
Keesokan paginya.
Raka terbangun setelah mendengar pintu kamar rawat Alina dibuka oleh salah satu suster. Dia tertidur sangat pulas sampai 20 jam, karena saking lelah tubuh dan pikirannya.
Selama raa tidur Alina tetap berada di dalam ruangan dan tak berani untuk memanggil Raka. Sebab Alina menganggap jika Raka bukanlah Raka tapi Toldep dan Toldep itu adalah orang asing baginya. Walaupun sikapnya pada Alina sangat baik dan perhatian.
Raka pun bangun dengan meregangkan tubuh dan melihat Alina sudah berada di depan pintu kamarnya untuk segera pulang ke rumah. Karena Alina sudah menjalani pemeriksaan terakhir daan diizinkan boleh pulang oleh dokter yang memeriksanya.
“Ayo mas kita pulang!” seru Alina dengan tersenyum ramah.
“I-iya,” sahut Raka dan berjalan mengekor di belakang Alina dengan pandangan menunduk.
Selama dalam perjalanan menuju basement parkir rumah sakit tidak ada kata sepatah kata pun yang keluar dari dalam mulut mereka berdua. Keduanya bungkam seribu bahasa dan berkutat dalam pikiran masing-masing.
“Kita cari sarapan dulu ya,” celetuk Raka memecah keheningan.
“Bo-boleh mas,” balas Alina gugup.
Mereka berdua pun naik motor dan Alina duduk di ujung jok motor sengaja menjauhi Raka.
“Maafkan aku jika kau berlalu kurang sopan kemarin. Aku hanya khawatir jika tidak diikat tubuh Mbak akan terjatuh, karena kau gak bisa memegang tubuh Mbak sekaligus menyetir motor,” kata Raka tulus.
Alina tersenyum sinis pada dirinya sendiri, “Tidak apa-apa mas. Tubuh yang kotor ini memang pantas diperlakukan seperti itu, karena memang sudah tak berharga lagi di mata siapapun.”
Rasanya raka ingin marah mendengar Alina merendahkan dirinya sendiri. Tapi dia menarik nafas dalam-dalam untuk menurunkan rasa emosinya.
“Mbak, maaf. Bukannya aku ikut campur pada Mbak. Tapi setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda dalam menilai sesuatu. Bisa saja menurut Mbak tidak berharga, tapi menurut orang yang mencintai dan menyayangi Mbak. Gadis seperti Mbak sangat berharga, bahkan begitu berharganya Mbak ini dia rela mengorbankan apapun demi Mbak,” sergah Raka.
__ADS_1
Seketika itu juga Alina langsung menangis, air matanya tak bisa dibendung lagi. Dia ingat akan sosok Raka yang selalu menganggap dirinya sangat berharga, apapun direlakannya demi kebahagiaan Alina.
Melirik Alina yang sedang menangis, ingin rasanya Raka memeluk tubuh gadis mungil nan seksi itu. Tapi dia mengurungkan niatnya, lalu mengambil sapu tangan di sakunya.
“Maafkan aku Mbak. Kalau kata-kata yang aku ucapkan menyinggung hati Mbak. aku gak ada maksud buat menyinggung hati Mbak. Sungguh!” Raka memberikan sapu tangan itu pada Alina ambil mengacungkan dua jari berpose jari peace, “Kalau aku bohong rela dah diperkosa banci.”
“Pfft!” Alina yang sedang menyeka air matanya langsung tertawa spontan dengan menutup mulutnya. “Terima kasih ya mas udah hibur aku. Aku hanya menangis teringat seseorang yang telah aku zalimi selama satu tahun ini. Ingin rasanya aku bertemu dengannya dan meminta maaf atas perlakuanku yang tak pernah mengerti perasaannya itu. Tapi aku sangat malu dan takut jika harus bertemu dengannya.”
“Sudahlah Mbak. Gak perlu dipikirin lagi. Mungkin dia juga uda mati atau bahagia bersama orang lain, hehehe …,” canda Raka dan membuat Alina langsung cemberut. “Aku sejujurnya gak paham sih dengan masalah Mbak ini. Tapi satu hal, biarlah kita bertemu dengan orang yang pernah kita sakiti dan meminta maaf dengan tulus, walaupun orang tersebut memaafkan kita atau tidak.”
Setelah mengatakan hal tersebut dan membuat Alina tertegun, Raka segera melajukan motornya menuju warung bakso langganannya, sebab perutnya sudah berdemo keras dan tak bisa ditolerir lagi.
___
___
___
“Gak sih Mang Beben. Aku sudah dua hari ini gak buka bengkel. Kasihan ini baru pulang dari rumah sakit, ini temanku Mbak Maharani yang sakit demam,” jawab raka dengan tersenyum ramah pada Beben.
“Sa oloh. Teman apa teman?” goda Beben sambil menaik-turunkan alisnya.
Raka mendorong pinggang Beben untuk segera menyiapkan bakso pesanannya, “Sudah mang Beben cepat bikinin aku dua bakso spesial. Kepo aja nih!”
“Ce ileh! Gak boleh amat.” Beben segera menyiapkan bakso pesanan Raka dan Alina
Sementara Alina duduk di kursi dan Raka menerima telepon dari Abel yang tiba-tiba memintanya mengirimkan uang.
__ADS_1
“Kampret, kenapa lu telepon gue sekarang, tolol!” cicit Raka.
“Eh, buset! Lu galak amat Bonjot! Palingan lu juga lagi layanin pelanggan emak-emak di bengkel kan?” balas Abel dengan suara lantang. “Sudah kirimin gua duit 10 miliar. Ini gue berhasil mendapatkan tanah yang strategis di Sidoarjo buat investasi jangka panjang.”
“Dasar lu ya. Tiap kali nelpon minta duit mulu. Emang duit lu pada kemana dari keuntungan pengelolaan sawah dan lain-lain?” tanya Raka dengan urat otot di dahinya yang sudah menonjol besar dan Alina terus memperhatikan Raka yang sedang bicara serius di telepon.
“Bonjot sialan! Semua keuntungan gue tentu aja udah gue transfer ke rekening lu di bank sentral swiss kampret. Emang gue kemanain? Kawinin 10 gadis cabe-cabean?” Abel tambah kesal arena Raka terlalu berbelit-belit.
“Oke gue transfer.” Raka langsung mentransfer uang 20 miliar yang baru saja dia terima dari Kolaborator. “Udah gue transfer tuh 20. Terserah lu yang sepuluhnya mau diapain. Gue mah baik banget ama sahabat-sahabat gue, kampret!”
Saking kesalnya, Raka langsung menutup teleponnya tersebut dan ingin rasanya dia membanting ponsel bututnya itu. Tapi karena ada Alina, dia mengurungkan niatnya.
Alina melihat Raka sedang kesal dan saat Raka duduk di depannya, Alina langsung bertanya, “Kenapa mas? Ada masalah?”
“Ah biasalah. Adik aku minta duit buat beli apalah itu. tapi sudah beres, aku dah transfer uangnya kok,” jawab Raka seenaknya
Dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh manis pun dihidangkan untuk Raka Juga Alina.
Raka segera melahap bakso di mangkuknya untuk melampiaskan emosinya itu yang disebabkan oleh Abel.
Sesekali Raka yang tak tahan curi-curi pandang ke arah muka Alina yang sangat imut dan manis.
Hati Alina mulai merasakan kehangatan dari semua sikap Raka yang menjadi Toldep dan dia berusaha membuka hatinya pada Raka.
“Itu ada sesuatu di bibir kamu.” Raka menyeka sudut bibir Alina dengan tisu dan memandangi wajah Alina dengan rasa yang tak bisa dilukiskan.
Alina juga sama sekali tidak risih dipandang oleh Raka. Di satu sisi dia ingin melupakan Rasa, tetapi setiap kali melihat senyum Toldep, Alina seperti melihat senyum Raka yang selalu hangat di dalam hatinya.
__ADS_1
“Terima kasih mas Toldep.” Alina pun dibuat malu dan salah tingkah atas perhatian Raka pada dirinya.