Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
demi melindungi


__ADS_3

Lia dan Alfi sama-sama memasuki kamar masing-masing. Dengan sekali sentuhan istri dari Anto jatuh pingsan.


"Maafkan aku buk de, aku tidak bermaksud menyakiti mu. Tapi kekejaman suami mu harus aku balas" Alfi segara menggorok leher istri Anto dengan brutal.


Ketika gorokan itu terlepas, tubuh istri Anto mengelinjang seperti ayam yang habis di potong. Tak lama kemudian tubuh itu sudah berhenti bergerak. Tak lupa kali ini Alfi benar-benar melepaskan amarahnya.


Kepala Istri Anto yang sudah hampir putus di gantung oleh Alfi di depan pintu masuk ke kamarnya. Sedangkan bagian tubuhnya di mutilasi dengan beberapa bagian.


Hal serupa juga di lakukan oleh Lia. Namun Lia masih sempat untuk meminum darah anak dari Anto. Karna bagi Lia darah manusia itu akan membuat dia awet dan bertahan lama untuk tinggal di tubuh itu.


Anak Anto di bunuh dengan tusukan di bagian perutnya. Namun matanya hilang dan beberapa organ dalamnya ikut hilang, karna di makan oleh bayi putri.


"Sudah siap Al" Lia berjalan mengahampiri Alfi.


"Ayo kita pergi, sebentar lagi si Anto akan pulang" ajak Alfi.


Dengan langkah yang sedikit tergesa Alfi dan Lia keluar dari rumah Anto. Sepatu yang mereka gunakan meninggalkan jejak di setiap lantai rumah. Namun jejak itu tidak terlalu jelas. Dan itu tidak bisa menjadi bukti yang kuat untuk mencari siapa pembunuh sebenarnya. Kecuali ada sidik jari yang tertinggal.


"Kita harus kembali ke kota malam ini" ajak Alfi dengan tergesa.


"Bagaimana kita bisa keluar dari kampung ini Al. Bisa-bisa kita akan di curigai" pendapat Lia.


"Makanya, Sebelum kampung ini di hebohkan dengan penemuan mayat itu. Kita harus sudah keluar dari sini. Kalau tidak mereka akan menuduh kita sebagai pembunuh nya" jelas Alfi yang sedang mengganti bajunya yang sudah kotor.

__ADS_1


"Ayo" ajak Alfi yang ingin keluar rumah.


Baru saja ingin membuka pintu. Alfi melihat cahaya motor milik Anto memasuki perkarangan rumahnya.


"Cepat Lia. Waktu kita sudah habis" Alfi melewati pintu belakang dan berlari membelah keheningan malam. Sesekali kaki alfi tersandung oleh bebatuan yang tak nampak. Beda dengan Lia, karna Lia adalah roh maka Lia bisa melihat dalam kegelapan malam.


Sesampainya di perbatasan kampung Alfi harus menunggu beberapa saat, karna ada beberapa orang yang sedang patroli memeriksa keamanan kampung.


Setelah mereka benar-benar pergi baru lah Alfi menghidupkan motor nya dan melajukan nya dengan kecepatan penuh.


"Hati-hati Al, aku belum mau mati" ujar Lia.


"Lu udah mati Lia, mending lu diam sekarang. Dari pada kita mendapat masalah" jawab Alfi menambah kecepatan motor nya Bakat Alfi di dalam dunia perbalapan memang sangat di akui. Dalam keadaan terdesak sekali pun Alfi masih bisa mengendalikan motor nya dengan baik.


"Gila kamu Al, satu jam tembus dari kampung ke kota. Biasanya memakan waktu 2 jam" protes Lia.


"Udah kita masuk dulu. Gue mau mandi, gerah soalnya" jawab Alfi dengan langkah gontai masuk kedalam kosan nya.


Selesai mandi Alfi kembali mengaktifkan ponselnya.


"Ting"


"Ting"

__ADS_1


"Ting" sebuah pesan dengan bertubi-tubi.


"Siapa?" Tanya Lia.


"Rendi, siapa lagi" jawab Alfi. Mendengar nama Rendi Lia tidak mau lagi untuk bertanya.


(Al lu kemana? Tadi gue samperin ke kosan lu.  Lu nggak ada di sana.) Alfi membaca pesan Rendi.


(Sorry ren, gue tadi mencari udara segar sama Ratna. Ini kami baru pulang.) Balas Alfi.


"Ting" satu pesan kembali masuk.


(Oh syukurlah, gue kirain kalian kemana tadi. Gue sampai nggak bisa tidur mikirin lu Al.) Balas Rendi.


(Makasih udah khawatirin gue ren. Selamat malam.) Alfi mengakhiri percakapan mereka.


(Selamat malam juga Alfitri) balas Rendi dengan akhiran emot kiss.


Alfi hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Kalau boleh jujur Alfi bisa membaca cara Rendi memperlakukan nya. Namun seperti nya Rendi takut untuk mengungkapkan perasaan nya.


Kendati demikian, Alfi tidak akan menerima Rendi untuk menjadi pacar maupun suaminya. Alfi tidak ingin Rendi mendapatkan masalah karna ulah Alfi sendiri. Resiko balas dendam Alfi sangat lah besar. Satu kali saja ketahuan Alfi bisa di hukum mati dan itu akan berdampak buruk bagi Rendi.


"Semoga kamu bisa menemukan wanita yang bisa membahagiakan mu ren" lirih Alfi sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2