Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
desa jurang dalam


__ADS_3

Di tempat lain, Alfi baru saja bangun dari pingsannya. Alfi terbangun dan meringis merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya.


"dimana ini?" gumamnya lirih dengan pandangan yang berkunang-kunang.


"apakah aku sudah mati?" Alfi berusaha bangkit dan berjalan dengan tertatih tak beberapa lama kemudian tubuhnya kembali ambruk ke tanah.


***


'Al kamu dimana sih?' batin Lia.


Lia dengan wujud aslinya melayang kesana kemari mencari tau keberadaan Alfi. sampai di satu titik Lia mendapati seseorang yang sedang tergeletak di atas tanah.


"Al?" panggil Lia.


Lia dengan cepat mendekati tubuh Alfi yang tergeletak, dengan kemampuan nya Lia membawa Alfi ke sebuah desa di dimensi lain yang Lia juga belum pernah menjelajahi tempat itu.


"tak apa disini dulu Al, yang penting kamu harus selamat" ujar Lia.


Lia masuk menerobos sebuah gubuk dan membaringkan Alfi di dalam sana. Keadaan di dalamnya ternyata kosong, tidak ada siapapun di sana. Dengan menggunakan tenaga dalam milik Lia, Alfi berhasil sadar dari tidur panjang nya.


"Al kamu sudah sadar?" tanya Lia cemas.


"L-lia? lu di sini?" tanya Alfi lemah.


"kamu istirahat dulu Al, jangan banyak bicara. aku akan mencari air sebentar, kamu jangan kemana-mana!" Lia kembali menghilang meninggalkan Alfi.


Dengan keadaan lemas Alfi mencoba untuk duduk, dan bersender di dinding rumah yang terbuat dari kayu. Mata Alfi menelisik ke arah sekitar "dimana ini?" pertanyaan yang keluar dari mulut Alfi.


ketika sedang sibuk dengan pemikiran nya, Alfi melihat sekebelet bayangan yang melintas tepat di depan matanya. Hawa disana sedikit berubah menjadi dingin dan pengap, sehingga Alfi agak kesulitan bernafas.

__ADS_1


"Lia?" panggil Alfi yang mengira itu adalah Lia sahabatnya.


"lu jangan main-main deh Li, gue nggak takut sama lu. Udah lu keluar gih, cara lu kuno Lia" ucap Alfi dengan nafas sedikit memburu karna kekurangan oksigen.


Namun tak ada respon atas perkataan yang di ucapkan Alfi. Dengan memutar bola mata malas Alfi terus berceloteh.


"lu ngapain ngomong sendirian Al?" tanya Lia sambil membawa air di tangan nya.


"lu nggak usah drama deh Lia, meskipun lu takut-takutin gue tadi, tapi gue nggak takut Lia. berhenti lah berbuat hal yang konyol," pinta Alfi yang tanpa sadar sudah bernafas dengan normal.


seketika Lia terdiam di tempat, sebagai makhluk tak kasat mata dia pasti juga merasakan ada hawa lain di rumah ini, tapi Lia tidak bisa menebak siapa yang memiliki hawa sebesar ini.


"lah malah begong," Alfi mengaget kan Lia.


"hehe, ini Al di minum dulu! kamu harus cepat sembuh dan aku akan mengantarmu kembali ke kampung," Lia m nyosor kan air di dalam batok kelapa.l yang dia bawa.


Alfi meminum air itu dengan rakus, karna sebenarnya dia memang merasakan haus dari tadi.


"kita diaman?" tanya Alfi.


"kita masih di kawasan jurang dalam Al. Disini tidak terlalu aman untuk kamu Al. kita harus cepat mencari jalan keluar dari sini, kalau tidak nyawa kamu bisa terancam," jelas Lia.


"bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini?" tanya Lia.


"entah lah Al, aku juga tidak tahu. tapi aku akan berusaha untuk mencari tahu, kamu percayakan sama aku?" Lia menatap Alfi dengan dalam.


"iya, gue percaya. makasi Lia" ucap Alfi sambil mengunyah.


malam ini Alfi terpaksa menginap di desa entah berantah yang saat ini dia tinggali. ketika matahari terbenam pendengaran Alfi menangkap suara berbincang-bincang di luar gubuk yang dia tempati.

__ADS_1


suara itu sangat ramai, bahkan kemungkinan ada puluhan orang di luar sana. mereka bercengkrama sambil tertawa.


"siapa di luar Lia?" tanya Alfi penasaran.


"ssssttttt, mereka ada banyak Al. nyawa mu sedang dalam bahaya. jangan banyak bergerak dan berbicara aku sedang berusaha melindungi kamu" jawab Lia dingin dan tegas.


Alf langsung terdiam, otak nya berfikir lebih cepat dan menangkap apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. meskipun sejujurnya dia merinding mendengar suara Lia yang dingin dan tegas seperti itu, tapi dia yakin Lia sangat ingin melindungi nya.


"brakkkk'


"braakkkkk" suara dobrakan pintu membuat Alfi terperanjat kaget. Lia menatap Alfi dengan tajam, mengisyaratkan jangan banyak bergerak. seketika Alfi membatu dengan sedikit menyengir.


"tetaplah diam!" Lia melayang menjauh dari Alfi.


seketika suara kegaduhan itu berhenti, dan berganti dengan suara lengkingan tawa yang menyakitkan gendang telinga.


'mustahil aku bisa membawa Alfi pergi saat ini, dengan keadaan nya yang seperti itu besar kemungkinan dia akan mati dengan sia-sia. semoga dia bisa bertahan dan pulih dengan segera, aku akan tetap berusaha melindungi nya dari para makhluk yang harus dengan darah itu,' batin Lia.


semalaman suntuk Alfi tidak bisa memejamkan matanya, karna teror silih berganti berdatangan. hingga matahari muncul barulah Alfi terlelap dengan sangat nyenyak. Sampai-sampai Lia pun tidak bisa mencegah sahabatnya untuk tidur.


'dalam dua, tiga hari ini aku masih bisa melindungi kamu Al. tapi beda lagi ceritanya kalau kita lebih lama tinggal disini, aku tidak bisa menjamin keselamatan kamu al' batin Lia yang selalu sigap berada di samping Alfi.


"kenapa para makhluk itu tidak bisa masuk ke dalam rumah ini? sedangkan aku bisa bebas keluar masuk ke dalam sini? apakah rumah ini memang khusus di buat seseorang untuk hal darurat seperti yang Alfi lalui? ataukah ada sesuatu yang tidak aku ketahui saat ini? aku harus mencari tahu semuanya" gumam Lia bicara sendiri dengan fikiran nya.


sementara Alfi tidur, Lia pergi mencari makanan dan minuman untuk Alfi ketika dia bangun nanti. Entah mengapa saat siang hari semua makhluk itu hilang ketika. karna merasa aman Lia akhirnya berani meninggalkan Alfi seorang diri.


sepeninggalan Lia, satu sosok wanita tua melayang menghampiri Alfi. sosok wanita itu sangat menyeramkan, satu tangannya memegang kepala yang terputus dengan darah yang terus menetes, dan tangan yang satu lagi hampir terlepas dari sarangnya. Di perutnya terdapat tancapan pisau yang penuh dengan darah segar. Sosok itu menyeringai kepada Alfi sehingga membuat darah segar serta beberapa belatung keluar dari mulutnya.


wanita tua itu perlahan mendekat dan menyentuh kepala Alfi dengan tangan nya yang hampir putus, genangan darah pun membasahi rambut milik gadis itu. merasakan terganggu Alfi pun mengerjap-ngerjap kan matanya.

__ADS_1


'kau milik ku dan akan tetap menjadi milik ku' sosok itu tertawa melengking lalu menghilang mengetahui Alfi akan segera terbangun.


__ADS_2