Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
sahabat terbaik


__ADS_3

" Al?" Panggil Rendi.


Jam sudah menunjuk kan pukul 10.15 pagi. Namun Lia masih belum sadar dari pingsan nya.


" Kemana dia? Tumben jam segini pintu masih tertutup" gumam Rendi lirih.


Rendi memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Alfi. Namun masih saja tidak ada respon. Dengan berani Alfi masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya Rendi melihat Alfi sedang terbaring lemah dengan luka sobekan yang masih menganga di bahunya.


" Astagfirullah Al." Rendi mendekati tubuh Alfi. Dan sedikit memberikan tamparan kecil di wajah Alfi. Namun Alfi masih tidak membuka mata. Rendi memeriksa denyut nadi Alfi dan ternyata masih berdenyut.


Dengan sigap Rendi menggendong Alfi dan meminta bantuan kepada warga setempat. Para warga membantu Rendi untuk membawa Alfi kerumah sakit terdekat.


Untung saja pas kedatangan Rendi ada warga yang melihat. Jadinya para warga tidak menuduh Rendi yang tidak-tidak.


" Sus, selamat kan teman saya" ujar Rendi kepada salah perawat.


" Abg tunggu disini ya, biar kami yang menangani pasien" ujar perawat. Alfi di bawa kedalam menggunakan brangkar.

__ADS_1


Para dokter dan perawat memberikan penanganan pertama untuk Alfi. Setelah semua alat bantu dipasang kan. Barulah dokter membuka kain kasah yang menutupi luka Alfi. Balutan itu tidak merata makanya luka itu masih bisa di lihat hanya dari luar saja.


Dokter segera melakukan pembersihan dengan menggunakan alkohol. Di lanjut dengan memberikan beberapa jahitan yang lumayan banyak di bagian luar dan dalam daging.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Alfi di pindah kan ke ruangan inap. Rendi dengan telaten membantu menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan Alfi.


" Bagaimana ini bisa terjadi Al?" Tanya Rendi.


" Andai saja gue telat agak semenit, pasti gue tidak akan bisa lagi melihat lu al." Tak terasa bukit bening menetes dari kelopak mata Rendi.


" Siapa sih yang sangat menginginkan kematian lu Al. Pasti mereka orang yang sama dengan yang sudah membunuh emak lu" Rendi terus saja mengoceh sambil memegang tangan Alfi.


" Aduuuuhhhhh" keluh Alfi Meringis menahan sakit.


" Alhamdulillah lu sudah sadar Al" ujar Rendi lega.


" Dimana gue?" Tanya Alfi.

__ADS_1


" Lu di rumah sakit Al. Lu punya hutang penjelasan sama gue" ucap Rendi.


" Bukan kah tadi malam gue..." Ucapan Alfi terhenti mengingat kejadian malam tadi. Hampir saja Alfi keceplosan.


" Apa yang terjadi sama lu malam tadi?" Tanya Rendi penasaran.


" Gue nggak tau ren. Tiba-tiba saja seseorang datang dan membacok tangan gue. Habis itu dia langsung pergi meninggalkan gue hingga gue tak sadarkan diri. Padahal yang gue fikir kan sekarang ini gue udah ada di syurga" Alfi tersenyum getir. Dengan terpaksa Alfi  berbohong kepada Rendi.


" Tapi syukurlah lu masih selamat Al. Gue tinggal sebentar ya. Gue keluar dulu" pamit Rendi.


Rendi meninggalkan Alfi di rumah perawatan nya. Tujuan Rendi Sekarang adalah mencari makanan untuk di konsumsi oleh Alfi.


Sepeninggalan Rendi Lia datang di dekat ranjang Alfi. Untung saja ruangan itu hanya berisikan 3 orang pesien yang ranjangnya memiliki jarak yang lumayan berjauhan.


" Istirahat lah sejenak Al. Tubuh mu sudah sangat lelah" lirih lia sedih.


" Terima kasih banyak Lia. Gue tau lu yang sudah nyelamatin gue. Kalau nggak ada lu, gue yakin sekarang due udah bertemu sama emak gue" lirih Al dengan suara lemah.

__ADS_1


" Kamu tenang saja Al. Selagi kita memiliki misi yang sama aku akan selalu berusaha melindungi kamu" Lia tersenyum ke arah Alfi.


" Sekali lagi terima kasih banyak Lia" ucap Al kembali.


__ADS_2