Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati

Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati
Tau


__ADS_3

Badrol kembali dengan membawa ayam bakar taliwang menu favorit Raka dan beberapa makanan pendamping lain.


“Silahkan dimakan! Jangan sungkan-sungkan jika makan bersamaku. Kalau kurang tinggal pesan lagi. Tenang saja,uangku tidak terbatas. Cukup telepon om aku sambil bawa surat-surat.”


Raka mengambilkan ayam sudah dipotong-potong dan menaruhnya ke piring Alina dan sangat banyak.


“Memang mas Toldep disini ada sanak famili? Kok aku belum tau?” tanya Alina penasaran tentang paman atau om yang dibicarakan oleh Rakaat.


“Ya, om aku itu om bank. Cukup bawa surat-surat berharga disekolahin deh, hehehe …,” canda Raka sambil terkekeh dan membuat Alina juga Badrol ikut terkekeh juga.


“Oalah kirain om beneran. Om bank toh.” Alina menepuk jidatnya sendiri.


Raka pun hatinya merasa senang bisa melihat tawa lepas Alina, dan semakin meyakinan dirinya, bahwa membahagiakan Alina harus dengan merubah dirinya menjadi Toldep.


Saat mereka berdua asyik makan dan bercanda. Monica memasuk restoran dan dikawal dua bodyguardnya, hingga dia melirik ke arah meja Raka dan Alina.


Kemudian Monica mendekatinya dan menyapa, ”Hai Alina! Apa kabar?”


Alina langsung gelagapan dan takut penyamarannya terbongkar. Tapi Raka berpura-pura minum es teh manis untuk menutupi mukanya dan pura-pura tidak mendengar Monica yang sedang menyapa Alina dengan sebutan nama Alina.


Monica sangat mengenali Alina dan Raka, walaupun mereka berdua sedang menyamar. Dia juga sudah mengawasi gerak-gerik mereka berdua selama ini di Sidoarjo.


Tiba-tiba dia langsung memeluk lengan Raka dan bergelayut manja, hingga mencium pipi Raka, “Kamu gak kangen aku Raka?”


JDAR!


Seperti tersambar petir di siang bolong, Alina merasakan hatinya begitu sakit setelah Monica menyebut nama Raka. Ditambah lagi Monica mencium pipi Raka tepat di depan matanya.


Alina menyanggah dengan gelagapan, ”A-aku bukan Alina. Namaku Maharani.”

__ADS_1


“Sudah, jangan bersandiwara lagi.” Monica melepaskan pelukannya pada lengan kanan Raka dan langsung menyerobot kacamata yang sedang dipakai oleh Alina. “Matamu itu tidak bisa ditutupi bahwa kalian berdua adalah Raka dan Alina.”


Raka geram dan langsung menampar Monica, “Apa sih yang kamu inginkan? Aku sudah katakan jangan ganggu hidupku lagi! Aku hanya menganggapmu sebagai adik dan selamanya aku mencintai dia!”


“Ja-jadi selama ini, aku … aku bersama mas Raka dan mas Raka ….” Alina terduduk lemas di kursinya.


Mentalnya langsung syok mengetahui jika Toldep adalah orang yang dia sukai selama sebulan terakhir ini dan Toldep ternyata Raka.


“Ya, dia Raka! Selamanya Raka akan menjadi milikku dan kau takkan melepaskannya darimu!” Monica melampiaskan amarahnya pada Raka dengan menampar Alina.


Namun ditangkap tangannya oleh Raka, “Cukup! Pergi kamu! Aku tak sudi lagi melihat wajahmu.”


“Hahaha …. Silahkan saja, tapi selamanya aku tidak akan melepaskanmu sampai kau berlutut di kakiku, memohon cinta dariku hahaha ….”


Monica pun pergi dengan tertawa puas karena berhasil merusak kesekian kali hubungan Raka yang sudah adem ayem dengan Alina.


Kali ini Raka berdiri mematung dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia bingung harus menjelaskan dari mana dan langsung berkata, “Aku selamanya mencintaimu. Aku ke Sidoarjo pun bukan untuk mencarimu, aku hanya ingin menghapus rasa cinta yang tak bisa aku hapus. Tapi roda takdir mempertemukan kita kesekian kalinya.”


“Antarkan aku pulang!” pinta Alina, lalu berjalan dengan tatapan mata hampa ke arah parkiran restoran Ayam Taliwang.


Raka pun mengejarnya dan menarik tangan Alina dengan menggenggamnya sampai tempat parkiran motor.


Saat sudah sampai di samping motor milik Raka. Pria berambut belah dua tersebut langsung memeluk Alina, “Aku bersumpah awalnya tidak mengetahui jika Maharani adalah kamu sayang. Aku mengetahui setelah aku membawamu ke rumah sakit. Tapi … kalau kamu memang tidak menginginkan kehadiranmu di sisiku lagi. Aku akan pergi selamanya dari hidupmu, aku janji.”


Para pelanggan pun melihat Raka dan Alina yang sedang berpelukan di tempat parkir. Mereka menganggap raka dan Alina tidak tahu malu,karen berpelukan di tempat umum.


Nyatanya mereka bukan lagi pacaran, tapi sedang kalut dan bingung dengan keadaan yang membuat mereka berdua syok.


Alina menangis semakin keras dalam pelukan Raka, “Pantas saja mas Raka tidak mempermasalahkan aku yang sudah kotor. Tapi kenapa setelah tahu mas Raka tidak menjelaskan padaku jika mas Toldep adalah mas Raka? Hiks-hiks ….”

__ADS_1


“Aku hanya ingin membahagiakanmu sayang. walaupun menjadi orang lain. Tangan Toldep lebih bisa kamu terima ketimbang tangan Raka. Mungkin di dalam hati kecilmu, seorang Alina Maharani memang belum bisa memaafkanku. Sehingga dia selalu pergi dariku dan menghilang,” jawab Raka dengan kedua pipi terbasahi oleh cairan bening.


Alina membalas pelukan Raka sangat erat, ”Maafkan aku mas. Aku berjanji tidak akan pergi lagi. Hatiku juga sangat sakit setiap kali jauh darimu. Makanya aku tak bisa menjawab lamaran Mas Toldep karena hatiku menolak, walaupun aku menyukai Mas Toldep.”


“Janji?” Raka melepaskan pelukannya dan peluka Alina.


Kemudian mencium kening Alina dengan sangat lembut dan membuat hati Alina yang sering menjadi segar. Seperti dataran tandus selama setahun ditimpa hujan seharian penuh.


“Ya Janji.” Alina kembali memeluk Raka dengan erat dengan hati yang sangat lega. “Kalau Mas Raka yang melamarku mungkin aku akan mengatakan ya.”


“Masa sih?” Raka senang mendengarnya, karena Alina mengatakan hal tersebut. Itu artinya hati Alina sudah terbuka untuknya dan mau memaafkan semua kesalahannya di masa lalu.


DOR! JLEB!


Monica yang sedang menunggu Alina di dalam mobil mengarahkan senapannya ke arah Alina. Tapi insting Raka dan tubuhnya reflek langsung melindungi Alina dengan memeluknya.


Akibatnya bahu kanan Raka tertembus peluru, “Uuukh!” pekiknya pelan. Tapi tetap tersenyum di depan Alina supaya dia tidak khawatir jika dirinya sedang terluka.


“Kenapa mas?” tanya Alina sedikit khawatir karena Raka memekik pelan. “Apakah ada yang ….”


“Mas! Kamu terluka!” Alina panik setelah melihat tangan kirinya yang sudah dibasahi cairan merah yang merembes ke pinggang Raka. “Kenapa kamu mas? Kita rumah sakit!”


“Te-tenang saja. Tolong bukakan jo motornya!” pinta Raka dan memberikan kunci motornya pada Alina dengan raut muka seputih kertas.


Semua pelanggan berhamburan keluar restoran Ayam Taliwang, setelah mendengar suara letusan pistol yang cukup keras. Membuat Alina semakin panik, tapi dia mencoba tenang untuk memasukan kunci ke lubangnya.


Setelah dirasa gagal, Monica pun pergi dengan air mata yang mengalir, karena tembakannya mengenai Raka bukan mengenai Alina.


Gadis bermata biru tersebut berhasil membuka jok motor Raka, "Apa yang perlu diambil mas?" tanyanya panik.

__ADS_1


"Tolong ambilkan kotak kecil di bawah kotak sedang," jawab Raka sambil memegangi bahu kanannya yang masih mengeluarkan banyak darah.


Alina pun mengambil kotak kecil yang diminta oleh Raka dan memberikannya padanya. sebab kotak tersebut tidak bisa dibuka dan hanya Raka yang bisa membukanya.


__ADS_2