Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
antara ibu dan anak


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu semenjak kelulusan Alfi.


Sekarang Alfi sedang berada di salah satu universitas ternama yang ada di kota nya. Jarak rumah Alfi dan universitas memakan waktu 2 jam di perjalanan.


Alfi sudah memikirkan matang-matang tentang kehidupan nya di masa yang akan datang. Semua perkataan Wati, mampu membakar semangat Alfi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


"Hai" sapa Rendi.


"Hai ren. Lu daftar di sini juga?" Tanya Alfi.


"Hehe. Iya kok bisa kebetulan gini ya? Padahal kita tidak pernah janjian sebelum nya." Ujar Rendi sedikit tersenyum.


Alfi dan Rendi memang jarang untuk bertatap muka. Karna Mereka sibuk dengan kegiatan nya masing-masing.


"Ambil jurusan apa Al?" Tanya Rendi.


"bahasa dan sastra ren. Lu ambil jurusan apa?" Tanya Alfi.


"Rencana sih jurusan ilmu teknologi Al." Jawab Rendi.


"Bagus itu. Semoga kita di terima ya" doa Alfi.

__ADS_1


"Aamiin, Semoga saja. Owh iya Al. Lu tau kan tentang berita yang sedang viral satu bulan belakangan ini?" Tanya Rendi.


"Berita apa?" Tanya Alfi pura-pura tidak mengingat nya.


"Itu loh, tentang pembunuhan dua orang perempuan panggilan itu" Rendi mengingat kan.


"Ooo itu. Memang nya kenapa ren?" Tanya Alfi.


"Lu ingat tidak sama putri? Mantan gue yang waktu itu berkenalan sama lu?" Terang Rendi.


"Putri? Iya gue ingat memang kenapa?" Tanya Alfi.


"Ternyata salah satu dari dua orang yang meninggal itu adalah putri Al. Gue baru tau dari keluarga nya. Di waktu kejadian, setelah gue nganterin lu pulang, subuhnya gue berangkat ke pulau Sumatra. Jadi gue belum dapat informasi yang lengkap." Jelas Rendi.


"Nah, lu saja tidak menyangka kan. Apa lagi gue Al. Tapi semua itu memang benar adanya Al. Gue langsung bertemu dengan bokap nya putri" jelas Rendi tanpa ragu.


Alfi mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan dia mempercayai nya.


Alfi dan Rendi akhirnya pulang bersama ke kampung mereka. Dan mereka berpisah setelah sampai di persimpangan. Sesampainya di rumah Alfi membuka obrolan dengan Wati.


"Mak, seandainya Al diterima di universitas, apakah tidak apa-apa kalau Al ngekos. Soalnya jarak antara rumah dan universitas memakan waktu yang lumayan lama Mak. Al ingin fokus kuliah, tanpa membuang-buang waktu." Jelas Alfi.

__ADS_1


"Iya pit, Tidak apa-apa. Malah emak bersyukur kamu berfikir seperti itu. Emak yakin kamu akan menjadi orang yang sukses, Aamiin" doa Wati.


"Makasi Mak. Terima kasih emak sudah menjadi penyemangat Al di setiap waktu" ujar Alfi tulus.


"Tapi kamu harus selalu ingat pesan dan nasehat emak ya nak. Dimana pun kamu berada, kamu harus selalu mengingat nya" pesan Wati.


"Iya mak itu pasti, tapi apakah emak tidak apa-apa kalau Al tinggal selama Al kuliah?" Tanya Alfi.


"Wih kamu nak, emak sudah besar pit. Jangan di sama kan dengan anak kecil. Emak bisa menjaga diri emak kok. Kamu jangan khawatir" Wati tersenyum bahagia, melihat kekhawatiran sang anak.


"Atau mungkin kamu yang tidak sanggup berpisah dengan emak?" Goda Wati.


"Hehehe, emak bisa saja. Sebenarnya lebih tepatnya seperti itu" Alfi mengakuinya.


"Kalau tidak ada emak. Dengan terpaksa Al memasak sendiri, makan sendiri, mencuci sendiri dan semuanya Al lakukan sendiri" tatapan Alfi berubah menjadi sendu.


"Lah kan memang itu tujuan emak mengizinkan kamu untuk ngekos. Biar kamu bisa mandiri pit. Sampai kapan kamu akan menghindari pekerjaan perempuan seperti itu? Suatu saat kamu akan menikah dan mempunyai anak. Anak dan suami kamu butuh makanan yang bergizi, butuh pakaian yang bersih dan rumah yang nyaman. Ya walau rumah kita reot seperti ini tapi kita nyaman kan tinggal disini?" Tanya Wati.


"Sangat nyaman Mak" jawab Alfi.


"Maka dari itu, kamu harus bisa menjadi perempuan yang mandiri. Kamu harus bisa melakukan semua hal pit. Dan satu lagi, jadi perempuan jangan cengeng" Wati menoyor Kepala Alfi.

__ADS_1


"Lah emak kebiasaan menoyor Kepala Al." Protes Alfi sambil mengusap kepala nya.


Malam pun datang mengganti kan sang matahari. semakin lama semakin larut, Alfi dan Wati memilih untuk beristirahat secepat nya. Karna ada hari esok yang akan menyambut.


__ADS_2