
“Hentikan mas!” bentak Alina yang tak enak mendengar kata-kata tersebut dari Raka.
Namun saat Alina membalikkan wajah dan diarahkan ke wajah Raka. Pria berambut belah dua tersebut tengah tertidur lelap. Semalaman dia terus memandangi wajah Alina yang sedang tidur, dia sangat takut Alina akan meninggalkannya lagi ketika dia tertidur lelap.
Alina memapah tubuh Raka dan membawanya ke mobil miliknya yang tengah diparkir di tempat parkir yang hanya berjarak 20 meter. Lalu memasukkan tubuh Raka yang wajahnya begitu imut ketika dia terlelap tidur.
Gadis berambut perak tersebut hanya memandangi Raka dengan tersenyum tipis. Dia bisa melihat lagi wajah Raka yang sangat tampan itu sekali lagi dengan sangat dekat. Kebimbangan hatinya pda Raka perlahan luntur dan tekad hatinya untuk tetap mencintai Raka kembali menguat.
Mobil itu sekarang Alina yang menyetir dan melajukan kecepatannya sepelan mungkin, supaya Raka tidak terbangun dari tidurnya.
Alina sangat menikmati perjalanan romantis ini dengan Raka. Tapi tiba-tiba ponsel khusus Raka berbunyi dan itu adalah panggilan dari Abel.
Alina mengangkatnya dan mendengar suara Abel sedang menjerit kesakitan. Tanpa basa-basi lagi Alina menekan tombol pedal gas untuk melajukan mobilnya secepat mungkin untuk pulang ke rumah Abel.
***
30 menit kemudian.
Mobil Alina sampai di rumah Abel dan mendapati Abel beserta para tetangga yang bekerja di rumah Abel sedang dipukuli oleh komplotan pria berjas hitam dan memakai penutup kepala. Mereka semua adalah gangster suruhan Daniel yang tengah mencari Alina untuk dibawa pulang.
Alina mengerem sekaligus dan membuat dahi Raka terhantuk, hingga membuat Raka terbangun dengan memekik, “Aduh!”
“Maaf, mas! Kak Abel mas, lihat!” tunjuk Alina ke arah Abel yang sedang diikat bersama para pekerjanya.
“Kamu mundur sejauh mungkin!” Raka segera membuka pintu mobil dan langsung menantang para komplotan gangster Raja Naga yang disewa oleh Daniel, ”Sampah seperti kalian berani menyentuh sahabatku. Maka kalian akan mati!”
“Jangan banyak cara! Katakan dimana Alina? Dia harus membayar hutang ayahnya pada bos kami 100 milyar! Kalau tidak, maka temanmu dan semua keluarga Alina akan kami habisi sekarang!” teriak salah satu pria berjas hitam dengan menodongkan pistol ke arah Raka.
__ADS_1
“Aku tahu siapa bos kalian! Hanya cecunguk Narendra saja mau menggertakku. Pergi! Aku Gibran Rakabumi yang akan menemui Daniel Arslan Putra!” tegas Raka terang-terangan.
Sebab dia sudah tahu dari Monica, jika mereka orang-orang dari gangster Raja Naga yang telah disewa oleh Daniel.
Tubuh mereka bergetar hebat, tapi tetap berpura-pura untuk tetap kuat. Padahal mereka terkencing-kencing oleh aura membunuh yang Raka keluarkan.
Mereka membawa Abel dan mengancam dengan melemparkan ponsel ke arah Raka, “Kami akan membawa dia sebagai sandera dan bawa uang 100 milyar. Kami akan meneleponmu nanti dan jangan sampai lapor polisi kalau tidak, dia akan kami bunuh!”
“Bonjot tolong aku jot! Tolong! Aku belum menikah jot! Tolong aku jot! teriak Abel merengek-rengek.
Tidak ada warga yang berani keluar dari rumah masing-masing. Mereka hanya mengintip dari jendela dan ketika mereka melihat Abel sedang ditodong kepalanya oleh pistol, semua warga langsung masuk kamar masing-masing dengan tubuh gemetar.
Abel dimasukkan paksa dengan ditendang pantatnya ke salah satu mobil jeep Rubicon. Raka tidak tinggal diam melemparkan permen karet berisi alat pelacak ke mobil jeep Rubicon tersebut. Supaya mudah menemukan lokasi keberadaan Abel dan menyelesaikan antara dirinya dan Daniel terkait Alina.
Setelah mobil itu melaju ke arah Barat, Raka segera menghubungi Vincent untuk menyiapkan uang 100 milyar dan juga anggota elite Eternal Guard sebagai jaga-jaga untuk memback-up jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Alina minggir ke kursi penumpang dan Raka yang mengemudi untuk mengejar mobil yang membawa Abel. Tapi sayang, mobil komplotan geng Raja Naga itu terlalu cepat. Raka dan Alina kehilangan jejak mereka. Dengan terpaksa Raka mengeluarkan alat seperti gamebot dan menekan tombolnya.
Di melihat titik merah terus bergerak menuju ke arah tol Kertajati, “Sayang, tolong pegang ini! Mereka akan membawa Abel ke Jakarta. Kemungkinan markas besar mereka di wilayah Jakarta Barat. Lebih baik kamu aku hantar ke mansionku biar aman.”
“Tidak mas! Aku dengar mereka mengatakan tentang keluargaku yang berhutang pada Daniel 100 miliar. Ini semua masalahku, biar aku yang berbicara pada Daniel,” sergah Alina dengan raut muka khawatir pada ayahnya.
“Tenanglah, sekarang kamu punya aku. Apapun aku lakukan untuk menyelamatkan kamu dan keluargamu, aku janji.” Raka memegang tangan kanan Alina dan menggenggamnya. Lalu menariknya pelan ke arah bibir Raka untuk dicium.
Setiap Raka mencium bibir ataupun bagian tubuh Alina, hatinya langsung bergetar dan tenang. Tidak ada lagi rasa khawatir dihatinya.
***
__ADS_1
Keesokan paginya, Mansion milik Raka.
Raka bangun dengan mengerjapkan mata. Dia tertidur lelap setelah menunggu kabar dari geng Raja Naga, tapi belum ada kabar untuk bertemu di tempat mana untuk bertransaksi.
Mobil itu ternyata ditinggalkan dan titik merah pada alat gamebot itu berhenti di stasiun Jatinegara. Mereka lebih pintar dan mengganti mobilnya menuju tempat yang belum diberitahukan kepada Raka untuk bertransaksi.
Raka sangat kesal, ternyata mereka telah meninggalkan mobil sebelumnya dan itu membuatnya kehilangan jejak. Tapi dia tidak mau marah, sebab Alina masih tidur di ranjangnya dan Raka tidur di lantai.
Ponsel khusus Raka berbunyi dan mendapatkan pesan dari Vincent, jika mereka telah menemukan keberadaan tempat dimana Abel disekap. Tepat dugaan Raka, geng Raja Naga itu menyekap Abel di markas utama mereka di wilayah Koja, Jakarta Utara.
Namun melihat Alina yang meringkuk sambil memeluk guling, Raka jadi enggan pergi dan ingin mengganggu Alina yang begitu imut.
Raka tertidur lagi menghadap wajah Alina dan curi-curi cium untuk mencium pipinya. Merasa ada benda kenyal dan lembut menyentuh pipinya, Alina jadi terbangun dengan pipi memerah.
“Jahil banget sih mas!” Alina mengucek matanya tapi tak mendapati Raka disisinya.
Ternyata sebelum Alina terbangun, Raka sudah menjatuhkan diri dengan berguling dari tempat tidur. Dia merasa malu karena terus-terusan mencium pipi Alina yang merupakan candu baginya sekarang.
Raka berpura-pura tertidur sambil ngorok dan Alina tahu jika Raka sedang berpura-pura. Dia juga berguling ke arah Raka untuk menimpa tubuhnya.
“Aaw! Auuuuuooo …!” pekik Raka memegangi benda pusakanya yang sedang tegak berdiri tertimpa pantat Alina yang sangat bahenol.
“Kenapa mas?” Alina berpura-pura tidak tahu dan meremas benda pusaka Raka dengan sangat keras. “Oh, ini singkong premium ya?”
“Aaaaakh!” Raka kembali memekik keras, sebab Alina meremas benda pusakanya yang masih sakit dengan sangat kuat. “Hentikan sayang! Aku mohon!”
“Sayang? Kapan aku jadi istrimu mas dan kapan aku menjadi pacarmu?” tanya Alina dengan mencebirkan bibir.
__ADS_1