
(Rumah Haikal.)
Haikal yang baru saja pulang dari kegiatan kampus, langsung masuk ke dalam unit kamar miliknya.
Dengan langkah gontai dia berjalan menuju ranjang miliknya. Haikal menutup mata sejenak, namun terbuka lagi setelah mendengar suara tangisan yang memilukan.
"Hiks, hiks,"
"Siapa yang menangis malam-malam begini?" Gumam Haikal.
Tangisan itu semakin menjadi-jadi. Semua bulu kuduk Haikal berdiri tanpa di perintahkan.
"S-siapa?" Tanya Haikal terbata. Namun masih saja tidak ada jawaban.
"Mas tolong aku" Haikal kaget mendengar suara wanita yang meminta tolong.
"S-siapa kamu?" Tanya haikal kembali sambil mengedarkan pandangannya sekeliling kamar.
"Aku disini mas, hihihihi" wanita dengan muka hancur itu muncul tepat di depan Haikal.
"Aaaaaaaaaa" Haikal langsung melompat kebelakang, sehingga bagian punggung nya terhempas ke lantai. Lia kembali tertawa cekikikan.
__ADS_1
"Mau apa kamu?" Tanya Haikal yang sedang ketakutan.
Lia dengan gesit melayang mengahampiri Haikal. Baju putih yang melekat di tubuh Lia di penuhi dengan noda darah yang berbau amis. Bagian leher Lia sudah di penuhi oleh belatung-belatung kecil yang sangat menjijikkan. Haikal langsung pingsan di tempat.
"Ini baru pemanasan kal. Kalau kamu masih berani ikut campur urusan aku dan Alfi. Maka aku tidak akan segan-segan membuat kamu mati berdiri, hihihihi" Lia menghilang di susul dengan suara nya yang juga ikut melebur.
"Dari mana lu?" Tanya Alfi ketika Lia sudah kembali ke tubuh Ratna. Ini adalah kedua kalinya dalam satu hari ini Lia meninggalkan tubuh Ratna.
"Hehe, aku ada bisnis Al. Ini baru kelar" alasan Lia.
"Bisni, bisnis. Lu habis pacaran ya sama grandong?" Tebak Alfi.
"Al, tadi lu di apain Rendi?" Tanya Lia.
"Nggak di apa-apa in kok. Jadi fikiran lu gue dia apa-apa in sama dia?" Tanya Alfi penuh selidik.
"Hehe, habisnya kamu pulang-pulang langsung bad mood. Aku kira kamu di sakiti oleh dia" ucap Lia meluruskan.
"Otak lu ya Lia. Udah mati tapi masih berfikiran jelek sama orang lain. Nanti kalau lu di lahirkan kembali lu buang deh otak yang kayak gitu" protes Alfi judes.
Bukan nya marah Lia malah tertawa terbahak-bahak. Bagi Lia setiap perkataan Alfi adalah hal yang tidak perlu di masukan ke dalam hati. Selama ini Lia sudah hafal dengan watak sahabat nya itu.
__ADS_1
"Al, aku suka deh kayaknya sama Rendi. Boleh lah ya kamu comblangin aku sama dia" goda Lia.
"Apa lu bilang? Lu mau sama si Rendi? Noh lu pergi ke kos-kosan dia habis itu lu jongkok di sana. Sampai kiamat pun lu nggak akan di terima sama dia" ujar Alfi emosi.
"Eleh sewot banget kamu Al" cibir Lia.
"Habisnya lu sih. Gue lagi pusing lu malah bikin gue tambah pusing. Sekali-kali hibur gue kek." Pinta Alfi.
"Lah emang kamu pusing kenapa Al?" Tanya Lia serius.
Alfi mulai menceritakan semua kejadian di taman tadi.
"Jadi kamu nolak Rendi?" Tanya Lia. Alfi mengangguk kan kepalanya.
"B*go banget sih kamu Al. Sudah tau kamu cinta masih juga sok jual mahal" ucap Lia yang tak habis fikir.
"Bukan seperti itu Lia. Semuanya terlalu rumit, lu kan tau gue adalah pembunuh berantai Lia. Gue takut nanti Rendi yang kena imbasnya. Gue akui gue sayang, gue cinta sama dia. Karna itu lah gue ingin dia terjauh dari masalah Lia. Apa lu tau Lia. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya gue menghilangkan jejak suatu saat pasti akan terungkap juga Lia. Gue nggak mau di saat itu tiba Rendi terseret oleh kasus gue" jelas Alfi sedih.
"Sorry Al. Aku tidak berfikir Sampai ke situ. Aku terharu melihat pengorbanan kamu Al. Semoga Rendi bisa bertahan sampai waktunya tiba Al. Dimana kamu dan dia bisa bersatu selamanya" doa Lia yang juga ikut sedih.
"Semoga saja Lia. Gue tidak mau berharap lebih dari hubungan ini. Malahan gue berdoa semoga Rendi bisa mendapatkan wanita yang baik dan Sholehah. Karna Rendi adalah laki-laki yang baik. Dan sangat pantas mendapatkan wanita yang baik juga" tutur Alfi.
__ADS_1