Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati

Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati
Menenangkan Diri


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Setiap hari Alina duduk termenung di dalam kamarnya. Kondisi fisiknya memang telah pulih, tapi kondisi mentalnya semakin buruk.


Kelopak matanya hitam, matanya sembab dan raut wajahnya semakin pucat, karena terus memikirkan Raka. Dia sangat menyesal karena setelah marah dan meninggalkan Raka di Nine Thamrin Tower waktu itu.


Vincent dan Verdant yang setiap hari menjenguk Alina pun jadi ikut bersedih dan bersimpati terhadap wanita berambut perak tersebut.


Akan tetapi, apa mau dikata, mereka berdua pun tidak tahu keberadaan Raka saat ini yang sedang berada di teman lamanya si Abel Prasetya alias si Cungkring di Indramayu untuk menenangkan diri.


Alina duduk sambil memeluk lututnya, air matanya menetes deras setiap kali mengingat Raka.


“Raka, kamu dimana?” tanyanya lirih.


Daniel yang terus memata-matai gerak-gerik Alina. Akhirnya mengetahui jika Alina telah dirawat di Rumah Sakit Eterna Maranggi. Daniel memberitahukan kondisi Alina pada Verald, yakni ayah Alina yang selama ini mencarinya.


Tiba-tiba pintu kamar rawat Alina terbuka perlahan dan tampak pria berumur 50 tahun dengan rambut ikal masuk. Matanya menatap sendu Alina yang sedang memeluk lututnya.


“A-alina sayang!” panggil Verald lirih dan perlahan mendekati gadis berambut perak dengan rambut yang acak-acakan itu.


Alina tidak mendengar panggilan maupun langkah kaki Verald Maharani. Dia tetap fokus pada bayang-bayang senyum Raka di dalam pikirannya.


“Sayang.” Verald memeluk putri dengan rasa kerinduan yang mendalam setelah 3 tahun tidak pernah bertemu.


Alina langsung kaget dan menepis tangan sang ayah, “Pergi!” teriaknya histeris.


“Ini ayah sayang. Bukan penjahat,” balas Verald dengan air mata menggenang di kelopak matanya, “Maafkan ayah. Ayo kita pulang!”


“Aku bukan anakmu lagi. Aku benci kamu!” teriak lagi Alina sambil melemparkan bantal dan apa saja yang berada di dekatnya pada Verald.

__ADS_1


Rasa bencinya pada Verald sudah tak bisa ditolerir lagi. Alina masih ingat saat dirinya diusir oleh Verald dengan kejam dan ditampar berkali-kali seperti bukan putri kandungnya sendiri dan itu sangat membekas di dalam benak Alina.


Mendengar ribut-ribut, suster, penjaga keamanan dan dokter khusus yang menangani Alina.


Penjaga keamanan menangkap Verald membawanya keluar dari ruangan rawat Alina, “Alina! Alina!” panggil Verald dengan berteriak.


Tubuhnya diseret paksa untuk keluar dari ruangan rawa tersebut oleh empat penjaga keamanan. Setelah Verald diamankan, kondisi Alina mereda dan tidak lagi berteriak histeris.


“Suster, dokter! Izinkan aku keluar dari rumah sakit ini. Kalau aku disini terus pasti mereka akan datang lagi dan itu membuat mentalku semakin buruk,” pinta Alina dengan mata berkaca-kaca.


Suster dan Dokter laki-laki tersebut saling memandang, kemudian mengangguk pelan tanda setuju untuk mengizinkan Alina pulang.


“Baik, Nona Alina. Lagipula kondisi fisik nona Alina sudah 100% pulih, kami akan meminta izin tuan Verdant da tuan Vincent agar Nona Alina bisa pulang sekarang,” balas dokter laki-laki tersebut dengan tersenyum ramah.


***


1 jam kemudian.


Saat Verdant mau masuk ke dalam kamar Alina, tiba-tiba dia mendapatkan panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal.


Alina yang sudah memakai kaos, dan celana jeans ketat, serta telah dilepas selang infusnya penasaran. Dia mengendap-endap ke arah pintu, lalu menempelkan telinga kirinya ke pintu untuk mendengarkan percakapan Verdant.


Nomor tak dikenal tersebut ternyata nomor Cungkring dan sedang dipinjam oleh Raka untuk menghubungi Verdant. Raka hanya ingin tau kabar Alina apakah sudah pulih atau belum.


Verdant menjelaskan kondisi Alina, kalau dia terus bertanya tentang Raka selama seminggu terakhir. Raka menjawab kalau dirinya berada di rumah Abel di desa Mundakjaya Blok Munjul Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu.


Alina yang menguping senyum-senyum sendiri. Sebab Raka sangat mengkhawatirkan dirinya dan setelah mendengar informasi tentang keberadaan Raka, dia berencana untuk menyusulnya ke rumah Abel yang berada di Indramayu.


Gadis berambut perak tersebut kembali ke ranjangnya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Begitu Verdant selesai telponan dengan Raka, lalu masuk ke dalam kamar rawat Alina, gadis berambut perak tersebut langsung berkata ke intinya, “Aku akan menandatangani surat itu dan aku akan menerima kartu hitam itu.”


Verdant mendekat ke arah Alina dan membuat laci di samping tempat tidur Alina. Lalu memberikan surat itu dan kartu hitam tersebut kepadanya, “Silahkan Nona Alina!”


Sebenarnya Verdant terkejut dalam hatinya. Karena tiba-tiba Alina berubah pikiran. Padahal seminggu terakhir Alina selalu menolak untuk menerima kartu hitam dan menandatangani surat tersebut.


Tanpa berkedip, Alina menandatangani surat pemindahan 60% saham rumah sakit eternal Maranggi padanya dan menerima kartu hitam SVIP itu.


“Ini juga mobil yang diberikan Raka untukmu, Nona Alina.” Verdant juga memberikan kunci mobil Hypercar McLaren GTR berwarna merah pada Alina.


Bukan hanya kaya, Raka juga memiliki perusahaan yang bergerak di bidang penjualan Hypercar dan supercar terbesar di Indonesia. Jadi dia bisa mengambil berapa unit pun dari showroom miliknya dan itu juga diurus oleh Verdant selaku CEO Eternal Car.


“Terima kasih, tuan muda Verdant. terima kasih telah menjagaku dan sampaikan terima kasih juga dariku untuk tuan Vincent,” kata Alina dengan tersenyum ramah.


“Tidak salah Raka tergila-gila pada Alina. Dia gadis yang sangat seksi,sangat cantik, sangat manis dan sangat imut. Hanya pria pelang saja yang tidak tergoda akan kecantikan Alina,” batin Verdant dengan mengulas senyum ramah juga menanggapi senyum ramah ALina padanya.


“Sama-sama Nona Alina. Jangan panggil aku tuan muda Verdant begitu pula pada Vincent. Panggil nama saja, mulai sekarang kita sahabat.” verdanta menjulurkan jari kelingking kanannya.


Alina dengan senang hati menyambutnya, “Ya, sekarang kita adalah sahabat. Lau dimana mobilnya? Aku ingin jalan-jalan. Suntuk aku seminggu ini di dalam kamar ini.”


"Di basement parkir. Apa perlu aku antar?" tawar Verdant.


“Tidak perlu, Bye!”


Alina pun pergi dengan perasaan yang sangat gembira, karena akan menyusul Raka ke Indramayu dan segera bertemu denganya. Satu minggu tak bertemu dengannya serasa ribuan tahun bagi Alina.


Alina turun menaiki lift menuju basement parkir. Ternyata, anak buah Monica dan anak buah Daniel sedang mengawasi pergerakan Alina selama 24 jam ketika berada di kamar rumah sakit. Mereka tersebar di semua lantai rumah sakit Eterna Maranggi.


Melihat Alina keluar dari lift, anak buah Monica langsung menghubunginya, kalau Alina telah keluar dari rumah sakit. Monica meminta terus ikuti kemanapun Alina pergi, sebab dia juga ingin mengetahui lokasi keberadaan Raka.

__ADS_1


Monica mendengar rumor dari narasumber yang sangat dipercayainya, kalau Raka akan kembali ke dunia pembunuh bayaran lagi. Kabar itu tentu saja membuat Monica sangat senang dan dirinya akan menawarkan diri untuk menjadi partner Raka, supaya bisa terus berada di sisinya.


__ADS_2