
Raka menggendong Alina ala bridal style sebab wajahnya semakin pucat. Dia sangat khawatir terhadap gadis yang sangat dia cintai itu. Semua hal ini diluar prediksinya yang berpikir semuanya selesai setelah Raka memberikan uang 100 miliar pada Daniel.
Nyatanya tidak, Alina harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, 100 orang anak buah Steven dibantai habis tak tersisa oleh anggota Elite Hantu Malam dan itu yang membuat Raka sangat menyesal.
“Sayang bertahanlah! Kita akan pergi ke rumah sakit.” Raka berjalan cepat setelah keluar dari lift.
Sementara Abel dan Verald keluar bersamaan di belakang Raka ditemani Vincent beserta dua anggota Elite Hanu Malam yang memakai pakaian hitam-hitam dengan muka tertutup oleh gas mask.
Verald langsung melebarkan mata ketika melihat Raka memasukan Alina ke dalam mobil Bugatti Chiron Sport berwarna jingga. Dia tak menyangka jika Raka memang sekya itu, bukan hanya bualan belaka.
“Sial! Kenapa Alina tidak menceritakan dia padaku lebih awal. Kalau seperti ini aku kehilangan proyek dengan Eneversity Grup juga tidak masalah,” batin Verald tersenyum licik.
Semenjak hidup miskin dan terbuang dari lingkaran sosial para crazy rich, Verald tidak mengetahui jika Gibran Rakabumi merupakan orang terkaya dan terpandang nomor satu di Indonesia.
Maka dari itu, satu pertama kali melihat Raka, dia hanya menganggap Raka pemuda biasa dan tak punya apa-apa.
Raka melajukan mobilnya secepat mungkin menuju rumah sakit Eternal Maranggi yang dimiliki oleh Verdant. Dia hanya mempercayai rumah sakit itu yang bisa menangani kondisi mental Alina yang sekarang jauh lebih syok.
“Sayang bertahanlah! Kita akan sampai sebentar lagi di rumah sakit.” Raka memegang tangan Alina yang bergetar ketakutan sambil menyetir mobilnya. Dia benar-benar panik saat ini melihat tubuh Alina tambah menggigil.
Saat lampu merah, Raka memindahkan Alina di pangkuannya dan dengan satu tangan, Raka memeluk pinggang Alina sambil menyetir mobilnya.
Setelah Raka melakukan tindakan tersebut, Alina agak mendingan. Tubuhnya tidak lagi menggigil dan perlahan pulih dari syok beratnya, “Te-terima kasih mas,” ucapnya lirih.
“Sudah, kamu jangan banyak bicara. Sebentar lagi kita akan sampai,” balas Raka dan bertambah erat pelukannya pada pinggang Alina.
Akhirnya mobil Raka sampai di rumah sakit Eternal Maranggi dan Alina langsung dibawa ke ruang ICU.
__ADS_1
“Sial!” Raka memukul kursi yang didudukinya hingga berdarah, “Aku ceroboh! Aku bodoh, tak seharusnya aku menyetujui Alina untuk ikut jika akhirnya akan begini.”
Verdant yang melihat sahabatnya itu sedang marah menghampiri dan menepuk pundaknya, "Sudahlah! Jangan sesali lagi. Aku yakin kamu sudah melakukan yang terbaik untuk Alina. Tapi rencana manusia selalu saja kalah oleh rencana Tuhan."
“Tapi ini semua salahku, Ver. Kalau saja aku lebih tegas padanya, dia takan seperti ini” tolak Raka dengan menyeka air mata yang menggenang di kelopak matanya.
“Sungguh, aku baru melihat pertama kali laki-laki super tampan menangis di depan mataku hanya karena seorang wanita yang dia sangat cintai,” goda Verdant untuk membuat Raka tidak sedih lagi.
“Kampret kau Ver! Ya wajarlah aku seperti itu. Memangnya kamu, tampan-tampan sukanya jeruk makan jeruk, hahaha …,” sindir Raka sambil tertawa puas.
Verdant kesal dan menoyor dahi Raka, “Enak aja. Begini-begini juga aku masih normal. Aku belum ada waktu aja buat nyari perempuan. Itu juga gaara-gaara lu, kampret yang tak bisa bersantai untuk mengurus rumah sakit ini.”
“Hahaha …. Ya sudah, nanti aku berikan cuti untukmu selama sebulan buat nyari ciwi-ciwi, hahaha ….” Raka juga membalas Verdant dengan menoyor dahinya juga.
Boleh dikatakan persahabatan antara Raka, Vincent, Abel, dan Verdant merupakan persahabatan yang gokil abis. Mereka berempat jika bertemu keempat-empatnya pasti berdebat dan saling mencela satu sama lain. Tapi itu cara merekaa menunjukan jika mereka bersahabat sudah seperti saudara kandung.
"Sus, boleh aku masuk?” pinta Raka.
“Silahkan tuan muda!” Suster mempersilahkan dan Raka pun masuk dengan raut muka khawatir juga langkah yang cukup cepat.
Raka langsung duduk di tempat tidur Alina dan memegang keduaa tangannya, “Alina, mas ada disini, tenanglah! Mas tidak kemana-mana. Mas akan jagain Alina terus.”
Alina yang tadinya mengigau memanggil-manggil Raka langsung bungkam seribu bahasa. Verdant yang mengintip dari celah pintu ruang ICU hatinya terenyuh melihat dua orang sejoli yang tak memiliki status hubungan tersebut.
“Alina, sampai kapan kamu masih meragukan Raka? Dia sangat mencintaimu, lihatlah semua perjuangannya untukmu,’ gumam Verdant menyeka air mata di kedua kelopak matanya yang tiba-tiba terjatuh. “Raka, meski kamu punya latar belakang yang berlawanan dan berkecimpung di dunia bawah tanah. Tapi hatimu sangat baik. Sebagai sahabat, aku akan selalu berada disisimu terus.”
Abel yang sudah menjalani pemeriksaan dan dinyatakan sehat, tiba-tiba muncul di belakang Verdant dan menjitak kepalanya, "Eh, dasar Verkum jones. Ngapain lu? Ngintip aja."
__ADS_1
“Dasar Cungkring! Kampret lu ya —-”
“Sssst! jangan bersisik, ini rumah sakit Vermuk!”
Mereka berdua sudah seperti Anjing dan Kucing kalau bertemu, selalu saja saling mengejek dan bertengkar.
“Sudah jangan ganggu mereka berdua. Kamu kan tahu istilahnya, yang ganggu orang pacaran, ketiganya adalah setan. Nah, karena kita berempat gue setan lu iblisnya, hahahaha ….”
“Kampret emang lu ya. Kagak ada enak-enaknya emang gue. Sudahlah daripada gue deket-deket sama setan sawah mending gue balik ke ruangan guelah.”
“Dasar lu Vermuk jones!”
“Setan sawah, kampret!”
Merekaa berdua terus menghina tiada hentinya dan saling mengacungkan jari tengah. Kemudian pergi meninggalkan Raka di ruang ICU yang sedang menemani Alina.
***
Keesokan paginya.
Raka tertidur sambil terduduk di samping Alina. Dia tidak pulang ke mansion karena ingin selalu menjaga Alina.
Gadis mungil nan seksi itu bangun dan membuka matanya perlahan. Melihat Raka disisinya, dia menatap sendu, “Kenapa kamu seserius ini mengejarku mas? Aku tak pantas untukmu. Aku kotor meskipun kau yang membuatku kotor,” gumamnya.
“Nona perak jangan tinggalkan aku, sungguh aku mencintaimu. Jika tidak percaya belahlah dadaku!” Raka mengigau dengan mengatakan hal yang sama sepanjang malam.
Alina sedikit kebingungan dengan Raka yang selalu menyebut nama Nonna Perak. Kemudian dia melihat rambutnya yang berwarna perak, "Lucu juga ya mas, kau selalu menyebutku Nona Perak. Sungguh, aku ingin selalu bersamamu, tapi aku tidak bisa. Aku hanya akan jadi beban dalam hidupmu."
__ADS_1
Alina pun melepaskan jarum infus, lalu dia berjalan agak limbung ke arah pintu ruang ICU yang sepi. Dia berencana kembali meninggalkan Raka tanpa pikir panjang, "Terima kasih mas. Aku akan selalu mencintaimu," ucapnya lirih sambil menoleh sedu ke arah Raka.