Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
sang penyemangat


__ADS_3

Di tempat lain Mustafa dan Dono sedang berada di luar kota bersama Anto. Mustafa mendapatkan berita yang tersebar dari halaman media sosial miliknya. Betapa kagetnya Mustafa melihat berita itu. Di tambah lagi dia terbukti sebagai tersangka atas pembunuhan tersebut.


"Bagaimana mungkin polisi menetapkan kamu sebagai tersangka Mus?" Tanya Dono heran.


"Aku juga heran Don. Kan kamu tau dari kemarin aku tidak pulang kerumah. Dan kita sedang di luar kota. Bagaimana ini? Seperti nya aku harus bersembunyi dulu sampai keadaan aman terkendali. Kalau tidak aku akan di tangkap sebagai pembunuh istriku sendiri." Ungkap Mustafa.


"Kasihan sekali nasib mu Mus. Aku kok kepikiran istri dan anak ku dirumah ya? Semoga saja mereka baik-baik saja, dan tidak mencari keberadaan ku" ujar Anto.


"Syukur aku belum mempunyai istri. huuff" Dono membuang nafas gusar.


"Lalu kita akan kemana lagi ini. Seperti nya di tempat ini sudah tidak aman lagi untuk ku" tanya Mustafa.


"Seperti nya kita harus berpisah di sini. Aku akan pergi ke pulau seberang. Kalau kalian terserah saja mau pergi kemana" ujar Anto.


"Kalau begitu aku kan kembali ke rumah ku di kampung" ujar Dono.


"Kamu gimana Mus?" Tanya Anto.


"Entah lah. Aku juga bingung harus pergi kemana lagi. Istriku sudah meninggal dan sekarang aku menjadi buronan polisi. Rasanya ingin aku menghabisi nyawa ku sendiri" rutuk Mustafa.


"Jangan begitu Mus, kalau kamu mau ayok ikut aku kembali ke kampung halaman ku. Kita akan bersembunyi di dalam rumah ku. Dan kita keluar nya ketika malam saja" tawar Dono.


"Kamu yakin itu akan aman Don?" Tanya Anto.


"Ya mau gimana lagi bos. Semua sudah terlanjur dan kepalang basah. Hanya disitu tempat yang aku punya sekarang ini" sesal Dono.


"Tapi kalian ingat. Jika suatu saat nanti kalian tertangkap, jangan pernah kalian menyeret nama ku. Yang membunuh Wati itu kalian bukan aku. Dan bukan juga atas perintah ku. Paham kalian" ujar Anto serius.


Mustafa dan Dono setuju dengan penuturan Anto. Akhirnya mereka bertiga berpencar di kota itu.

__ADS_1


***


Siang harinya di rumah Alfi.


"Al? Lu dirumah?" Sorak Rendi dari halaman Alfi.


Alfi keluar dengan keadaan yang sangat kacau. Matanya sayu dengan lingkar hitam di tepinya. Bibir nya tampak kering dan tidak ada semangat hidup.


"Hei, lu kenapa begini Al?" Tanya Rendi. Namun Alfi tidak menjawabnya.


"Al, lu jangan larut dalam kesedihan dong. Lu masih punya gue Al." Rendi memeluk tubuh Alfi. Tak ada penolakan dari Alfi. Karna memang harus di akui, di saat-saat seperti ini pelukan dari seseorang lah yang dapat menenangkan hati yang terluka.


"Makasih ren" ujar Alfi melerai pelukan itu.


"Lu pasti belum makan kan? Ayok kita cari makan ke luar ajak Rendi.


Alfi mengangguk menyetujui nya. Sebelum Keluar Alfi kembali kedalam untuk membersihkan tubuhnya. Setelah di rasa bersih dan segar, barulah Alfi pergi bersama Rendi. Kali ini mereka berangkat menggunakan satu motor. Yaitu moge milik Rendi. Sedang satria Fu milik Alfi tinggal di rumah.


"Iya, gue nggak bisa tidur" bohong Alfi. Padahal Alfi lah tadi malam yang membunuh dua sejoli itu, istri dari Mustafa. Tapi Rendi tidak tau akan hal itu.


"Ya sudah kalau begitu malam ini lu tidur tempat gue saja. Di rumah ada nyokap sama bokap gue kok. Jadi lu nggak usah takut" tawar Rendi.


"Eh nggak usah ren. Gue nggak enak ngerepotin lu. Gue juga nggak tega ninggalin rumah itu ren. Bagaimana pun di situ banyak kenangan gue sama emak gue" ujar Alfi sedih.


"Maaf gue tidak bermaksud buat lu sedih lagi. Yasudah kalau begitu, gue tidak akan memaksa lu lagi" Rendi menambah kecepatan moge nya.


Bukannya pergi mencari makan, Rendi malah membawa Alfi kerumahnya.


"Katanya mau makan?" Tanya Alfi.

__ADS_1


"Iya kita makan di rumah gue. Lu tau kan semenjak kejadian cicak waktu itu, gue sudah tidak mau lagi makan makanan luar. Kecuali memang terjamin kebersihannya" jelas Rendi.


"Ayo masuk" Rendi memegang tangan Alfi dan membawanya masuk.


"Ma?" Panggil Rendi.


"Eh sudah pulang kamu ren. Katanya mau ketempat Al-.." ucapan mama Rendi terhenti.


"Ini orangnya sudah ada disini ma" Rendi tersenyum manis. Alfi segera menyalami mama Rendi.


"sehat Tan?" Tanya Alfi.


"Alhamdulillah sehat Al. Tante turut berduka cita atas kepergian ibu kamu ya Al. Maaf Tante tidak bisa hadir waktu itu" ujar Rina mama Rendi.


"Iya Tan, nggak apa-apa kok." Alfi membuat senyum di bibirnya.


"Ma, makanan ada kan. Aku lapar" ujar Rendi mengalihkan pembicaraan.


"Ada dong. Itu mama baru sudah masak, makan gih sana ajak Alfi sekalian. Mama mau mandi dulu" ujar Rina lalu pergi meninggalkan Alfi dan Rendi.


"Ayo makan." Kembali Rendi menarik tangan Alfi.


"Makan yang banyak Al. Biar kamu cepat besar" guyon Rendi.


"Apanya yang besar?" Cibir Alfi.


"Hehehe, badan lu maksud gue. Jadi lu maunya yang mana yang besar?" Tanya Rendi menghibur.


"Yang mana saja boleh, yang penting asyik" sambung Alfi. Mereka berdua tertawa lepas.

__ADS_1


Baru kali ini Alfi bisa tertawa selepas itu. Setelah kepergian Wati, Alfi tidak lagi mengenal yang namanya tawa. Namun Rendi mampu mengembalikan tawa yang hilang itu.


__ADS_2