Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
penemuan dua mayat di hotel


__ADS_3

"Ser, kok dia bisa mendekati kita. Bukannya kata Fii jimad itu ada penangkal makhluk gaib" bisik putri di sela ketakutan nya.


"Jimad? Dimana jimad itu?" Tanya Serly sembari memeriksa setiap jengkal bagian tubuhnya.


"Punya ku juga tidak ada ser" ujar putri, ikut memeriksa tangan tempat jimadnya di ikat.


"Hihihihihihi. Ajal kalian sudah di depan mata. Jadi jangan mencari sesuatu yang sangat mustahil untuk kalian temukan" ucapan dan tawa Lia menggema di dalam ruangan.


"L-lia, please jangan bunuh kami. Kami hanya mengikuti kemauan Fii. Kami tidak bermaksud mengkhianati kamu" ujar Serly memohon.


"Hahaha. Sekarang kalian memohon kepada ku. Katika aku memohon untuk tidak di gauli apakah kalian mendengar kan permintaan ku? Tidak bukan?" Ucap Lia sinis.


"Aku tidak akan memberikan pengampunan untuk orang-orang yang sudah menzolimi ku. Karna kalian lah aku sampai mengakhiri hidup ku sendiri dan Sekarang terima lah pembalasan nya. Satu persatu dari kalian akan merasakan bagaiman nyawa kalian di tarik paksa dari raganya." Lia menerbangkan pisau pembuka buah ke arah Serly.


Dengan sekali gerakan, pisau itu melayang menggores leher Serly. Putri berteriak histeris. Namun tidak dapat di dengar oleh orang luar. Serly yang ambruk ke lantai dan tubuhnya kejang-kejang seperti ayam yang baru di seblih. Darah segarnya muncrat Membuat lantai menjadi basah .


Dalam keadaan sekarat, Serly masih berusaha meminta maaf kepada Lia. Namun Lia sama sekali tidak memperdulikan nya lagi.


"M-m-maafkan a- a-aku L-lia" ujar Serly terbata. Matanya melotot di penghujung nafas terakhir nya. Seketika tubuh Serly menjadi kaku. Putri hanya melihat teman nya mati dengan sangat tragis. Putri tidak dapat berkutik sedikit pun.


"Hihihihihihi" tawa Lia melengking melihat pemandangan yang begitu dia dambakan.


"Sekarang giliran kamu!" Lia beralih menatap putri.


Putri menelan salivanya. Untuk melawan pun hasilnya akan nihil. Wajah putri berubah menjadi pucat pasi. Keringat membasahi tubuhnya. Padahal di dalam ruangan itu terdapat AC, namun itu sama sekali tidak berpengaruh bagi putri.


"L-lia, boleh kah aku mengajukan satu permintaan?" Tanya putri.


"Katakan apa yang kamu inginkan" jawab Lia datar.


"Setelah kamu menghabisi ku. Kamu harus memberikan pelajaran kepada Fii. Dan sampai kan kepadanya bahwa aku sedang mengandung darah daging nya" kata putri dengan lelehan air mata.


Seketika Lia berdiam diri. Rasa kasihan pun muncul di hatinya. Bagaimana mungkin dia membunuh calon anak yang tidak bersalah. Lia tidak akan sekejam itu.


"Aku yang akan merawat anak kalian" ujar Lia mantap.

__ADS_1


Lia mendekati putri dengan perlahan. Kuku Lia yang tajam dan runcing terayun ke atas.


"sleeebbbb" sekali tekan semua jari-jari lia mampu merobek kulit perut putri yang snagat mulus. Darah segar keluar dari mulut putri.


Dan dengan sekali tarikan janin itu terangkat ke udara. Lia tertawa cekikikan. Janin yang masih berupa segumpal daging itu tak lagi berbentuk daging di tangan Lia. Seketika dia berubah menjadi seorang bayi yang baru lahir.


"Pembukaan baru saja di mulai." ujar Lia, lalu dia menghilang entah kemana, bersama dengan bayi yang masih berada di tangan nya.


Keesokan harinya.


Penginapan itu di gempar kan, dengan berita  kematian dua orang kupu-kupu malam di kamar 021. Kamar itu di lingkari dengan line polisi berwarna kuning.


Polisi sibuk mengambil beberapa bukti dan sampel di tempat kejadian. Namun tetap saja hasilnya nihil. Tidak ada satu pun barang bukti atau sidik jari yang mereka temukan di sana.


Berita itu cepat menyebar hingga terdengar di telinga Alfi dan juga Wati. Pagi itu Wati sedang berbelanja sayur di ABG sayur keliling. Semua ibuk-ibuk pada sibuk membahas tragedi berdarah tersebut.


Sepulang nya Wati dari berbelanja. Wati segera menceritakan nya kepada Alfi. Awalnya Alfi terkejut. Namun dia mampu bersikap biasa-biasa saja.


"Sangat tragis ya pit. Kira-kira siapa ya pelakunya?" Tanya Wati.


"Untung kamu semalam pulang di antar si Rendi. Kalau tidak bisa jadi pembunuh itu mengincar kamu lagi. Emak rasa dia pengintai dara muda deh." Wati mengeluar kan pendapat nya.


"Emak ada-ada saja. Kalau memang dia menginginkan dara muda. Kenapa harus kupu-kupu malam itu yang dia habisi?" Tanya Alfi menyadarkan Wati.


"Benar juga kamu pit. Oo atau jangan-jangan dia sakit hati Karna tidak puas di layani oleh mereka berdua. Makanya dia membunuh. Haa seperti nya pemikiran emak yang ini lebih masuk akal deh" Wati mengangguk-ngangguk kan kepalanya. Seakan-akan yakin kalau pemikiran nya itu benar.


"Udah ah mak. Kita tunggu hasil pemeriksaan dari polisi saja. Kalau emak menebak-nebak nanti akan lain pula hasilnya" protes Alfi.


"Aku berangkat sekolah dulu ya Mak. Takut telat" Alfi mencium punggung tangan Wati dengan takjub. Sedangkan Wati masih sibuk dengan pemikiran nya.


Ketika di perjalanan Alfi merasakan hal yang berbeda di dalam hatinya. Ada rasa kasihan dan menyesal karna Alfi telah ikut andil dalam pembunuhan tersebut. Entah kenapa rasa itu ada setelah mendengar berita tadi pagi.


"Tak ada yang perlu kamu sesali Al. Mereka memang pantas untuk mendapatkan nya. Aku yang telah membunuh mereka, jadi kamu jangan berasa bersalah. Kalau mereka tidak jahat aku pun tidak akan tega melukai mereka" bisik Lia lirih. Namun kali ini Lia tidak menampak kan wujudnya kepada Alfi. Entah kenapa tumben-tumbenan Lia seperti itu.


Sesampainya di sekolah, semua siswa dan guru saling bercerita tentang pembunuhan yang sedang viral tersebut.

__ADS_1


A : "Wih keadaan nya sangat menggenaskan loh. Yang satu mati dengan leher yang tergorok. Dan yang satu nya lagi, perutnya terurai. Semua isi perutnya juga ikut keluar"


Alfi tertegun mendengar kan nya. 'Bagaimana bisa Lia sampai hati melakukan hal tersebut. Sungguh itu sangat mengerikan' batin Alfi.


B : "Kira-kira siapa ya pelakunya?"


A : "Dengar-dengar pelakunya seorang wanita yang memakai Hoodie hitam. Pokonya semua pakaian nya serba hitam. Dia sempat tertangkap cctv di bagian sudut ruangan. Hanya dia yang tampak mencurigakan"


B : "kamu serius?"


A : "iya serius. Dan yang lebih mengagetkan nya lagi kalian tau tidak? Setelah di zoom wajah pembunuh itu mirip dengan seseorang yang kita kenal"


Jantung Alfi berdetak 10 kali lebih cepat. Bagaimana tidak, kalau saja dia menjadi kambing hitam dalam pembantaian itu. Bisa-bisa Alfi akan masuk ke dalam penjara. Emaknya akan malu dan masa depannya akan hancur.


"Sudah aku katakan Al. Bersikap lah biasa-biasa saja. Jangan pernah membuat orang curiga dengan perubahan sikap kamu. Maka kamu akan aman" bisik Lia yang terdengar di telinga Alfi. Alfi langsung mengondisikan kembali dirinya.


C :"Memang mirip siapa? Apakah dia ada di sekeliling kita?"


A :"kata petugas sih dia mirip Lia".


Mendengar nama Lia, membuat Alfi bernafas lega.


C :"L-lia? Lia Yang mati gantung diri itu kan?"


A :"Iya, petugas pun pada syok melihat orang yang ada di cctv itu."


B :"Mungkin saja mereka hanya mirip"


A : "bisa jadi sih. Tapi perkiraan petugas itu memang Lia. Karna mereka sangat mirip. Bagai pinang di belah dua. Dan bisa saja dia memang tidak meninggal kan?"


C : "tapi itu sangat mustahil. Jelas-jelas kita sama-sama melihat jenazah Lia di makam kan. Mana mungkin dia bisa hidup kembali. Ada-ada saja kamu"


B : "ah sudah lah. Tidak baik membicarakan orang yang sudah tiada. Ayo kita kembali ke kelas. Kalau membahas ini tidak akan ada habisnya."


Setelah siswi itu pada bubar, baru lah Alfi memasuki kelas untuk mengikuti pembelajaran. tak di pungkiri ada rasa beban di hati Alfi.

__ADS_1


__ADS_2