
Sepulang sekolah, Alfi memutuskan untuk langsung pulang kerumahnya.
"Sudah pulang pit. Ayo langsung makan, kamu pasti sudah lapar kan?" Ajak Wati.
Alfi memegang perutnya, yang memang dari kemarin sore belum terisi sama sekali. Dengan sigap Alfi duduk di samping sang emak. Lalu menyendok nasi kepiring milik nya.
Untuk mengalihkan perhatian, Alfi mengajak sang emak ngobrol sambil makan.
"Mak, sebentar lagi aku mau ikut ujian Nasional Mak." Ujar Alfi.
"Terus?" Tanya Wati.
"Kami akan mengadakan belajar kelompok Mak. Tapi sesudah isya sampai jam 10 atau jam 11 paling lama. Kira-kira emak keberatan tidak?" Tanya Alfi sambil memasukan nasi ke mulut nya.
"Memang kalian belajar nya di rumah siapa?" Tanya Wati.
"Di rumah guru yang bersangkutan Mak. Setiap mata pelajaran nya kan punya guru masing-masing" jelas Alfi.
"Nanti kamu mau pergi pakai apa pit? Kan kamu sudah mendengar peringatan paman kamu waktu itu" Wati menggantung nasi yang ada di depan mulutnya.
"Iya sih mak. Tapi tadi aku menemukan ini Mak" Alfi mengeluarkan kotak pensil milik Lia.
"Ini apa?" Tanya Wati.
"Emak buka saja, Kalau emak penasaran" pinta Alfi.
Wati mencuci tangannya dan membuka kotak pensil yang ada di depan matanya.
"I-ini beneran uang pit?" Tanya Wati kaget. Alfi hanya mengangguk mengiyakan, sembari terus mengunyah.
"Dan ini ATM kan pit?" Tanya Wati lagi.
"Iya, emak ku sayang" jawab Alfi singkat.
"Kamu dapat dari mana ini semua pit?" Ucap Wati ketakutan.
"Jangan bilang kamu mencuri ya nak. Emak tidak suka, kamu mendapatkan uang dari jalan yang tidak benar. Biar lah kita miskin harta nak. Yang penting kita selalu di jalan-Nya" nasehat Wati.
"Mak, dengarin dulu penjelasan aku. Jangan menuduh aku yang tidak-tidak. Emak kan tau anak emak ini orang nya kayak gimana. Nggak mungkin lah aku mencurinya Mak." Protes Alfi dengan nada yang lembut.
"Terus kamu dapat ini dari mana pit?" Wati mulai melunak.
"Aku menemukan ini di jalan Mak, dan ketika aku lihat isi nya uang sama ATM. Di ATM itu terdapat kode pin nya. Dan coba emak baca ini." Alfi menunjukkan selembar kertas yang ada di sana.
"Barang siapa yang menemukan ini. Simpan lah, gunakan untuk jalan kebaikan" baca Wati dengan suara pelan, namun masih bisa di dengar.
(Flashback)
Sepulang sekolah Alfi di cegah oleh Lia. Lia memaksa Alfi untuk segera membuka isi kotak miliknya.
"Ini beneran uang?" Tanya Alfi.
"Benar lah Al. Masak cuma kertas yang di coret-coret" ujar Lia dengan wajah pucatnya.
"Al, pakai lah semua uang dan ATM itu untuk memenuhi kehidupan kamu. Aku sudah mengizinkan semua nya untuk kamu Al. Jadi gunakan lah untuk jalan kebaikan" ucap Lia datar.
"Maaf Lia, aku tidak berhak dengan uang ini. Ada ibu kamu yang lebih berhak dari pada aku" jawab Alfi serius.
"Itu uang ku Al, jadi aku berhak memberi kan kepada siapa pun. Uang itu hasil dari menabung ku selama ini. Dan di situ aku sudah menuliskan wasiat untuk yang menemukan nya setelah kematian ku" Lia terdiam sejenak.
"Dan aku mempercayai uang itu untuk mu. Beli perlengkapan yang akan memudahkan kita untuk balas dendam. Kamu memerlukan motor kan Al. Maka beli lah, itu akan memudahkan kita untuk beraksi" pinta Lia.
"T-tapi.." baru akan berbicara Lia sudah cabut duluan.
"Dasar nih hantu. Suka datang dan pergi tanpa di minta. Datang nya bikin jantungan, perginya bikin orang kebingungan." Umpat Alfi
__ADS_1
"Makasih Lia" gumam Alfi sambil menggenggam erat kotak yang masih ada di tangan nya.
Lia memperhatikan Alfi dari jauh. Lia senyum dengan senyuman terbaiknya.
'terima kasih banyak al.' batin Lia lalu dia menghilang.
(Flashon)
"Bagaimana Mak? Apakah boleh kita memakai uang ini?" Tanya Alfi.
"Kalau sudah seperti ini, menurut emak sah-sah saja jika kita menggunakan nya. Lagian disini juga sudah di tulis wasiatnya." Jawab Wati jujur.
"Bagaimana kita gunakan untuk membeli motor Mak. Bukan kah kita sangat membutuhkan nya sekarang ini. Mengingat Al akan mengikuti belajar malam" saran Alfi.
"Apakah uang ini cukup untuk membeli motor pit?" Tanya Wati.
"Seperti nya lebih dari cukup Mak, besok aku akan mengecek nya di bank. Kalau cukup, aku akan meminta tolong teman ku, untuk mencarikan motor second yang masih layak pakai" ujar Alfi sumringah.
"Baik lah kalau begitu, kamu saja yang simpan semua uang ini. Kalau emak yang simpan takutnya emak khilaf. Hehehe" Wati tertawa menampakkan giginya yang sudah ada yang ompong.
Tak terasa nasi yang Alfi makan habis juga. Karna asyik mengobrol dengan sang emak, Alfi tidak lagi mengingat darah bercampur belatung tempo hari.
Sekarang perut Alfi sudah terisi, dan tenaganya pun sudah kembali sepenuhnya.
"Mak aku ganti baju dulu ya" Wati mengangguk dan Alfi berlalu meninggalkan sang ibu.
***
Keesokan harinya.
Alfi kembali berangkat ke sekolah. Sudah beberapa hari ini Alfi selalu di jemput oleh Rendi ke rumah. Rendi dengan senang hati mengantarkan Alfi ke sekolah.
Semenjak sang paman meminta ganti rugi. Alfi dan Wati tidak mau lagi memakai motor milik paman nya.
"Ren, hari ini lu sibuk tidak?" Tanya Alfi.
"Bisa tidak lu temani gue cari motor second?, Aku butuh banget soalnya" jelas Alfi yang duduk di boncengan belakang.
"Bisa-bisa, tapi sepulang sekolah ya. Hari ini aku ada praktek soalnya" jawab Rendi.
"Oke bos, jangan lupa ya. Aku tunggu di sini ya" Alfi turun dari motor Rendi, karna Alfi sudah sampai.
Rendi kembali memacu moge nya, menuju SMK tempat dia bersekolah. Entah kenapa akhir-akhir ini Rendi sangat tertarik dengan Alfi. Bahkan ketika Rendi sudah memiliki kekasih, Alfi tetap nomor satu baginya.
Alfi dan Rendi memang sudah berteman sejak lama. Namun Karna jarak rumah yang berjauhan, membuat Alfi dan rendi jarang untuk bertemu. Dan hanya say hello melalui telvon. Sekali-kali mereka akan bertemu hanya untuk bercerita dan berkeluh kesah.
Namun dalam Minggu ini, Rendi selalu menyempatkan diri untuk mengantar jemput Alfi sekolah. Sebenarnya sekolah Alfi dan Rendi berlawanan arah. Tapi itu tidak masalah bagi Rendi. Toh dia bisa menyogok satpat agar di perbolehkan masuk ke perkarangan sekolah.
"Al," sapa Lia.
"Buset lu. Ngapain sih pagi-pagi udah buat sport jantung saja" protes Alfi.
Alfi memang sering datang lebih awal akhir-akhir ini. Saat ini di kelasnya belum datang satu orang pun siswa. Di kelas lain, sudah ada satu persatu yang datang.
"Al, jangan lupa dengan misi kita. Aku sudah mengetahui target utama kita, hihihihi" Lia tertawa melengking.
"Stopooopp. Bisa nggak sih kamu jangan menyiksa aku. Sudah datang selalu tiba-tiba, di tambah lagi ketawa mu itu membuat telinga ku sakit" protes Alfi.
"Hehe, sorry Al" ujar Lia mengecilkan suara nya.
"Jadi perlengkapan apa yang harus aku beli?" Tanya Alfi.
"Baju serba hitam untuk kamu Al. Pisau, dan benda tajam sejenis nya" ujar Lia datar.
"Untuk apa semua benda tajam itu?" Tanya Alfi polos.
__ADS_1
"Hihihihi, ya untuk memberikan mereka pelajaran lah Al. Masak kita mau jualan" cibir Lia.
"Kalau itu gue juga tau Lia. Tapi gue nggak mau ya menjadi pembunuh. Dan ingat gue cuma bantuin lu. Untuk meminjam kan raga guee nggak bisa Lia." Alfi membuang nafas gusar.
"Disini gue cuma bantuin lu buat pantau target, selebihnya gue serahin Sama lu. Oke?" Pinta Alfi.
"Siap bos. Sesuai dengan permintaan kamu Al. Aku tidak akan menjadikan kamu seorang pembunuh. Dan terima kasih sudah mau membantu ku Al." Lia tersenyum, lalu pergi.
Beberapa murid mulai berdatangan, termasuk Fii.
"Al?" Sapa Fii dengan wajah yang sangat gusar. Bibir Fii pucat dan matanya memiliki lingkar hitam. Seperti nya dia kurang tidur malam tadi.
"Iya, kenapa Fii?" Tanya Alfi biasa-biasa saja.
"Lu mau dengar cerita gua tidak? Gua butuh teman untuk curhat" pinta Fii.
"Boleh. Tapi nanti saja pas istirahat ya. Soalnya sebentar lagi bel akan berbunyi" sesuai dengan perkataan Alfi. Bell pun berbunyi, menandakan jam ajar mengajar telah boleh di lakukan.
"Mau apa dia" bisik Lia yang duduk di samping Alfi. Alfi mengangkat kedua bahunya, menandakan tidak tau.
"Ingat ya Al. Jangan sampai kamu jatuh hati atau termakan rayuan maut dia. Dia adalah predator yang paling ganas." Bisik Lia lagi.
"Ya elah, siapa juga yang mau sama dia. Kalau gue mau udah dari dulu cuy" jawab Alfi dengan suara nyaring.
Semua mata tertuju pada Alfi. Alfi tersenyum salah tingkah.
"Al, kamu kenapa?" Tanya buk yus.
"Hehe. Nggak kenapa-napa kok buk. Ini aku lagi baca dialog" bohong Alfi.
"Ibu kira kamu kesambet apaan. Ya sudah kembali fokus ke pelajaran" tegur sang guru.
'awas lu ya Lia. Bisa-bisa nya lu ngerjain gue' batin Alfi.
Lia yang nangkring di tempat biasa, tertawa cekikikan.
4 jam pertama sudah selesai. Sekarang semua siswa dan siswi di perbolehkan untuk istirahat. Fii dengan sigap menahan tangan Alfi.
"Al. Katanya lu mau dengarin cerita gue" Fii mengingat kan.
Alfi lantas kembali duduk di kursi nya.
"Iya, mau cerita apa?" Tanya Alfi datar.
"Lu tau tidak? Semenjak kematian Lia, gue selalu di hantui oleh roh nya yang gentayangan. Gue takut Al" curhat Fii.
"Loh kenapa bisa seperti itu? Apa lu punya masalah dengan Lia?" Alfi mulai menjebak Fii dengan kata-kata.
"Nggak ada sih Al. Makanya gue bingung, kenapa Lia sangat marah sama gue" ujar Fii bohong.
'sudah seperti itu masih juga membela diri' batin Alfi mendumel.
"Memang apa yang di katakan roh Lia sama lu?" Tanya Alfi.
"Dia tidak bicara Al. Hanya saja, dia datang dengan wujud yang sangat mengerikan. Wajahnya pucat kebiru-biruan Al. Lidahnya menjulur keluar, matanya melotot seakan-akan ingin keluar dari sarangnya.di tambah lagi darah yang selalu menetes dari hidung dan mulutnya. Lu tau Al, di setiap darah yang menetes ada belatung-belatung kecil yang menggerogoti nya. Iiiiiiiihhhh ngeri" Fii meliuk-liuk kan badanya, karna geli.
"Udah lah Fii. Jangan di bahas lagi. Jijik gue" protes Alfi.
"Al, bantuin gue Al. Gue nggak mau di ganggu terus sama hantu Lia Al" rengek Fii.
"Gue harus bantuin apa coba Fii. Lu kan tau gue nggak bisa apa-apa. Bahkan buat liat hal gaib saja gue nggak bisa" Alfi merasa keberatan.
"Gue yakin lu bisa bantuin gue Al. Soalnya beberapa hari ini gue perhatiin lu, sikap lu kayak berubah gitu Al. Apalagi tiba-tiba ngomong sendiri. Gue yakin lu bisa melihat Lia kan?" Tanya Fii.
"Bisa melihat Lia dari Hongkong. Mungkin cuma perasaan lu kali ya.? Makanya jangan kebanyakan menghayal. Jadi begini deh akhirnya" ejek Alfi.
__ADS_1
Tak mau memperpanjang masalah, Alfi memutuskan untuk keluar dari kelas. Di saat-saat seperti ini hanya sebatang nikotin yang mampu membuat Alfi tenang.