Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati

Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati
Mewek


__ADS_3

***


Malam harinya, pukul 23.00 depan Lippo Plaza Sidoarjo.


Raka sedang menunggu Alina keluar dari dalam mall. Tapi sudah setengah jam ia menunggu, Alina belum juga keluar.


“Bang, kopi bang!” panggil Raka pada penjual kopi keliling yang menggunakan motor.


Penjual kopi pun mendekat ke arah Raka, lalu menyeduh kopi pesanan Raka di gelas plastik.


“Ini bang, 3000. Dijamin oh yes deh mas.” Abang tukang kopi memberikan gelas plastik ke Raka dan bertanya, “Nunggu siapa mas? Pacar?”


“Temen bang. Makasih, ini.” Raka memberikan selebaran uang 10.000 pada abang tukang kopi dan bertanya, “Ini kalau karyawan atau karyawati Restoran Bebek Peking pulang jam berapa ya bang?”


“Biasanya sih udah keluar jam segini mas. Tunggu aja, bentar lagi mungkin keluar,’ jawab Aabang Tukang kopi sambil meberikaan kembliaan taapi ditolak sma Raka dengan menggelengkan kepala. “Makasih mas! Aku Otiwi dulu ya mau ngider lagi.”


“Siap.” Raka mengacungkan jempol dengan tersenyum lebar.


Tiba-tiba ponsel Raka berbunyi dan dia segera mengangkatnya. “Halo, ya aku Toldep!”


“Oh ya mas Toldep. Aku sedang jalan ke depan, tunggu ya,” balas Alina melalui sambungan telepon.


Suara mereka berdua sangat khas di telinga masing-masing tapi hati mereka berdua mencoba menolak. Sebab sudah menganggap itu masa lalu yang hanya perlu dikenang.


Sesaat kemudian, keluar dari bagian belakang mall yang berada di sebelah selatan mall sosok gadis memakai rok mini dan kakinya yang jenjang ditutupi oleh stocking berwarna hitam, bagian atasnya tertutupi sweater berwrna hitam pula.


Sosok gadis yang kepalanya tertutup capucho dari sweater tersebut mendekati Raka. Saat akan menyebrang menuju Raka, tiba-tiba ada motor RX King yang sangat cepat yang akan menyerempet Alina dan merebut tasnya.


Raka sigap turun dari motornya dan segera berlari cepat untuk melindungi Alina dengan memeluknya.


Pemotor itu berhasil menjambret tas kecil yang dibawa oleh Alina. Raka mencoba mengejarnya, tapi dihentikan oleh Alina.

__ADS_1


“Sudah, tidak apa-apa. Gak usah dikejar. Mas Toldep gak papa?” tanya Alina khawatir.


“Tidak apa-apa. Kamu gak papa? Tapi kan di dalam tasnya ada dompet kamu,” sergah Raka yang ingin mengejar pembegal itu.


“Tidak apa-apa. Di dalamnya tidak ada apa-apa kok. Semua barang berhargaku ada disini.” Alina memegang dada bagian jantung dan disalah artikan oleh Raka.


Yang dimaksud oleh Alina, dia menyimpan dompet dan ponselnya di saku bagian dalam sweater. Sedangkan Raka berpikirnya, Alina menyimpannya di dalam hati.


“Beneran gak papa?” tanya lagi Raka untuk memastikan Alina baik-baik saja.


“Ya, Mas Toldep. Gak papa. Lebih baik kita pulang saja. Kasian ibu pasti sangat khawatir nungguin aku,” jawab Alina.


Rak pun berjalan beriringan dengan Alina untuk menyebrang ke arah motor Honda Forza berwarna putih.


Di motor Raka memulai pembicaran untuk lebih dekat dengan Alina, “Mbak, kenapa belum menikah? Sorry nih nanya langsung aja. Kan bahaya sendirian malam-malam. Kalau ada pacar kan enak ada yang jemput. Kalau punya suami juga enak Mba gak perlu kerja, biar suami yang kerja.”


Alina diam tidak menjawab pertanyaan Raka. Setelah beberapa lama dia baru menjawab dengan nada ketus, “Apakah aku perlu menjawabnya mas? Kalau aku jawab ini semua demi melupakan masa laluku yang terlalu pahit. bahkan sampai pahitnya, kepahitan itu terasa manis.”


setelah lima menit tidak ada yang bicara, AAlina kembali berkata dengan nada lembut, “Maafkan aku ya mas, kalau aku ketus. Terima kasih udah jemput aku dan udah nyelametin aku. Nanti kita berhenti di pedagang Nasi Goreng, kebetulan aku habis gajian, aku yang traktir sebagai tanda terima kasih dan ongkos jemput aku.”


Siap, bos,” sahut Raka dan melanjutkan, “Gak papa. Aku ikhlas kok jemput Mbak. Simpan aja uangnya, mungkin uangnya lebih penting untuk mbak. Biar aku aja yang traktir. Aku habis menang judi togel, hahaha … canda.”


“Ada-ada aj mas nih. Sekali lagi makasih banyak ya mas.”


“Ah, makasih mulu. Sekali lagi bilang makasih dapat piring pecah nih, hehehe ….”


Mereka berdua terus mengobrol mengakrabkan diri satu sama lain dan Raka memberhentikan motornya ke penjual Nasi Goreng dadakan langganan Raka.


“Eh, mas Toldep tumben malam-malam baru kemari,” kata Sarmin penjual Nasi Goreng. “Siapa nih pacar?”


“Habis jemput pak. Maunya sih, hehehe …. Canda,” jawab Raka sambil terkekeh. “Ya dah pesen dua, kalau aku biasa telurnya tiga, oke. Kalau Mbaknya?”

__ADS_1


“Aku biasa aja pak. Sedeng aja pedesnya, jangan kasih acar ya,” sahut Alina.


Mereka berdua pun duduk di tikar berdampingan. Malam ini dia merasa lega, tidak seperti malam-malam sebelumnya yang selalu disibukkan dengan meminum anggur merah palsu, yakni Fanta.


Nasi Goreng pun dihidangkan oleh Pak Sarmin. Raka berdoa dan langsung melahap perlahan nasi goreng yang berisikan tiga lembar telur dadar itu.


“Laper mas?” tanya Alina dengan terkekeh pelan.


“Ya, ini. Maklum siang ini pelanggan bengkelnya rame banget ampe cape, hehehe …,” jawab Raka sambil terkekeh. “Sebentar.”


Raka melihat nasi di sudut bibir Alina dan langsung menyeka dengan lembut, “Maaf, ada nasi di bibirnya.”


“Ma-makasih.” Alina tersipu malu.


"Cie-cie! Pacaran ni yee," goda Sarmin. "Udah, resmiin aaja di KUA."


"Ah, Pak Sarin ini ngomong kentut. Emang gampang main KUA-KUA aja. Won baru kenalan itu juga dikenalin Ibu Shinta," balas Raka.


""Ya gak papa mas. Kan banyak tuh yang lagi trend zaman now, metode Takabur, eh Takarub —"


"Ta'aruf, pak," potong Alina.


"Tuh, Mbaknya paham, hehehe. Ya, pokoknya begitu, hehehe …." Sarmin mengacungkan dua jempol ke arah Raka dan Alina. "Ya, sudah sebagai Slametan kalian jadiaan malam ini, aku kasih gratis Nasi Gorengnya."


"Apaan, gak-gak pak. Aku tetep bayar. Gak mau kalau aku gak bayar. Kan lumayan pak buat nambah-nambahin Anto buat kelulusan sekolah nanti. Kalau Anto ingin kuliah, bilang saja sama aku, nanti tak hubungin teman aku yang punya UI di Jakarta biar Anto kuliah di Jakarta gak perlu bayar,” tolak Raka.


Sarmin langsung mewek dan memeluk Raka, “Makasih mas Toldep. Mas udah banyak nolong keluargaku. Berkat mas juga aku udah gak diganggu preman-preman sini lagi dan jualannya jadi rame tiap hari habis.”


“Ah bapak, malah buat aku mewek juga, haaaa ….” Raka malah ikut menangis. “ya, sudah. Gak perlu terima kasih terus, kalau bilang makasih lagi nanti dapat piring pecah.”


Alina yang mendengar Raka mengatakan hal tersebut malah terkekeh terpingkal-pingkal, “Hehehe … ada-ada saja nih mas Toldep.”

__ADS_1


__ADS_2