Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
ambigu


__ADS_3

"Maaf ren, gue hanya menganggap lu tidak lebih dari teman. Bahkan gue tidak berfikir akan mempunyai rasa terhadap lu. Jadi gue harap lu bisa memahami keputusan gue" ujar Alfi membohongi perasaannya. Rendi hanya tertunduk diam mendengarkan jawaban Alfi.


"Gue yakin ren, lu pasti bisa mendapatkan wanita yang lebih pantas untuk lu perjuangkan. Gue merasa tidak pantas untuk lu cintai ren. Karna lu tau kan latar belakang gue dari keluarga yang seperti apa" sambung Alfi menggenggam tangan Rendi.


"Maaf kan gue Al, maaf gue udah lancang mencintai lu. Maaf kalau perlakuan gue selama ini tidak bisa membuat lu nyaman. Tapi walaupun demikian kita masih bisa untuk berteman kan?" Tanya Rendi sambil melerai genggaman tangan Alfi.


"Tentu saja ren, kita akan menjadi sahabat untuk selamanya. Mana bisa gue memutuskan pertemanan ini, sedangkan selama ini lu yang selalu ada untuk gue. Maaf juga kalau gue tidak bisa membalas perasaan lu" ujar Alfi kembali menguasai suasana agar tidak terasa canggung.


"Kalau begitu ayo kita pulang, sudah hampir malam. Tidak baik anak perempuan pulang malam-malam" ajak Rendi dengan raut wajah kekecewaan.


Selama perjalanan pulang tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Rendi. Begitu juga dengan Alfi. Mereka berdua terlihat canggung dan tidak bisa menerima penolakan dari hati masing-masing.


Rendi yang di tolak oleh Alfi merasa sebagian kehidupan telah hancur dan lebur, bersamaan dengan tiupan angin malam. Sedangkan Alfi yang menolak hatinya sendiri, terasa seperti sebuah goresan luka yang tersiram oleh perasan air jeruk. Pedih, perih namun harus bisa di tahan.

__ADS_1


"Gue langsung pulang ya. Makasi waktunya"ujar Rendi sambil kembali melajukan moge milik nya.


Alfi masuk ke dalam kosan nya dengan wajah yang murung. Karna baru beberapa menit Alfi sudah merasakan perubahan dari Rendi.


'maafin aku ren, sebenarnya cinta yang paling tulus adalah ketika kita mampu untuk melepaskan orang yang kita cintai demi keselamatan dan ketenangan dirinya sendiri. Walaupun itu berat, tapi aku harus melakukan nya demi kamu' batin Alfi dengan satu bulir bening jatuh dari kelopak mata nya.


"Woy, kamu kenapa Al?" Tiba-tiba tubuh Ratna yang terbaring di samping Alfi bangun dari tidur nya.


"Lia! Gue usir lu ya dari sini!. Suka sekali ngagetin orang. Kalau mau datang permisi dulu kek, ini mau nyelonong saja. Untung gue nggak ada riwayat penyakit jantung. Kalau ada udah koiit gue." protes Alfi dengan kesal.


"Permisi Al, aku mau bangun ya. Jangan kaget" ujar Lia sambil cekikikan.


"B*ngsat lu. Udah terlambat kalau sekarang. Udah-udah, gue lagi nggak mood ni. Ganggu ketenangan gue saja" kata Alfi sambil masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Lia hanya terpelongo melihat perubahan Alfi.


"Tumben sekali dia galau seperti itu? Biasanya tidak pernah galau. Apa jangan-jangan ada hubungannya sama si Rendi ya?" Gumam Lia.


"Memang dahsyat pengaruh percintaan ini" ucap Lia sambil memutar-mutarkan kepalanya hingga 180 derajat.


Di dalam kamar mandi Alfi mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower. Akhirnya tangis Alfi pecah. Entah sejak kapan dia begitu lemah dengan masalah sepele seperti ini. Bahkan ketika emak nya di bunuh, Alfi masih mampu untuk bangkit dan membalas dendam. Namun sekarang, masalah hati seperti ini mampu membuat Alfi serapuh ini.


Di tempat yang berbeda, Rendi baru sampai di kos-kosan miliknya. Dengan badan yang lesu Rendi langsung merebahkan tubuh nya di atas ranjang.


"Kenapa Al. Kenapa lu tolak gue? Padahal gue tau lu juga punya perasaan yang sama kayak gue. Gue tau dari genggaman tangan lu Al. Gue bisa merasakan genggaman itu seolah-olah lu tidak ingin kehilangan gue?" Ucap Rendi frustasi.


"Apa yang lu sembunyikan dari gue Al. Sehingga lu tega menyembunyikan perasaan itu? Apa gue salah menaruh rasa sama lu? Apa gue memang tidak pantas buat sampingin lu" Sambung Rendi dengan memukul kasur yang ada di samping nya.

__ADS_1


"Lu lihat saja Al. Gue pasti akan mencari tau apa penyebab lu menolak gue. Dan apa yang membuat hidup lu penuh dengan tanda tanya begini? Semuanya terasa ambigu bagi gue Al." gumam Rendi.


__ADS_2