
Dokter pun masuk dan langsung menyuntikan anestesi pada Alina agar dia tenang dan tidak histeris lagi dengan bertanya-tanya tentang Raka secara terus menerus pada Verdant.
***
Apartemen Bonavista Lebak Bulus.
Raka menendang kamar yang memiliki dua pintu di lantai paling atas apartemen Bonavista.
BRAK!
Tampak para anggota geng Harimau Putih sedang berdiri dan para petinggi mereka sedang memutari meja bundar sembari bermain judi dan minum-minuman keras.
Semua mata mengarah ke arah Raka. Mereka menganggap bos eternal Grup itu datang seorang diri. Nyatanya dari sisi kanan dan kiri pintu masuk dengan rapi pria berjas merah.
Suasana di dalam ruangan yang cukup besar itu langsung tegang. Semua orang terdiam dan menatap tajam ke arah Raka.
Tanpa basa-basi dengan raut wajah dingin, Raka secepat kilat mengambil pistol yang berada di belakang pinggangnya dan menarik pelatuknya dengan sangat cepat.
DOR!
Salah satu petinggi geng Harimau Putih langsung tumbang erjungal ke belakang dengan dahi tertembus peluru dan cairan merahnya menyembur ke udara.
Semua petinggi termasuk pemimpin geng Harimau Putih nyalinya langsung mencit setelah Raa mengekseusi salah satu diantara 10 petinggi mereka.
“Ampuni kami bos besar!” Sembilan orang langsung berlari ke depan Raka dan bersujud di hadapannya.
Bagi Raka mereka hanyalah semut yang pantas diinjak, karena sudah mengusik orang yang paling dia cintai.
“Ampun, cih! Kalian memang tak becus mengurus anak buah kalian. Aku sudah berbaik hati memberikan kalian tempat. tapi kalian tidak tahu diri!” geram Raka.
DOR! DOR!
Semua petinggi geng Harimau Putih dieksekusi tanpa ampun oleh Raka dan mendapat tembakan tepat di dahi mereka.
Vincent yang berada di belakang Raka pun hampir terkencing-kencing melihat Raka mengeluarkan aura membunuh sepuluh kali lipat dari sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
Raka yang dilihat sekarang oleh Vincent seperti malaikat kematian yang tak pernah berkompromi dalam mencabut nyawa.
“Habisi mereka semua dan akuisisi apartemen ini segera!” bisik Raka sambil menepuk pundak Vincent dan membuat tubuh pria berambut ungu bergidik ngeri.
Vincent melambaikan tangan untuk memerintahkan semua pasukan Raka untuk menghabisi semua anggota geng Harimau Putih dimanapun berada.
Setelah itu Raka mengambil rokok di dalam jas hitamnya dan menyalakan rokok tersebut. Bayang-bayang senyum di wajah Alina mulai menghantuinya.
Akhirnya Raka memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat di Indramayu. Kalau pikirannya sangat kacau, maka tempat tersebut bisa menjadi tempat andalannya untuk menenangkan diri.
Di dalam mobil Toyota Vellfire yang dikemudikan anak buahnya. Raka mengganti pakaiannya dengan pakaian kaos sederhana, berupa celana training dan kaos berwarna putih dan sepatu sneakers.
“Tuan muda, anda mau kemana?” tanya sang sopir bernama Kumardi.
“Antarkan aku ke Stasiun Beos. Jangan bilang pada siapapun kalau aku pergi ke Stasiun Beos, paham!” titah Raka dengan nada dingin.
“Ba-baik, tuan muda!”
Kumardi pun mengemudikan mobilnya secepat mungkin membelah jalanan kota Jakarta yang mulai agak padat. Untuk menghantarkan Raka menuju Stasiun Beos.
***
Raka yang kelelahan tertidur di Stasiun setelah keretanya tiba jam satu malam di stasiun Terisi.
Raka sama sekali tidak membawa uang maupun ponsel pintar. Dia hanya tiga pasang baju di tas gendong kecilnya dan sandal.
“Hoaaam! Nyenyak sekali tidurku malam tadi,” gumam Raka sambil menguap.
Seketika itu juga dia langsung berhenti menguap ketika mengingat wajah Alina, “Semoga kamu baik-baik saja sayang,” gumamnya.
Raka melangkahkan kakinya untuk keluar dari stasiun Terisi yang sudah sangat ramai di pagi hari. Sebab bersebelahan dengan pasar Terisi.
Akan tetapi, semua pasang mata wanita tertuju pada Raka saat pria berponi miring itu keluar dari wilayah stasiun Terisi.
Tidak ada satupun pasang mata yang berkedip melihat ketampanan Raka. Bahkan air liur mereka sampai menetes deras di kedua sudut bibir masing-masing.
__ADS_1
Raka tetap dingin dan tak peduli, hingga di dekati oleh salah satu tukang ojek di stasiun Terisi, “Ojek mas?” tawarnya dengan tersenyum ramah.
“Mau sih pak.Tapi aku gak bawa uang. Uangku dah habis,” jawa Raka dengan tersenyum tipis.
“Memang mas mau kemana?” tanya lagi si Bapak tukang ojek.
“Ke desa Mundakjaya blok Munjul pak. Mau ketemu teman lama, itu si Cungkring juragan beras pak. Bapa tahu?” jawab Raka.
“Oalah bos temannya bos Cungkring.Ya sudah aku antar, mari naik! Kebetulan aku juga mau pulang, sebab sudah dapat banyak. Bos Cungkring itu tetangga bapak,” ajak Bapak tukan Ojek bernama Sarmili.
“Oalah, terimakasih banyak pak. Nanti aku hutang dahulu sama si Cungkring kalau sudah sampai rumahnya buat bayar ongkos bapak,” balas Raka yang sudah mulai mereda pikirannya dari ingatan tentang Alina.
Raka pun naik motor dan berbincang dengan Pak Sarmili, hingga tak terasa sudah sampai di depan rumah Cungkring yang terlihat sangat megah, walaupun berada di sebuah kampung.
Cungkring sedang bermain dan bersiul dengan burung-burung di depan rumahnya. Dia hanya memakai sarung dan tank top berwarna putih, kulitnya sawo matang, kepala botak dengan kumis yang melintang.
“Abel!” teriak Raka dengan suara yang melengking dan membuat Cungkring kaget setengah mati.
Nama asli Cungkring adalah Abel Prasetya, tapi Raka dan semua orang yang mengenalnya memanggilnya Cungkring.
“Sialan kau Raka! Kampret!” rutuk keras Cungkring dengan dada kembang kempis tak beraturan dan melanjutkan, “Ngapain kamu kemari? Jangan bilang putus cinta. Omong kosong laki-laki setampan dirimu putus cinta terus kabur kemari.”
“Aish, kau memang udah kaya dukun aja bel. Aku salut padamu, hahaha …. Sini kasih duit buat bayar bapak ini!” pinta Raka dengan menyodorkan tangan dengan gaya manja pada Cungkring.
“Aish-aish … orang terkaya nomor satu di Indonesia minta uang padaku. Kemplu kau Raka.” Cungkring langsung memiting leher Raka dan menjitak kepalanya itu berkali-kali.
Raka dan Abel sudah seperti saudara. Abel banyak berjasa pada Raka sewaktu masih baru menjadi pembunuh bayaran, dia selalu mengobati Raka ketika Raka mendapatkan luka yang serius.
Tapi semenjak Raka banyak uang dari hasil membunuh politisi jahat, dia meminta Abel untuk pulang ke kampungnya di Indramayu, dan mendirikan sebuah usaha penggilingan padi.
Alhasil usaha Abel sangat maju dan dia menjadi orang terkaya di Indramayu saat ini. tapi Abel bukan orang yang cinta dunia, semua penghasilannya selalu dibagi-bagikan ke orang-orang yang lebih membutuhkan. Rumah megah ini juga aslinya milik Raka, karena Raka yang memberikan uang pada Abel untuk membangun rumah yang cukup layak untuk Abel.
“Pak, makasih ya!” Raka memberikan uang 1 juta pada Sarmili dan pria paruh baya itu rasanya mau copot jantungnya.
"M-m-mas i-ini ke-kebanyakan, ongkosnya cuma 10 ribu," balas Sarmili yang mau pingsan.
__ADS_1