
“Tolong sejajarkan tasnya dengan mataku!” pinta Raka dan Alina menaruh tas tersebut di depan mata Raka.
Sinar merah memindai retina mata Raka dan tas tersebut langsung terbuka. Dengan tangan kirinya Raka mengambil sebuah pistol injeksi yang sudah ada botol kecil berwarna biru yang berisi cairan penghilang rasa sakit atau cairan anestesi sekaligus berguna bisa menghentikan pendarahan.
Melihat pendarahan di bahu kanan Raka berhenti, Alina terpukau dengan cairan tersebut.
“Apakah ada yang bisa aku bantu lagi sayang?” tanya Alina dengan raut muka masih panik.
“Coba tolong masukan botol kecil yang memiliki cairan merah tesebut ke pistol injeksi ini,” tunjuk Raka pada botol kecil berisi cairan merah.
Alina segera mengganti botol kecil bekas cairan anestesi dengan cairan merah yang mempercepat produksi trombosit tau sel daraha merah di dalam tubuh.
Semua cairan tersebut merupakan cairan yang diramu oleh Raka sendiri, dan sebagai pertolongan pertama saat Raka mengalami luka dalam menjalankan misi pembunuhan.
Pistol injeksi tersebut disuntikan ke leher kiri Raka dan membuat Alina meneguk salivanya dalam-dalam melihat leher mulut Raka. Hasratnya tiba-tiba naik dan ingin mencium leher Raka.
“Oh My Gosh! Kenapa disaat seperti ini aku malah tergoda dengan mas Raka? Aku benar-benar sangat menginginkan tubuhnya,” batin Alina dengan mata yang tak berkedip melihat leher mulus Raka.
Cairan merah tersebut bekerja dengan cepat, dan raut wajah Raka yang seputih kertas kembali segar. Lemas di tubuhnya telah hilang karena kehilangan banyak darah.
Raka pun bangun tapi langsung diubah oleh Alina, “Kita ke rumah sakit saja ya mas!” pinta Alina yang masih khawatir dengan kondisi Raka.
“Tidak apa-apa. Aku udah sehat kok sayang. Aku hanya perlu menempelkan perban di bahu kanan ini, maka semuanya akan baik-baik saja,” balas Raka untuk menenangkan Alina agar tidak khawatir lagi padanya.
“Kita lapor polisi aja mas. Biar pelakunya tertangkap,” geram Alina dan juga sedih karena Raka harus tertembak demi melindungi dirinya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Aku memang tidak tahu siapa pelakunya. tapi kita kan nya Cungkring yang bisa meretas semua CCTV dan menemukan pelakunya,” balas Raka, lalu mencium kening Alina agar dia tak memikirkan lagi tentang kejadian ini. “Ayo kita pulang! Sayang bisa nyetir motor kan?”
“Bisa sayang. Ayo!” Alina pun menaiki motor Raka dan Raka yang membonceng.
Lima menit kemudian polisi datang, karena di telepon oleh Rena yang mendengar letusan suara senjata di tempat parkir Ayam Taliwang.
Semua personil polisi segera memeriksa TKP, dan melihat semua CCTV. Sayangnya Monica orang yang selalu punya persiapan dan rekaman CCTV saat dirinya menembak ke arah Raka telah diretas olehnya untuk dihapus secara permanen.
Raka pun memeluk pinggang Alina dengan tangan kirinya dan menyandarkan kepalanya di bahu kanan Alina. Matanya mulai sayu tapi dia tahan agar tidak tertidur di bahu kanan Alina.
Hasrat Alina semakin memuncak setelah dipeluk pinggangnya oleh Raka. Dia ingin secepatnya sampai rumah Ibu Sinta menerkam Raka yang sudah melepas semua aksesoris penyamarannya.
Raka tersenyum dan berkata pada Alina, “Entah kenapa setiap aku melihat senyummu sayang, dan setiap aku merasakan rasa sakit, rasa sakit itu sirna.”
“Mas pandai gombal juga ya, hehehe …. Sudah jangan banyak bicara mas. Peluk aku lebih erat, aku sungguh sangat merindukan momen-momen bersama mas Raka,” balas Alina yang terus mengulas senyum lebar walaupun Raka tengah terluka.
Satu hal yang diketahui oleh Alina adalah Raka akan tetap mencintai Alina sampai kapanpun. Buktinya sampai saat ini pun Raka selalu melindungi dirinya dari Monica yang ingin membunuhnya.
Akhirnya mereka berdua sampai di rumah Ibu Sinta. Karena Alina tidak mungkin meninggalkan Raka seorang diri di bengkelnya dalam keadaan seperti ini.
Maka dari itu Alina membawa Raka ke rumah Ibu Sinta, agar Alina bisa merawat Raka plus bisa berduaan terus dengannya.
Alina memapah tubuh Raka dan membawanya masuk ke kamarnya. Lalu tubuh Raka direbahkan dan pria berambut belah dua tersebut sudah sangat mengantuk, karena kelelahan dan juga karena obat anestesi itu.
“Mas, aku ganti baju kamu dulu ya. Baju kamu penuh darah.” Alina mendudukan tubuh Raka dan membuka bajunya secara perlahan, hingga wajahnya berdekat dengan wajah Raka yang sangat imut dengan mata sayu. “Aku sayang kamu mas.”
__ADS_1
“Aku juga sayang Alina.”
Raka menolak untuk tidur dan terus mengulas senyum ke arah Alina. Dia sangat senang Alina merawatnya dengan menyeka dan membersihkan cairan merah yang sudah kering yang membasahi tubuhnya.
Saat Alina sudah selesai membersihkan darah di tubuh Raka. Tanpa basa-basi lagi dia mencium bibir Raka dan Raka membalasnya dengan lebih ganas.
Adrenalin Alina terpacu dan kehilangan kesadaran, karena ciuman Raka telah membiusnya. Kemudian membuka sweater coklat dan menapakandua gunung kembar yang begitu menonjol terhalangi pelindungnya yang berwarna putih.
Raka sadar dan melepaskan ciumannya, “Jangan sayang.Aku tak mau melukaimu lagi,” tolaknya.
“Tidak apa-apa. Aku mau atas keinginanku sendiri. lagipula semenjak tubuh ini mas sentuh, maka tubuh ini dan hati ini telah menjadi milik mas Raka selamanya dan tidak ada pria lain yang bisa menyentuhnya,” bujuk Alina dengan nada mendesah.
Raka yang sudah tak kuat melihat Alina hanya mengenakan pelindung gunung kembar dan pelindung bagian vital alas roban pun melucuti celananya.
Permukaan telapak tangannya yang lembut bergerilya menyusuri pinggang Alina sampai ke tengkuknya. Membuat Alina terus mendesah dan rahimnya terbasahi oleh cairan surga miliknya sendiri.
Raka kembali berhenti, dan memastikan keputusan Alina yang menyerahkan tubuhnya sekali lagi pada Raka, "Apakah tidak apa-apa? Bukankah kita bisa melakukan ini setelah kita menikah?"
“A-aku sudah gak tahan mas. Tolong aku mas, tumpahkan semua rasa cintamu padaku malam ini. Aku sudah rela dan tak menyesalinya lagi,” jawab Alina dengan nada mendesah.
Dengan beringas Raka langsung membuka pelindung dua gunung Ciremai milik Alina dan juga melucuti pelindung menutupi bagian vital alas roban milik Alina.
Tanpa basa-basi lagi singkong premium mili Raka dihempaskan ke dalam lubang vital milik Alina dan membuat gadis mungil itu menjerit nikmat sambil memeluk erat Raka.
Baru satu hempasan Alina langsung lemas dan rahimna terbanjiri oleh cairan surga miliknya sendiri.
__ADS_1
Dadanya kembang-kempis tak karuan dan membuat Raka tidak tega. Dia tak ingin menyakiti Alina dan melepaskan singkong premium itu dari lubang vital milik Alina.