
Alina masih mengeluh dan menendang ban mobilnya itu. Raka juga masih mematung dengan kaki seperti menghujam ke permukaan aspal dan tubuh gemetar tidak karu-karuan.
Lama-lama Alina lelah terus menendang ban mobilnya yang kempes itu dana membalikkan badan dengan mata membelalak, “Tolong! Hantu Blao ….”
Raka refleks dan langsung melompat ke arah Alina, serta langsung membekap mulutnya.
“A-aku Raka Alina, tenanglah,” kata Raka sambil melepaskan perlahan bekapan tangannya.
Akan tetapi Alina kembali berteriak, karena muka Raka yang putih bersih lebih mirip hantu jin tomang di kegelapan malam, “Tolong! Ada hantu jin tomang!” teriaknya lagi.
Raka kesal dan langsung saja membekap mulut Alina dengan bibirnya yang haus akan bibir Alina yang sudah menjadi candu baginya.
Walaupun sudah tiga tahun lebih tidak merasakan lagi bibir Alina yang mungil dan lembut. Tapi ciuman bibir Alina itu masih terngiang-ngiang setiap detik di kepala Raka dan membuatnya frustasi, jika tak merasakan sentuhan bibir yang lembut dan mungil itu.
Maka dari itu anggur merah akan menjadi pelampiasan Raka jika sudah teringat akan malam pertama bersama Alina.
Alina kembali merasakan momen indah 3 tahun lalu itu di kamar hotel dan lupa diri, hingga membiarkan Raka menjelajahi mulut itu lebih dalam.
Mereka berdua terbawa hasrat di kegelapan malam dan membuat mereka berdua hilang kesadaran oleh rasa cinta yang memabukkan itu.
Akan tetapi saat mereka berdua asyik-asyiknya berciuman, tiba-tiba ada yang menjewer kuping Raka.
“Kampret! Aku tungguin malah pacaran disini. Mana nasi gorengnya sialan? Sudah satu jam aku nungguin kamu, malah gak datang-datang!” teriak Abel.
“Eh, Cungkring, hehehehe ….” Raka terkekeh pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ”Ah, kamu gak asyik. Ya sudah bantuin aku dulu. Sepertinya mobil ini bocor, hehehe ….”
“Ck, sialan! Sudah jadi obat nyamuk, sekarang malah suruh ganti ban, kampret!” decak Abel sambil menyeringai kesal dan melanjutkan, “Ya sudah, minggir! Tapi ingat aku minta duit 20 miliar buat beli sawah milik Haji Udin besok.”
“Aiiih, malah minta uang sama aku. Bukannya aku sudah transfer sat bulan yang lalu 50 miliar? Masa sudah habis saja sih,” balas Raka heran dengan Abel.
__ADS_1
Sambil membongkar ban kanan depan mobil Alina, Abel menyahuti perkataan Raka, “Sudah habis. Aku beli semua sawah di seluruh wilayah desa Mundakjaya dan semua sawah yang terhampar ini dibeli dengan uangmu itu, bonjot!”
Alina hanya bisa terkekeh pelan melihat dua orang sahabat yang terus berdebat tidak karu-karuan tersebut.
“Pantas saja mas Raka pergi kesini. Suasananya sangat asri dan juga teman mas Raka sepertinya sangat baik , serta sangat peduli sama mas Raka. Eh, kok aku panggil Raka mas Raka sih,” batin Alina lama-lama salah tingkah memperhatikan Abel dan Raka yang masih terus berdebat.
“Nona, aku saranin. Lebih baik jangan menikah sama Raka. Walaupun hartanya tujuh turunan, delapan kali belokan, dan 100 kali tanjakan gak habis-habis juga punya wajah yang sebelas dua belas dengan wajahku ini. Tapi dia kalau tidur suka ngorok dan ileran, percaya deh sama aku, hahahaha …,” ejek Abel sambil tertawa terbahak-bahak.
“Cungkring sialan! Awas saja aku potong burungmu itu!” teriak Raka kesal yang terus dicemooh sama Abel.
Mereka berdua pun kejar-kejaran di gelapnya jalanan beton seperti dua orang anak kecil yang sedang ngambek satu sama lain gara-gara saling menghina. Tapi itu yang membuat Alina hatinya menghangat dan dia bisa melihat sisi terang dari Raka.
Abel pun melanjutkan kembali mengganti ban mobil Alina yang bocor, setelah lelah dikejar-kejar Raka.
“Selesai! Tara!” Abel mengangkat kedua tangannya dengan wajah yang ceria. “Jangan lupa besok 20 milyar, oke! Dadah!”
“Ya, aku akan mentransfernya besok,” teriak Raka dan melambaikan tangan ke arah Abel yang sudah tak kelihatan lagi punggungnya, “Tapi jangan lama-lama ke pasarnya. Perutku sudah lapar!”
Setelah kepergian Abel keadaan menjadi canggung, tidak ada yang berani memulai untuk berbicara.
“Ki-kita ke rumah Cungkring saja, maksudku Abel. Gak enak banyak nyamuk disini. Aku akan di depan menuntun No-nona Alina —”
“Jangan panggil aku Nona lagi. Panggil saja Alina atau sayang juga boleh,” potong Alina sambil tersenyum lebar ke arah Raka.
Saat itu hati Raka kembali bimbang, karena dua hari lagi dia akan terbang ke Eropa untuk memburu para politisi Indonesia yang korup lagi dan menghabisi mereka. Kolaborator sudah memberinya tugas seperti itu, setelah Raka mengajukan diri lagi menjadi pembunuh bayaran.
“Maaf, Alina. Saat ini aku belum berani memanggilmu sayang, cinta, calon istriku ataupun istriku. Aku takut kamu terluka mengetahui siapa diriku sebenarnya —”
“Kamu kan CEO Eternal Grup, orang yang super tampan dan sekaligus orang terkaya nomor satu di Indonesia,” potong Alina nyerocos sudah seperti bunyi petasan rentengan.
__ADS_1
Raka belum siap kehilangan Alina saat ini, dan masih ingin terus bersamanya, walaupun hanya tersisa dua hari lagi.
Maka dari itu Raka tidak mengungkapkan identitas jati dirinya kepada Alina sekarang. Takutnya ketika Raka mengatakan kejujuran tersebut, Alina malah bertambah syok dan mengalami gangguan mental lagi seperti sebelumnya.
"Sudah, ayo!" ajak Raka.
Keduanya menaiki kendaraan masing-masing, Raka berada di depan menaiki motor bututnya untuk menuntun mobil yang dikemudikan Alina menuju rumah Abel.
Di kegelapan langit malam, tampak dua titik sinar merah dari pencahayaan sebuah drone yang sedari tadi mengawasi Raka dan Alina.
Drone tersebut terus milik Techno Enterprise, perusahaan yang digawangi oleh Monica yang bekerja sama dengan Kolaborator.
Kolaborator sendiri merupakan istilah digunakan para pembunuh bayaran sedunia sebagai media penghubung antara pembunuh bayaran, dan pemberi misi untuk membunuh seseorang atau suatu kelompok.
Tapi 3 tahun terakhir setelah Raka berhenti menjadi pembunuh bayaran, Kolaborator sudah tak dipercayai lagi oleh para penyewa pembunuh bayaran. Sebab tanpa adanya Raka di pihak mereka, semua misi 95% gagal dilakukan.
Maka dari itu Kolaborator menggunakan tangan Monica yang sangat mencintai Rak untuk membujuk Raka dengan berbagai cara, supaya Raka kembali menjadi pembunuh bayaran.
Waktu semakin larut, dan langit semakin gelap. Mereka berdua akhirnya tiba di halaman rumah Abel yang sangat luas dengan berbagai jenis tanaman bunga berada di halaman tersebut.
Raka yang canggung mempersilahkan Alina untuk masuk ruang tamu dan dia ke belakang membuat teh untuk Alina.
Pria berponi miring itu kembali membawa nampan berisikan teh hangat dan menaruhnya di atas meja, “Minumlah! Suasana malam ini pasti sangat dingin,” katanya memecah keheningan.
“Aku akan selalu hangat mas Raka. Selama kamu selalu berada disisiku. Maafkan aku yang waktu itu menamparmu. Tak sepantasnya aku melakukan itu,” balas Alina dan melanjutkan, “Terima kasih juga karena mas menyelamatkanku.”
DOR! PRANG!
Suara tembakan terdengar sangat keras dan mengenai kaca rumah milik Abel, hingga pecah berkeping-keping
__ADS_1