
Setelah meretas CCTV Rumah Sakit Mitra Plumbon, Monica Akhirnya menemukan kamar rawat Raka di fasilitas SVIP nomor satu lantai 3 ruang Kenanga.
Gadis yang penuh kelicikan itu berjalan menyusuri koridor lantai 3 dengan jalan berlenggak-lenggok seperti pntat Bebek. Membuat mata lelaki yang melihatnya seakan mau copot dari sarangnya.
“Witwiiw!” goda seorang kakek tua yang giginya tinggal dua sambil bersiul.
Monica tak menggubris setiap mata lelaki yang jelalatan menggerayangi tubuhnya yang tidak kalah seksi dengan tubuh Alina lewat tatapan cabulnya itu.
Kemudian dia mendorong pelan pintu kamar nomor 1 SVIP dan di dalamnya sudah ada Raka yang sedang terkapar tidur seorang diri.
Abel sendiri sedang pulang mengambilkan baju untuk Raka, dan harus menyelesaikan transaksi dengan Haji Udin untuk membeli semua tanah sawahnya seharga 50 milyar.
Namun karena Raka sedang sakit uang tersebut belum kunjung ditransfer oleh Viincent ke rekening milik Abel. Karena tidak ada perintah dari Raka sang bos besar.
Raka terbangun setelah mendengar sara pintu di dorong pelan. Telinganya sangat peka dan tak bisa mendengar suara sekecil apa pun, kecuali dia sudah meminum pil tidur.
Monica langsung memeluk Raka, “Gibran kamu tidak apa-apa?” tanya khawatir.
“Monica sedang apa kamu disini? Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sedang di rumah sakit ini?”
Raka malah balik bertanya dengan gestur tubuh agak risi dengan pelukan Monica dan melepaskan pelukan tersebut secara perlahan.
“Raka, kita ini sudah berteman lama. Kenapa sich, kamu selalu saja tidak memperdulikan perhatianku padamu? Sejujurnya aku sudah mencintaimu sejak lama. Aku ingin kita menikah,” kata Monica tegas dan langsung mencium bibir Raka.
Saat Monica mencium bibir Raka inilah, Alina masuk dan melihat berdua sedang berciuman.
__ADS_1
“Ma-maaf, aku ganggu.” Alina kembali sakit hati dan menutup pintunya agak keras.
Raka mendorong tubuh Monica hingga terduduk, lalu melepas paksa jarum infus yang tertempel di lengannya dengan berteriak memanggil gadis mungil nan seksi itu, “Alina! Tunggu! Ini bukan seperti yang kau kira! Alina!”
Dengan langkah kaki gontai dan setengah limbung, Raka mengejar Alina. Dia tak memperdulikan kondisi tubuhnya yang masih lemah. Hingga kakinya lemas dan terjatuh di permukaan lantai dalam keadaan tertelungkup.
Monica juga mengejar Raka dan melihat Raka terjatuh, dia berjalan cepat, lalu segera mengalungkan tangan Raka untuk memapahnya.
“Aku akan terus membuatmu merasakan rasa sakit, Alina. Sampai kamu berhenti mengejar Raka dan Raka akan menjadi milikku selamanya, hahahaha …,” batin Monica dengan tertawa jahat.
Alina berlari menuju basement parkir, dan terus menyeka air matanya yang tumpah terkendali. Dia sudah memutuskan untuk meninggalkan Raka dan kembali lagi ke Jakarta saat ini juga.
Di dalam kamar rawat Raka, pandangan mata Raka buram dan agak berkunang-kunang. Dia tak bisa menahan lagi kepalanya yang sangat pusing karena kekurangan darah. Kondisi tubuhnya belum pulih sempurna.
“Raka, aku sudah tahu orang yang menembakmu. Dia orang suruhan Daniel Arslan Putra dan aku sengaja datang kemari untuk menjengukmu sekaligus memberitahukan hal ini,” jelas Monica dengan nada yang sangat lembut.
“Terima kasih kamu sudah membantuku. Tapi sejujurnya aku hanya menganggapmu sebagai sahabat dan aku hanya mencintai —-”
“Mencintai Alina!” potong Monica dengan berteriak dan melanjutkan, “Apa kamu tidak takut jika bersama Alina itu akan hanya membebanimu? Dia bisa saja terbunuh di depan matamu. Terlebih lagi apakah dia akan menerimamu seperti aku menerimamu sebagai seorang pembunuh bayaran profesional?”
Raka langsung tertunduk lesu dengan pertanyaan menohok dari Monica tentang siapa jati dirinya yang sebenarnya seorang pembunuh bayaran kelas atas.
“Aku mencintainya dan aku rela mati untuknya. Apa pun aku lakukan untuk melindunginya. Aku tak peduli jika dia menerima diriku atau tidak sebagai seorang pembunuh bayaran. Aku sudah memutuskan itu dan tak siapa pun yang bisa menghalanginya,” tegas Raka dn membuat Monica menggertakkan gigi.
Monica menghela nafas panjang untuk meredakan emosinya, “Baiklah. Aku terima keputusanmu. Tapi aku tidak akan berhenti mengejarmu. Kita lihat Alin akan membalas cintamu atau tidak setelah dia tahu kau seorang pembunuh bayaran.”
__ADS_1
Monica lalu keluar dari kamar Raka dengan membanting pintu dengan sangat keras. Lalu menelpon Kolaborator untuk mempercepat misi Raka untuk menghabisi para politisi korup Indonesia yang sedang kabur ke Finlandia.
Ponsel khusus milik Raka yang tersimpan rapi selama 3 tahun di rumah Abel, akhirnya berbunyi kembali. Ponsel itu memang Raka sengaja bawa kemanapun agar Kolaborator menghubunginya.
Raka mengangkat ponsel yang berada di saku kanannya. Dia hanya mengangguk pelan tanda mengerti. Lalu menelpon Abel untuk datang dan mengantarnya ke bandara Kertajati dan langsung terbang menuju Finlandia menggunakan jet pribadi yang akan tiba satu jam lagi di Bandara Kertajati.
Sementara itu Monica mengejar Alina yang masih berada di basement parkir rumah sakit. Setelah tubuh gadis mungil nan seksi itu terlihat sedang berdiri dan mau masuk ke dalam mobilnya, dia langsung mendoakan pistol berisi peluru kejut yang bisa membuat Alina pingsan.
CUG!
Pelatuk pistol kejut itu ditarik dan peluru melesat secepat kilat dan mengenai pinggang Alina. Seketika itu juga Alina tumbang dan langsung pingsan.
Monica menekan tombol di belakang telinga kanannya untuk memanggil kedua anak buahnya yang sudah menunggu di dalam mobil.
Mobil Toyota Vellfire berwarna silver menghampiri Monica yang sedang memapah Alina dan salah satu anak buah Monica membantunya melakukan Alina ke dalam mobil.
“Raka, setelah ini kamu akan menjadi milikku. Kolaborator telah mempercayaiku menjadi agen utamamu dan sekarang kau berada di tanganku. Kau boleh menolakku, tapi hidupmu di tangan Kolaborator dan Kolaborator berada di dalam genggamanku saat ini,” batin Monica dengan tersenyum licik.
Alina pun dibawa ke satu tempat dekat bandara Kertajati oleh mobil Monica. Dia akan menyekap Alina di Hotel Horizon untuk melihat bagaimana Raka menjadi pembunuh bayaran melu live streaming melalui drone yang sudah disiapkan oleh Kolaborator di Finlandia.
Kembali ke Raka yang sudah dijemput oleh Abel. Sahabatnya itu mengkhawatirkan Raka, karena tiba-tiba dia malah berangkat untuk menjalankan misi yang seharusnya dilakukan satu hari lagi.
“Jot, aku khawatir padamu sumpah. Kondisi tubuhmu kurang baik saat ini. Bisakah kau negosiasi dengan kolaborator untuk menunda misinya tiga hari lagi?” pinta Abel dengan mata yang berkaca-kaca.
“Lebay lu Cungkring. Sudah, lebih baik kamu cari Alina dan jelaskan ke dia kalau aku mencintainya. Setelah misi ini selesai aku ingin jujur padanya tentang diriku ini. Aku akan benar-benar berhenti dari dunia ini jika dia mau mendengarkan penjelasanku dan mau menikah denganku” tolak Raka sambil menoyor jidat Abel yang berkilau.
__ADS_1