
Raka langsung berlutut lemas di depan Alina degan mata melebar. Dia langsung paham kenapa Alina marah padanya saat ini.
“Maafkan aku. Ini semua profesiku yang sesungguhnya. Aku akui memang telah membunuh Pradita Sutedja karena dia korupsi 313 triliun selama menjabat sebagai Menteri Pertanian. Apakah aku salah membunuhnya dan itu tugas dari unit bawah tanah di Indonesia. Aku hanya membunuh penjahat,” sergah Raka dan membuat Alina semakin geram.
“Negara kita negara hukum —-”
“Omong kosong. Aku tanya berapa lama dia tinggal di Finlandia dan menikmati dengan kedua wanita itu,” potong Raka dan membuat Alina bungkam, mulutnya tertutup rapat.
Karena Alina juga melihat Pradita sebelum mati melakukan hal yang tak senonoh dengan kedua gadis yang masih di bawah umur.
“Jika karena profesiku kamu tidak mau bersamaku, aku mengerti. Tapi jika kamu menyalahkanku karena membunuh seorang penjahat, maka aku tidak akan terima,” tambah Raka dan membuat mulut Alina semakin rapat terkunci.
Gadis mungil itu benar-benar bingung harus berkata apa untuk membela pamannya itu. Semua yang dituduhkan pada Pradita oleh Raka memang benar adanya.
Maka dari itu, Alina sangat membenci Pradita yang selalu hidup flexing, dan hedonis, serta tak pernah peduli dengan bibinya di saat-saat terakhir hidupnya yang bertahan dari kanker Leukimia.
Alina pun terduduk lemas di depan Raka dengan air mata membanjiri kedua pipinya dan berkata lirih, “Mulai sekarang kita lebih baik tidak usah bertemu lagi. Mas Raka jalani hidup mas Raka dan aku jalani hidupku.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Alina melepaskan jarum infus yang tertancap di tangannya. Kemudian keluar dari dalam ruangan SVIP 01 dengan jalan agak gontai.
Akan tetapi, Raka bangkit sekuat tenaga, lalu mengejar Alina yang belum memegang gagang pintu dengan langkah kaki agak limbung.
“Tunggu!” teriak Raka dan terjatuh tertelungkup di depan tumit Alina. Kemudian dia memeluk betisnya, “Aku tak peduli kamu membenciku seumur hidupmu. Aku selamanya akan mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, tanpa senyummu. Aku mohon jangan tinggalkan aku, hiks-hiks ….”
Alina tidak tegak Raka merangkak lalu memeluk betisnya. Dia jongkok dan membantu menegakan Raka.
__ADS_1
"Pertama kali aku melihat mas Raka di dalam kegelapan, sebenarnya aku menyukai mas Raka. Aku meninggalkan mas Raka dan keluargaku karena merasa tidak pantas di samping."
"Aku bukan wanita yang terbaik dan sempurna. Aku tidak perlu dikasihani oleh mas Raka. Sampai saat ini aku juga sangat mencintai mas Raka."
"Tapi dunia kita berbeda, aku hanya gadis miskin yang hanya menjadi beban bagi mas Raka. Selama aku di sisi mas Raka berapa banyak luka yang sudah aku torehkan di tubuh dan hati mas Raka.”
“Seandainya aku bisa memutar, aku lebih memilih untuk tidak bertemu mas Raka. Jika akhirnya keberadaanku hanya membawa kesialan dan beban buat mas Raka.”
AAlina mencoba tegar mengatakan hal tersebut, padahal hatinya sangat sakit. Dia sangat bimbang harus berbuat apa, disatu sisi dia membenci Raka karena telah merusak semua kehidupannya. Tapi disisi lain dia sangat mencintai Raka yang telah banyak berkorban untuknya.
Monica pun datang membuka pintu dan langsung menggandeng lengan kanan Raka, "Sayang, kenapa kamu malah berdiri disini?" tanyanya sengaja memanas-manasi Alina.
"Diam!" bentak Raka pada Monica, "Aku sudah katakan aku hanya mencintai Alina."
"Hei, Raka! Sadarlah, mana bisa dia sebanding denganmu? Berapa kali kamu menyelamatkan nyawanya? Kamu seharusnya denganku, wanita kuat dan tak menyusahkan kekasihnya jug tak menjadi beban. Aku dan kamu punya profesi yang sama, harusnya kamu pakai logika,” kata Monica dengan membanggakan dirinya sendiri.
Kemudian dia berlari dengan langkah kaki agak sempoyongan. Monica dan Alina yang khawatir pada Raka mengejarnya. ternyata dia menutup rooftop rumah sakit menggunakan lift.
Sesampainya di rooftop, Monica dan Alina melihat Raka berdiri di ujung susut rooftop dan berteriak, “Bapak-bapak! Ibu-Ibu! Aku sangat mencintai Alina Maharani! Aku sangat mencintai Alina Maharani!”
Melihat hal itu membuat Monicaa marah dan meninggalkan Raka. Tapi dia masih punya harapan terhadap Alina yang akan meninggalkan Raka setelah tahu profesinya Raka.
Alina cukup tersanjung dengan apa yang dilakukan Raka saat ini. Sebagai seorang gadis, dia seperti mendapat pengakuan dari seorang laki-laki yang mencintainya, yakni dengan mengumumkan bahwa Raka mencintainya di depan umum.
Semua orang yang berada di bawah menganggap Raka gila dan segera memanggil tim pemadam kebakaran untuk mengevakuasi Raka.
__ADS_1
Abael yang baru datang dan melihat Raka dari bawah hanya bisa menepuk jidatnya beberapa kali, “Oh Tuhan, kenapa kau turunkan sahabat yang terlalu tolol dan goblok disampingku?”
Akan tetapi, Alina bingung harus berbuat apa dan melakukan apa. Dia hanya terpaku melihat Raka yang telah berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum yang sangat lebar.
Air mata Alina kembali jatuh. Dia benar- benar masih bingung untuk memilih. Tapi Raka langsung memeluk dan mencium bibirnya dan hal itu membuat kebimbangan Alina lenyap seketika.
Kemudian Raka melepaskan pagutan bibirnya dan berkata, “Aku tidak tahu apa yang haru aku lakukan untuk menghapus semua kebencianmu padaku. Aku tidak bisa menjelaskan, tapi tolong beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu walaupun itu hanya satu bulan. Setelah itu, kamu boleh memutuskan meninggalkanku atau bersamaku selamanya.”
Alina hanya diam dan mengangguk pelan pada Raka. Lalu memapahnya untuk turun dari rooftop Rumah Sakit dan meminta izin dari Dokter untuk keluar dari rumah sakit.
***
Keesokan sorenya
Raka membawa Alina ke sebuah pantai di Indramayu, namanya pantai Tirtamaya mengendarai mobil McLaren GTR.
Mereka berdua tiba di tempat parkir pantai dan Raka membukakan pintu untuk Alina dengan tersenyum tipis, "Silahkan tuan putriku!"
Alina keluar dengan memegangi tangan Raka, tapi raut mukanya tetap datar. Raka tetap tidak mempermasalahkannya dan mengerti kondisi Alina masih syok.
Raka memegang tangan Alina dengan lembut dan menariknya ke tepi pantai. banya muda dan mudi iri pada pasangan yang gak jelas itu. Mereka berdua tampak serasi, bahkan ada fotografer lepas yang mengabadikan momen mereka berdua sedang berjalan di bibir pantai.
Raka berhenti dan memeluk pinggang Alina, lalu berkata, “Tahukah kamu apa yang paling indah dari matahari terbenam atau sunset?”
Alina menggeleng pelan, tetap dengan raut wajah datar. Kemudian Raka melanjutkan dengan menjawabnya sendiri, “Senyummu! Senyummu! Senyummu dan senyummu!”
__ADS_1
Alina tersenyum kecut dan berkata lirih, "Maafkan aku mas."
Raka memeluk pinggang Alina semakin kuat dan mencium ubun-ubun Alina dengan sangat lembut, "Aku yang seharusnya meminta maaf. Mungkin ku yang seharusnya merubah waktu jika aku bisa. Maka kamu tak semenderitaa ini. Kamu pasti sudah menikah dengan Daniel dan hidup bahagia, serta sarang punya anak-anak yang lucu-lucu."