Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati

Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati
Membeli Perkebunan


__ADS_3

***


1 tahun kemudian.


Setelah Alina pergi lagi dari Raka dan menghilang. Pria berambut belah dua tersebut kali ini mencoba tegar dan menyerahkan semua perusahaannya ke Vincent, Abel, dan juga Verdant tanpa sedikitpun meminta profit dari mereka.


Sesekali Raka menerima misi untuk membunuh orang yang benar-benar ingin dia bunuh. Tap kebanyakan menghabiskan hidupnya selama satu tahun terakhir menjadi seorang montir bengkel motor.


Sebuah bengkel motor yang agak usang di pinggiran kota Sidoarjo menjadi saksi bisu kehidupan Raka saat ini.


"Mas Toldep! Mas!" panggil sosok wanita paruh baya di depan bengkel Raka.


Raka orang yang sangat mudah bergaul, bukan hanya charming, ramah, tapi Raka juga sering membagi-bagikan makanan pada warga sekitar. Tak heran bengkelnya selalu ramai dan dipenuhi banyak pelanggan terutama pelanggan wanita.


Walaupun Raka sudah memakai kacamata bulat, kumis tipis palsu dan juga tompel. Tapi tetap saja pesonanya selalu membuat semua wanita rahimnya menghangat.


"Ya, bu!" sahut Raka keluar dengan pintu di samping rolling door, sebab bengkelnya belum dibuka. "Maaf ya bu, aku kesiangan ini buka bengkelnya. Maklum, biasalah anak tua, hehehe …."


"Cari istri donk mas Toldep!" goda Sinta dengan tersenyum ramah. "Oh, ya. Kenapa sih namanya Toldep? Apa itu nama asli?"


"Biasalah bu, anak-anak sini panggilnya begitu. Namaku aslinya Gibran, hehehe …." Raka terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bannya bocor ya bu Sinta?"


"Iya mas Gibran. Mohon bantuannya mas, soalnya aku mau antar anak majikanku yang sudah lama mengajar di sekolah TK. Takutnya terlambat," pinta Sinta.


"Oaalah siap bu, aku akan gunakan jurus kecepatan lebah," canda Raka dan membuat Sinta terkekeh pelan.


Raka langsung membuka bengkelnya dan menegakan motor matic Honda Beat yang ban belakangnya kempes. Dia memulai menambal ban motor tersebut yang menggunakan ban tubles. Jadi Raka dengan mudah menambal ban belakang motor tersebut yang bocor tertusuk paku.


“Mas Gibran, mau nggak ibu kenalin pada anak majikan ibu? Siapa tahu cocok kan bisa lanjut ke pelaminan, hehehe …?” goda Sinta.

__ADS_1


“Ah, ibu. Aku jadi malu ini, hehehe …. Entahlah, bu. Saat ini aku belum ingin fokus berumah tangga, takutnya pada kabur setelah melihat wajah asliku dan latar belakangku. Terakhir kali saja aku ditinggalin. Kan aku jadi sedih.” Raka berakting pura-pura sedih.


“Ya namanya juga usaha mas. Soalnya ibu suka kasihan sama anak majikan ibu itu. Tiap hari dia pulang sendiri dan kadang suka pulang malam, karena harus bekerja paruh waktu di restoran setelah pulang mengajar.”


“Ibu takut aja kalau dia di apa-apain. Dia juga masih tanggung jawab ibu mas kalau terjadi apa-apa. Mana dia cantik banget lagi, walaupun pakai baju apapun. Ibu jadi tambah khawatir,” jelas Sinta dan berhasil menggugah hati Raka.


“Oh, kasihan juga ya bu. Ya sudah malam nanti aku yang jemput dia. Biar dia aman, bagaimana?” tawar Raka yang ingin membuka diri untuk wanita lain, “Memangnya dia kerja dimana?”


“Kalau pagi mengajar di TK Sanubari hati dekat sini. Setelah mengajar dia kerja di Lippo Plaza Sidoarjo,” jawab Sinta.


Gadis yang dibicarakan oleh mereka berdua akhirnya muncul. Sosok gadis berambut perak dengan gaya rambut disanggul modern, memakai kemeja putih yang ditutupi blazer hitam dan rok hitam menjuntai sampai tumit.


Bibirnya yang merah muda merekah hanya memakai lip gloss yang membuat bibir itu tambah menggoda dan memakai kacamata yang menutupi manik matanya yang berwarna perak.


“Ibu sudah ditambal belum bana motornya?” tanya sosok gadis mungil nan seksi tersebut.


Raka melanjutkan proses penyelesaian penambalan ban motor tersebut tanpa memperdulikan suara yang tak asing baginya.


“Sudah bu. Sudah selesai.” Raka menurunkan standar yang menegakan motor tersebut dan memarkirkannya ke depan bengkel. “Kalau ongkos mah biasa 10.000 hehehe ….”


Sinta memberikan selebaran uang 10.000 pada Raka yang terus menundukan wajah setiap kali bertemu gadis muda.


Raka masuk ke dalam bengkelnya dan tak menghiraukan Alina sudah bermetamorfosis menjadi guru di TK Sanubari.


"Eh, kenalan dong!" Shinta menepuk pundak Raka yang masuk ke dalam bengkelnya.


Raka pun menengok, lalu menundukan wajah. Dia sudah benar-benar menutup hatinya untuk perempuan lain dan mencoba melupakan bayangan Alina di dalam hati serta pikirannya.


“Paan sih, bu!” Alina menolak.

__ADS_1


“Ya kenalan aja. Kan gak papa. Mas Toldep biar jadi Bodyguard kamu dan jemput kamu kalau pulang dari restoran. Soalnya ibu mulai besok harus bekerja kembali ke Jakarta.” Shinta menarik tangan Alina dan Raka untuk disatukan. “Tuh, kan cocok. Mas Toldep kaya Arjuna, kamu kaya Srikandi, hehehe ….”


“To-toldep,” kata Raka gugup dengan menundukan wajah.


“Maharani, panggil aja Rani,” balas Alina dengan tersenyum ramah.


Semenjak keduanya membunuh rasa cintanya itu, mereka berdua kehilangan insting cinta satu sama lain dan tak bisa lagi merasakan sentuhan cinta yang lembut dari tangan satu sama lain.


“Aku nanti yang mengantarkan dan menjemput kamu. Ini nomorku.” Raka mengambil ponsel butut di sakunya dan menunjukan nomor ponselnya pada Alina. “Nanti telepon saja. Tenang, aku tidak akan berbuat yang tidak-tidak.”


“Ya, aku percaya. Orang yang direkomendasikan Ibu selalu orang baik.” Alina mencatat nomor Raka di ponsel miliknya. “Terima kasih Sudah mau bantu Ibu dan aku.”


"Sama-sama," balas Raka masih dengan menundukan pandangannya pada Alina.


Kemudian gadis mungil nan seksi itu pergi menaiki motor yang dikendarai oleh Sinta menuju TK Sanubari.


Selang lima menit kemudian, mobil Toyota Alphard berhenti di depan bengkel Raka. Keluar seseorang memakai jas hitam dan memakai kacamata hitam. Kulit sawo matang dengan model rambut Mohawk yang berkilau di bawah paparan sinar matahari membuat Raka terkejut.


“Whats up bro! Gimana kabar lu njot!” sapa Abel dengan gaya Rapper Amerika.


Raka langsung memiting leher Abel dan menariknya ke dalam mobil, “Cungkring! Sudah aku bilang jika ingin menemuiku jangan disini sialan!”


Abel melepaskan pitingan tangan Raa yang menjepit lehernya, “Sorry bro. Sungguh hati ini sangat merindukanmu. Satu tahun kau menghilang dan tak ada kabar. Untung si rambut terong memberitahuku. Aku bosan bro hidup banyak uang. Sebenarnya bukan karena banyak uangnya sih, tapi karena lu ga ada diantara kita. Baliklah!”


"Ogah ah, males. Enak begini gue. Walaupun pas-pasan, gue adem ayem dan bisa tenang. Gak harus lari ke anggur merah dan juga foya-foya lagi. Sekarang kalau pusing paling banter minum fanta,” tolak Raka.


Abel hanya menghela nafas panjang melihat sahabatnya yang tak mau pulang dan hidup bergelimang harta lagi.


“Ya, udah. Gue gak maksa. tapi kalau ada apa-apa hubungi gue, Vermuk atau rambut terong, oke.”

__ADS_1


“Ya.”


Raka pun langsung keluar dari dalam mobil mili Abel yang sedang ada perjalanan bisnis di Sidoarjo. Dia ingin membeli perkebunan di Sidoarjo untuk menambah aset properti tanah miliknya.


__ADS_2