Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
melepaskan rindu


__ADS_3

"My mother Al. Aku sangat merindukan nya Al. Akhir-akhir ini aku selalu menemuinya di sini. Setiap sekali seminggu ibu akan kesini untuk mengenang kebersamaan kami." Tak terasa air mata Lia menetes membasahi pipinya.


"Kalau kamu merindukan nya maka temuilah dia Lia. Tak ada kesedihan terdalam seorang ibu kecuali kehilangan anak yang mereka sayangi." Nasehat Alfi.


"Percuma Al. Ibu tidak akan bisa melihat ku. Hanya kamu yang bisa melihat aku Al." Tutur Lia.


"Maka masuklah ke dalam tubuhku untuk merasakan pelukan itu" ujar Alfi sambil berjalan mendekati Ani, ibu dari Lia.


"Buk?" Sapa Alfi.


"A-alfi bukan?" Tanya Ani.


" Iya buk, ini aku" Alfi memeluk Ani sebagai tanda pertemuan. Lia yang berada di dalam tubuh Lia langsung menetes air mata kerinduan.


"Kamu kok ada disini?" Tanya Ani.


"Hehe iya buk. Aku kuliah di kota. Kebetulan hari ini pengen menghirup udara segar. Suntuk juga di kosan" jawab Alfi.


"Ibuk ngapain di sini?" Tanya Alfi.


"Ini sebagai bukti kerinduan seorang ibu terhadap anaknya Al. Sampai kapan pun ibu tidak akan bisa melupakan Lia. Ibu berharap bisa bertemu dengan nya walau hanya di dalam mimpi. Namun selama ini dia tidak pernah hadir Al. Makanya ibu selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat favorit Lia. Di sini ibu selalu bisa merasakan keberadaan nya. hiks" Ani menangis melepaskan beban di hatinya.


Benar saja kata pujangga, kerinduan yang paling menyakitkan adalah ketika kita merindukan seseorang namun orang yang kita rindukan sudah tidak bisa untuk kita temui.


"Ibuk yang sabar ya. Aku yakin Lia pasti juga sangat merindukan ibu di alam sana. Lia juga sangat menyayangimu ibu" tutur Alfi mewakili perasaan Lia.


Lia yang berdiri di samping Alfi menangis dengan sesegukan.


"Maafkan Lia Bu" ucap Li yang hanya bisa di dengar oleh Alfi.

__ADS_1


"Al?" Panggilan Rendi membuat suasana sedikit canggung.


"Eh kamu kenapa? kok nangis?" Tanya Rendi.


"Nggak kenapa-napa kok ren. Oh iya perkenalkan ini ibu dari teman aku Lia" Alfi memperkenalkan Ani dan Rendi.


"Rendi buk" Rendi menyalami Ani.


"Ani, ibu Lia" jawab Ani.


"Maaf sudah mengganggu kalian. Kalau begitu aku tunggu di sana ya Al" ujar Rendi menjauhi Alfi dan Ani.


Karna merasa tak enak hati. Akhirnya Alfi pamit undur diri menyusul Rendi. Sedang lai masih stay Duduk di samping sang ibu. Namun sayangnya Ani tidak bisa melihat keberadaan Lia.


" Ngapain lu sama ibu itu?" Tanya rendi.


"Nggak ada ren. Gue kebetulan melihat ibu Ani di situ. Kasihan dia ren, semenjak Lia bunuh diri, ibunya selalu pergi ke taman Ini untuk mengenang kebersamaan mereka" jelas Alfi.


"Iya." Jawab Alfi singkat.


"Ini dimakan es krim nya. Nanti keburu meleleh" tegur Rendi.


Alfi meraih satu kotak es krim yang terletak di atas meja.


"Enak?" Tanya Rendi.


"Ya enak lah. Lu mau?" Tawar Alfi. Rendi hanya tersenyum.


"Nih cobain" Alfi menyendok kan satu suapa. Es krim ke mulut Rendi.

__ADS_1


"Makasih" ujar Rendi sambim terus menatap Alfi tanpa berkedip.


"Woy, lu kenapa ren. Lu kesambet ya?" Tanya Alfi.


"Enak saja lu Al. Memang gue kesambet apa?" Tanya Rendi balik.


"Mana gue tau lu kesambet apa. Kesambet jin tongga mungkin" Alfi berujar sambil mengangkat kedua bahu nya.


"Jin tongga? Jin apa itu?" Tanya Rendi yang kebingungan.


"Ya ampun mana gue tahu ren. Jin tongga itu jin apaan. Pertanyaan lu ada-ada saja" protes Alfi.


"Al? Gue lihat-lihat lu cantik juga ya" goda Rendi.


"Nah baru tau lu ren. Jangan bilang lu telat naksir sama gue" gurau Alfi.


"Nah kalau memang gue naksir sama lu gimana dong Al?" Tanya rendi.


"Haha lu bisa saja ren. Becanda lu nggak lucu" Alfi tertawa terkekeh.


"Gue serius Al, seperti nya gue jatuh cinta sama lu" ujar Rendi meyakinkan.


Alfi langsung terdiam seribu bahasa. Bukan seperti ini yang dia ingin kan.


'andai lu tau gue seperti apa sebenarnya ren. Gue yakin lu pasti akan ngejauhin gue' batin Alfi.


"Al? Lu mau nggak jadi pacar gue. Jujur gue udah suka sama lu dari dulu. Namun gue masih ragu untuk mengungkapkan nya. Gue takut lu akan ilfeal sama gue" tembak Rendi.


Alfi masih diam membisu. Alfi tak tau harus menjawab apa. Karna di satu sisi Alfi merasa senang karna perasaan Alfi terhadap Rendi terbalaskan. Namun di sisi lain Alfi sangat khawatir Rendi akan kecewa terhadapnya.

__ADS_1


Apalagi kalau sampai Rendi terseret dengan kasus yang sedang dia lakukan. Menjadi spikopat bukan lah hal yang gampang. Bahkan kemungkinan buruk bisa saja datang secara tiba-tiba. Alfi tidak ingin Rendi merasakan dampak dari apa yang Alfi lakukan.


"Al? Lu kenapa diam? Lu nggak suka ya sama gue?" Tanya Rendi penasaran.


__ADS_2