Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati

Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati
Gugup


__ADS_3

Alina mengendarai mobil hypercar McLaren GTR berwarna merah itu cukup cepat. Dia berpacu dengan waktu agar sampai di Indramayu lebih cepat. Sekali dia masuk ke dalam Rest Area untuk mengisi BBM mobil dan BBM untuk perutnya yang sudah keroncongan.


Setelah selesai, dia masuk tol dan masuk ke pintu tol Cipali, sebab hanya tol Cipali yang lebih dekat menuju Indramayu setelah keluar tol dari pintu keluar Cikamurang.


Alina menyetir sambil mendengarkan lagunya band Scorpion yang berjudul Still Loving You. Hatinya sangat gembira, sebab sebentar lagi dia bertemu dengan Raka.


Perjalanannya sangat mulus dan sudah sampai di palang pintu dekat Stasiun Terisi yang sangat ramai. Alina sampai pukul 20.30 WIB, dia tak menyangka jika Indramayu sudah seperti kota metropolitan yang cukup ramai di malam hari.


Akan tetapi, setelah melewati palang pintu, mobilnya ia hentikan. Alina seperti melihat Raka mengendarai motor butut Astrea Prima menuju ke arah palang pintu.


“Ah, mungkin halusinasi. Lebih baik aku lanjutkan menuju desa Mundakjaya, sebentar lagi aku sampai,” gumamnya sambil menekan tombol gas mobil tersebut yang berada di setirnya.


Ternyata benar dia Raka. Pria berponi miring ke kanan tersebut memutar arah motornya kembali lagi melewati palang pintu kereta api, untuk mengejar mobil McLaren GTR yang sangat dikenalnya.


“Ngapain Verdant kemari? Gila amat tuh bocah, masa Alina ditinggal sendirian di rumah sakit. Awas saja aku pites kepalanya itu,” gumam Raka kesal dan menarik pegangan gas motornya dalam-dalam hingga standing ban depannya.


Raka berhasil mengejar mobil Alina, sebab gadis itu mengendarai mobil itu sangat pelan sambil melirik ke kanan dan ke kiri.


Saat motor Raka akan mengejar mobil Alina, dari belakang 3 motor RX King mengejarnya.


“Woy, bangsat! Berhenti lu!” teriak salah satu pengemudi motor RX King. Dia merasa terhina saat Raa melakukan standing ban depan di depannya.


Maka dari itu keenam preman pasar Terisi tersebut mengejar Raka, karena tidak terima dengan gaya Raka dalam mengemudikan motornya.


Raka tidak mendengar teriakan salah satu preman tersebut, karena motor RX King itu terlalu bising knalpotnya dan dia juga terlalu fokus untuk melewati mobil yang dikemudikan oleh Alina.


Salah satu motor preman tersebut berhasil mengejar Raka dan berada di samping kanannya. Lalu Raka ditendang hingga dia terpental ke bahu jalannya.

__ADS_1


BRAK!


Untung saja motornya berjalan pelan, kalau tidak Raka bisa patah tulang, akibat ditendang sangat keras oleh salah satu preman yang mengendarai motor RX King itu.


Raka hanya mengalami lecet di siku kirinya, Alina yang terlalu fokus melihat jalan tidak tahu jika motor yang dinaiki oleh Raka sudah tidak mengejarnya lagi.


Perlahan Raka bangun dengan meringis kesakitan. Baru kali ini dia jatuh dari motor dan itu bukan atas kesalahannya sendiri.


Ketiga motor berhenti dan keenam preman itu mengepung Raka dengan tatapan nyalang dan kedua tangan yang sudah dikepalkan.


“Apa maksud bung-bung ini menendang dan megepungku? Mau begal moto itu ambilah,” tanya Raka dengan menahan emosinya agar tidak terjadi bentrok dengan mereka berenam.


Masalahnya, takut Raka tidak bisa mengendalikan diri dan membunuh mereka berenam di depan umum. Itu akan berakibat fatal bagi reputasi perusahaannya.


Selama ini Raa selalu membunuh para pesaingnya dengan cara halus dan tak meninggalkan jejak. Bahkan polisi pun dibuat kalang kabut, dan pusing tujuh keliling oleh tindakan Raka dalam melakukan pembunuhan terhadap para pesaing bisnisnya yang menggunakan cara-cara kotor untuk melawan Raka.


“Jangan sok jagoan disini bangsat!” Preman yang sebelumnya menendang Raka melayangkan tamparan ke pipi kanan Raka.


PLAK!


"Goblok kau Bahadur! Jangan tampar gua goblok!" hardik Rasmin sambil memegangi pipi kanannya yang agak bengkak akibat tamparan Bahadur.


Raka hanya terkekeh pelan melihat pemandangan kocak di depan matanya tersebut, “Bung-bung, tampaknya mata kalian harus diperiksa ke Dokter mata,” ejeknya.


“Berisik!” Bahadur kembali geram dan memukul ke arah kepala Raka, tapi sayang gerakan Bahadur di mata Raka seperti gerakan lambat dan dengan mudahnya Raka menghindari pukulan keras itu. Akibatnya kepalan tangan Bahadur menghantam tiang listrik di belakang kepala Raka, “Aaaakh!”


Tangan Bahadur langsung bengkak dan dia guling-guling di permukaan aspal menahan rasa sakit tangannya yang mulai bengkak.

__ADS_1


Rasmin tidak terima dan menyuruh keempat temannya untuk menyerang Raka secara bersamaan.


Akan tetapi, setiap pukulan dan tendangan yang dilayangkan oleh Rasmin dan keempat temannya hanya mengenai ruang kosong. Sebab Raka sangat gesit menghindari setai serangan mereka.


“Weee!” Raka mengejek dengan menjulurkan lidah dan menunggingkan pantatnya ke arah kelima preman bangkotan itu.


Rasmin beserta Keempat temannya bertambah geram dan menyerang Raka secara membabi buta dengan pukulan dan juga tendangan.


Lagi-lagi pukulan dan tendangan mereka hanya mengenai ruang kosong, hingga mereka lelah sendiri dan terkapar di permukaan aspal dengan dada kembang kempis tak karuan.


Raka tertawa terpingkal-pingkal dan mengacungkan jari tengah ke arah mereka berenam. Lalu menegakan motornya yang terjatuh di bahu jalan, “Hahaha …. Kalian benar-benar rabun matanya, tidak bisa memukulku, bleee …,” ejeknya sambil menjulurkan lidah.


Setelah puas mengejek keenam reman tersebut, Raka segera melajukan motor butut milik Cungkring alias Abel secepat mungkin untuk mengejar mobil yang dikendarai oleh Alina.


Namun sayang, setelah berjalan cukup jauh, Raka tidak menemukan lagi mobil yang dikendarai Alina.


Dengan raut muka ditekuk, Raka membelokan motornya ke arah kiri sesampainya di pertigaan yang mengarah ke rumah Cungkring.


“Sial, kemana si Verdant itu. Jangan-jangan dia nyasar lagi, kan bisa berabe pasti nyusahin aku malam-malam begini,” keluh Raka dengan menyeringai kesal.


Saat Raka menyusuri jalanan yang cukup gelap dan tidak ada rumah penduduk, hanya ada hamparan yang luas di kiri dan kanannya. Tiba-tiba dia memberhentikan motornya dan melihat seorang gadis sedang mengamati ban mobil yang dikejar sebelumnya.


"Sial, padahal menurut map mbah google, sebentar lagi aku sampai ke desanya mas Raka. Tapi kenapa malah ban mobil ini bocor di tempat sepi dan gelap seperti ini lagi. Mana udah malam lagi, serem amat sih aku ini," keluh Alina menendang beberapa kali ban depan sebelah kanan mobilnya.


Dari belakang mobil Alina, tubuh Raka sudah gemetar dan detak jantungnya tak beraturan. Dia melihat rambut perak lurus berkilau di kegelapan malam yang sangat ia kenal, "A-a-a-alina," panggilnya gugup dengan nada lirih.


Alina tidak mendengar panggilan Raka, sebab terlalu fokus melihat ban mobilnya yang bocor dan bingung bagaimana cara menggantinya.

__ADS_1


Kali ini Raka benar-benar gugup untuk bertemu dengan Alina, lututnya gemetar dan kakinya tak bisa diayunkan seperti memaku di permukaan beton.


"Oh, Tuhan, Kenapa kakiku begini? Apakah hamba ini terlalu banyak dosa? Ataukah karena orang yang hamba paing cintai ada di depan mata hamba," batin Raka pasrah, tapi menolak untuk pasrah.


__ADS_2