
Selapas makan Rendi sengaja membawa Alfi untuk memainkan geme di ruang keluarga nya. Siapa tahu Alfi bisa melupakan luka yang sangat dalam itu sejenak.
Rendi mempersilah kan Alfi untuk memilih permainan yang dia ingin. Entah kenapa pilihan Alfi mendarat di salah satu game tentang pembunuhan.
Dengan semangat Alfi memainkan geme tersebut. Bahkan Alfi sangat lincah dan teliti membunuh setiap musuh yang muncul. Padahal Alfi baru pertama Kalinya memain kan permainan itu.
" keren Al." Puji Rendi.
" Hehe makasi ren. Mungkin cuma kebetulan kok" ujar Alfi.
Karna hari sudah semakin sore Alfi segera meminta untuk di antarkan Rendi pulang ke rumah.
Sepulang nya dari rumah Rendi, Alfi kembali mempersiapkan diri nya. Semua peralatan yang dia butuh kan telah berada di dalam ranselnya.
" Hey" Lia membuyarkan lamunan Alfi.
" Bagaimana Lia? Apakah kamu sudah menemukan tempat nya?" Tanya Alfi.
" Tentu sudah dong Al. Mustafa dan Dono sedang di kampung halaman Dono. Tidak terlalu jauh dari kota utama. Kemungkinan besar memakan waktu 6 jam perjalanan" jelas Lia.
" 6 jam? Itu waktu yang cukup Lia. Kita bisa sampai disitu tengah malam. Dan itu adalah waktu yang pas untuk mengakhiri hidup mereka, Sungguh aku sudah tidak sabar." ujar Alfi dengan wajah datar dan dingin.
" Kalau begitu gue berangkat sore ini"sambung Alfi. Sambil menyandang ransel di punggung nya. Dan tak lupa dia memakai helm sebagai pelindung kepala.
Dengan kecepatan sedang Alfi memacu kendaraan nya. Di jalan Lia senantiasa duduk di jok belakang Alfi.
" Apakah tempat nya di keramaian?" Tanya Alfi.
" Kali ini kamu sangat beruntung Al. Mereka tinggal di rumah yang sedikit masuk ke dalam hutan. Aku rasa kamu akan bebas menyiksa mereka" ujar Lia.
__ADS_1
"Bagus lah kalau begitu. Aku ingin sekali melihat mereka, merasa kan betapa sakitnya meregang nyawa" kata Alfi lagi.
Di benak Alfi sudah penuh dengan fantasi mencincang tubuh mereka. Entah kenapa akhir-akhir ini Alfi sangat senang dengan yang berbau pembunuhan, darah dan sebagainya. Alfi berubah drastis menjadi seorang spikopat atau pembunuh berdarah dingin.
6 jam telah berlalu, akhirnya Alfi Sampai di mushola yang sudah terbengkalai. Alfi sengaja menyembunyikan motornya disana, agar memudahkan Alfi untuk kabur nantinya.
Sama dengan kasus yang pertama, Alfi menggunakan pakaian serba hitam, masker, dan tak lupa sarung tangan.
Namun ada tambahan kali ini yang dibawa Alfi. Yaitu obat bius dengan dosis rendah. Walaupun tubuh memakai obat bius ini. Maka tubuh kita tidak akan kehilangan kesadaran.
Dengan langkah gontai Alfi berjalan menelusuri semak belukar. Alfi dengan mata elangnya memperhatikan setiap sudut rumah untuk memastikan situasi.
Jam menunjukkan pukul 2 malam. Alfi segera beraksi dengan sangat cepat. Dalam hitungan menit Alfi sudah berhasil menerobos ke dalam rumah semi permanen itu.
Lia kembali berdiri di depan pintu kamar Mustafa dan Dono. Ternyata mereka memilih satu kamar berdua.
' bagus, itu akan lebih memudahkan gue untuk beraksi' batin Alfi.
" Sleepp" dua suntikan menancap di kedua tubuh laki-laki itu. Alfi dengan cepat menekan ujung suntikan agar cairan itu masuk ke dalam tubuh mereka.
Namun Karna Mus dan Dono kaget alfi jadi terhuyung kebelakang. Tanpa di duga-duga ternyata Mustafa menyimpan pisau di balik bantal nya. Satu kali ayun pisau itu mampu menggores bahu Alfi bagian atas. Darah mengucur keluar. Namun Alfi dengan cepat menutup luka itu menggunakan tangan berharap bisa menghentikan pendarahan.
Ketika Mustafa ingin menancapkan pisau itu lagi. Tiba-tiba mereka berdua tumbang. Efek dari obat bius itu sudah bekerja. Alfi sejenak melupakan rasa sakitnya. Bahu yang tadi terluka tidak lagi Alfi peduli kan.
Dengan semangat Alfi mulai memotong tangan Mustafa. Mustafa meringis kesakitan namun tidak bisa melawan.
Alfi memutilasi satu tangan Mustafa menjadi beberapa bagian. Setelah itu kembali Alfi memotong satu tangan dan dua kaki milik Mustafa. Seketika Mustafa pingsan tak sadarkan diri. Dono yang melihat itu menetes kan air mata.
Ingin rasanya Dono lari namun itu sangat mustahil baginya. Dono hanya bisa pasrah Sekarang. Dan untuk berbicara saja Dono sudah tidak sanggup.
__ADS_1
Selesai dengan 2 tangan dan 2 kaki. Sekarang Alfi beralih membongkar isi perut Mustafa. Semua usus, hati dan jantung di keluarkan oleh Alfi menggunakan tangan nya. Setelah benar-benar puas baru lah Alfi beralih menatap Dono.
" Bagaimana dengan pertunjukan ini?" Tanya Alfi denagn suara serak. Dono hanya diam dengan tatapan memelas.
" Jawab!" Bentak Alfi.
" S-siapa kamu?" Tanya Dono sambil terkancing di dalam celana.
" Baik lah, sebelum kamu menyusul teman mu. Aku akan memperkenalkan diriku" ujar Alfi membuka maskernya.
" Apa kau mengenal ku?" Tanya Alfi. Dono menggeleng dengan lemah.
" Bagus lah kalau begitu. Tapi apakah kau mengenal wanita yang kalian mutilasi beberapa hari yang lalu?" Tanya Alfi menohok.
Dono menelan salivanya dengan kasar. Bagaimana mungkin Dono bisa melupakan kejadian itu.
" Hmm mungkin saja kamu telah lupa. Tapi tenang saja, aku akan mengingatkan nya kembali untuk mu." Jelas Alfi datar .
" Dan asal kalian tau aku adalah anak dari orang yang telah kalian bunuh dengan sadis itu. Aku datang untuk membalaskan dendam kematian orang tua ku. Sekarang giliran kau" ujar Alfi mengayunkan satu parang berukuran sedang.
"Sleeebbbb" satu tangan Dono terputus dari tempat nya.
"Aaaaaaarrggghhh" teriakan Dono di tahan oleh Alfi menggunakan bantal.
" Aku akan memberikan pengampunan tapi dengan satu syarat. Beritahu aku dimana Anto berada?" Tanya Alfi penuh penekanan.
" D-dia sudah pergi ke luar pulau" ucap Dono menahan sakit.
" Baiklah kalau begitu, terima kasih" Alfi kembali mengayunkan parang nya menebas kepala Dono.
__ADS_1
Seketika darah segar menyembur dari setiap pori-pori kepala yang terpotong. Dengan senyuman kepuasan seperti iblis, Alfi berjalan meninggalkan kediaman itu.
Sebelum benar-benar pulang Alfi menyempatkan diri untuk membalut luka nya dengan menggunakan kain kasah yang telah dia sediakan. Tak lupa Alfi mengganti baju yang sudah sobek yang berlumuran darah. Darah yang keluar dari bahu alfi cukup banyak, sehingga Alfi menjadi pusing. Dan dalam hitungan detik Alfi sudah tak sadarkan diri di dekat mushola yang telah kosong.