Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
kehilangan


__ADS_3

"Pit, tolong emak pit. Huhuhu" suara Wati terdengar serak dan lemah.


"Emak kenapa Mak?" Tanya Alfi yang baru datang. Alfi dengan sigap menompang kepala sang ibu agar tidak terjatuh kelantai.


"S-ssakit pit" Wati memegangi perutnya yang sudah berlumuran darah.


"Astagfirullah Mak, siapa yang melakukan ini sama emak?" Tanya Alfi penuh dengan kemarahan.


"Pit. Jaga diri kamu baik-baik ya. Maaf kan emak yang tidak bisa mendampingi kamu lagi" suara Wati semakin menipis. Di ujung Nafas terakhir nya Wati masih sempat mengucapkan dua kalimat syahadat.


"Mak, Mak, jangan tinggalin aku Mak. maaaaaaaaaakkkkkkkkk" teriak Alfi lantang.


"Hosh hosh hosh" Alfi mencoba mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Keringat membanjiri tubuh nya. Alfi menyambar satu gelas air putih yang ada di atas meja milik nya.


"Astagfirullah, cuma mimpi" Alfi menyeka keringat di dahinya.


"Ya Allah, pertanda apakah ini? Apakah emak baik-baik saja?" Gumam Alfi lirih.  Suasana hati Alfi berubah menjadi resah.


Di tempat lain. Lebih tepatnya di rumah Wati.


Anto sedang mengendap-endap masuk kedalam rumah Wati. Anto bersama kedua orang bayarannya memastikan kondisi benar-benar kondusif.


"Lakukan tugas kalian dengan cepat. Karna waktu kita tidak banyak" bisik Anto.


"Baik bos" dua orang suruhan Anto segera memasuki kamar Wati.


Wati yang terlelap pulas tidak menyadari akan kehadiran dua orang tersebut. Ketika salah satu dari mereka hendak mendekati lemari kayu yang sudah lusuh, tiba-tiba gelas kaca tempat minum Wati terjatuh.


"Treeenggg, Ting.. Ting" pecahan kaca berserakan di lantai.

__ADS_1


Wati kaget dan langsung terbangun dari tidurnya.


"Astagfirullah, siapa kalian" ujar Wati dengan nada tinggi.


Tanpa memberikan jawaban, ke dua orang tersebut langsung mendekap Wati dan sebuah pisau langsung merobek kulit bagian perut Wati. Mulut Wati di sumpal menggunakan tangan, sehingga teriakan Wati tertahan.


"Hmmm.. hmmmm..." Semakin lama badan Wati semakin lemas.


Air mata penetes dari kelopak mata Wati. Bayangan Alfi kecil menari-nari di benaknya. Karna kesadaran Wati masih terjaga, salah satu dari laki-laki itu menekan lebih dalam pisau yang sudah tertancap. Dan seketika tubuh Wati menjadi kaku.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Anto panik.


"Maaf bos, kami terpaksa membunuhnya. Karna dia terbangun ketika kami ingin mengambil surat tanah itu" ujar yang satunya lagi.


"Aduh celaka. Ini bisa menjadi masalah besar. Ayo cepat kita pergi dari sini" ajak Anto.


Anto tidak lagi memikirkan surat tanah itu. Yang penting sekarang dia harus bisa menyelamatkan dirinya dan anak istrinya terlebih dahulu.


Ketika mereka sedang sibuk memutilasi satu tangan Wati, tiba-tiba mata Wati terbuka.


Anto dan 2 orang bayaran nya kalang kabut.


"Astaga bos, dia hidup kembali" teriak laki-laki yang sedang memotong-motong tangan Wati.


Mereka bertiga kalang kabut, dan lari terbirit-birit. Anto memutuskan untuk kabur malam itu juga. Sama dengan dua orang lain nya. Mereka bertiga kabur meninggalkan kampung halaman mereka masing-masing. Untuk sementara mereka ingin bersembunyi dulu sampai situasi aman.


Di rumah Wati, Lia bergegas keluar dari raga Wati yang sudah tidak utuh lagi.


"Maafkan aku emak Al. Aku terlambat" lirih Lia.

__ADS_1


Lia melayang dan menghilang menuju tempat kediaman Alfi.


"Al" suara Lia serak dan ganda.


"Astagfirullah Lia, lu membuat gue kaget saja" protes Alfi yang masih belum tertidur.


Setelah mendapat kan mimpi buruk tadi, mata Alfi sudah tidak bisa di pejamkan. Hati dan perasaan nya cuma tertuju kepada sang ibu tercinta.


"Pulang lah Al. Emak menunggu mu" suara Lia terdengar mengganda.


"M-maksud lu apa Li-.." belum sempat Alfi menyudahi perkataan nya Lia pergi begitu saja.


Perasaan Alfi bertambah tidak karuan. Dengan berbekalkan tekad, Alfi memacu motor nya menuju jalan pulang. Tak ada lagi ketakutan yang dia rasakan.


Tepat pukul 6 pagi Alfi sampai di rumahnya. Sebelum pulang Alfi sudah berpesan kepada Rendi agar mengizinkan Alfi untuk tidak mengikuti MOS di pertemuan pertama. Namun kemungkinan pesan itu belum di baca oleh Rendi.


"Ada apa ini?" Tanya Alfi Kepada tetangga yang sudah hadir di rumah Alfi.


"Kamu yang sabar ya Al" ujar seorang ibuk-ibuk.


Alfi tidak lagi menghiraukan perkataan ibuk-ibuk tadi. Fikiran nya tak karuan. Alfi berlari memasuki rumah. Namun dia sempat di tahan oleh beberapa warga.


"Jangan masuk dulu Al. Kita tunggu kedatangan polisi" ujar bapak-bapak.


"Apa yang terjadi? Kenapa saya tidak boleh masuk? Dan kenapa harus menunggu kedatangan polisi? Dimana emak saya?" Pertanyaan Alfi yang bertubi-tubi tak mampu di jawab oleh mereka satu pun.


Dengan sekali sentakan tangan yang memegang Alfi terlepas.


"Jangan halangi saya. Saya ingin bertemu emak saya" ujar Alfi dengan mata yang sudah memerah. Hati Alfi sudah menduga telah terjadi sesuatu kepada sang emak. Namun otak Alfi menolak, semua apa yang di rasakan oleh hatinya.

__ADS_1


Alfi berdiri mematung, melihat mayat sang emak yang tergeletak di dalam kamar. Tidak ada yang berani masuk ke dalam kamar itu. Dan tidak ada pula yang berinisiatif untuk menutupi jenazah itu. Mereka takut akan di jadikan tersangka. Makanya mereka memilih untuk menunggu kedatangan polisi terlebih dahulu.


"Maaaaakkkkkkkkkk" teriak Alfi dengan badan yang luruh ke lantai.


__ADS_2