke tangan Alfi.


"Oke terima kasih ya" ujar Alfi. Rendi kembali melajukan langkah nya untuk menebus obat untuk Alfi.

__ADS_1


"Lia? Bagaimana dengan keadaan rumah? Apa semua barang-barang milik ku tersimpan dengan aman?" Tanya Alfi Kepada Lia yang duduk di atas meja di samping Alfi.


"Semua sudah aku aman kan Al. Kamu tenang saja. Selagi tidak ada yang membuka kamar milik mu, maka tidak akan ada yang tau tentang sebenarnya" jelas Lia.


Dua jam sudah berlalu namun Rendi tak juga kunjung kembali. Alfi yang tak bisa tidur hanya bisa menghela nafas panjang.


"Loh kok nggak tidur Al?" Tanya Rendi yang baru datang.


"Lu dari mana saja ren? Katanya Nebus obat ini udah seabad baru kembali" Alfi memanyunkan bibirnya.


"Haha, kenapa Al? Lu rindu ya?" Goda Rendi.


"Buset, sejak kapan gue rindu sama lu." Sanggah Alfi.


"Ren kapan gue bisa pulang. Gue nggak tahan lama-lama di sini" tanya alfi.


"Kalau lu udah sembuh baru boleh pulang." Jawab Rendi datar.


"Ayo lah ren. Keluar kan gue dari sini secepat nya. Sumpah gue udah nggak sanggup ren, Disini membuat gue tambah sakit ren" Alfi memelas.


"Lu memang keras kepala ya Al. Udah lu diam saja sekarang. Lu ikutin kata gue, kalau memang gue ini lu anggap sebagai teman" ucap Rendi memberi kan ulti.


Mau tak mau Alfi terpaksa mengalah. Karna selama ini hanya Rendi yang peduli terhadap nya. Lagi pula kalau Alfi ngotot ingin pulang, kemungkinan besar dia akan lambat untuk sembuh. Dan itu bisa membuat balas dendam Alfi semakin terundur.

__ADS_1


'aku harus sembuh secepat nya. Sebelum hasil autopsi emak keluar, aku harus bisa menghabisi Anto dan istrinya. Karna kalau terlambat aku tidak akan bisa lagi menyentuh mereka.' batin Alfi.


__ADS_2