
Satu bulan kemudian.
Raka dan Alina terus berhubungan baik seperti seorang teman. Tidak ada hal yang istimewa di antara mereka berdua.
Setiap hari Raka mengantarkan ALina dan menjemput Alina. Tapi malam ini Raka ingin mengajak Alina makan di suatu restoran yang menurutnya makanannya enak.
Raka memakai kaos putih dan celana jeans berwarna biru sambil memakai sweater berwarna coklat terang.
Dia menekan tombol klakson motornya di depan gerbang rumah Ibu Sinta, “I am Coming!”
Alina keluar memakai sweater yang sama seperti warna sweater yang dipakai Raka dan celana katun berwarna sama seperti seperti sweater yang dipakai oleh Raka.
“Cie-cie kita samaan,” goda Raka sambil menunjuk outfit yang dipakai oleh Alina.
“Apa aku jelek ya mas?” tanya Alina yang tidak percaya diri padahal sangat cantik malam ini dengan riasan natural dan lip gloss berwarna merah muda.
“Ti-tidak, ka-kamu cantik.” Raka terserang virus cinta lagi dan sangat gugup saat pertanyaan Alina. “Sudah kamu sangat ca-cantik. Kita jalan aja yuk! Takut nanti kemalaman.Kaan kasihan kamu besok pagi harus mengajar.”
“Te-terima kasih mas.” Alina pun menunduk malu dipuji oleh Raka. Lalu naik ke motor Raka dan memegang pinggangnya.
Singkong premium milik Raa seperti terkena sengatan listrik dan langsung ganas berontak di dalam s***** saat Alina memegang kedua pinggangnya.
“Woy, diam napa? Ini bisa merusak keimanan. Eh, salah, merusak suasana tau!” monolog Raka dalam batinnya.
Alina mulai nyaman dengan kehadiran Toldep alias Raka dan perlahan mulai melupakan Raka. Tapi dia masih tidak tahu jika Toldep adalah Raka. Sungguh memang wanita yang tidak peka.
__ADS_1
Raka melajukan motornya agak pelan, agar momen bersama Alina lebih lama dan tidak cepat berlalu. Kapan lagi dia bisa merasakan hal ini.
“Mas, menurut mas aku gimana?”tanya Alina malu-malu Kucing.
“Kamu sangat cantik, baik, punya badan yang sempurna dan kalau aku boleh jujur ya suka sih dengan kepribadian Maharani. Memangnya kenapa kok tiba-tiba bertanya hal ini?” jawab Raka yang sudah tidak mau berharap lebih lagi pada Alina.
“Mas, aku jujur Mas, karena menurut aku mas laki-laki yang bisa aku percaya selama sebulan ini. Aku sudah bukan gadis suci lagi mas. Tapi aku suka sama mas. Aku hanya ingin jujur saja tentang perasaan aku pada Mas Toldep,” terang Alina, tapi Raka biasa saja menanggapinya.
“Aku hanya ingin serius dan bukan pacaran. Tidak penting bagaimana masa lalunya. Kalau Maharani mau menikah denganku tak masalah aku terima rasa suka Maharani,” jawab Raka sekenanya.
Saat itu pikirannya langsung ingat Raka dan bimbang. Mulutnya tiba-tiba terkunci dan tak bisa mengucapkan bahwa Alina menyetujui untuk Toldep menikahinya.
“Aku rela menjagamu walaupun aku menjadi orang lain dan selamanya kamu tidak akan pernah mengetahui jati diriku sebagai seorang Raka,” batin Raka yang tekadnya sudah bulat.
Motor Raka berhenti di sebuah restoran sederhana, tapi banyak pelanggannya. Dia sering makan restoran Ayam taliwang tersebut dan banyak mengenal semua karyawan, bahkan bosnya yang pernah ditolong oleh Raka.
“Kenapa tiba-tiba aku tidak bisa menyetujui dan mengatakan iya pada mas Toldep?Kenapa tiba-tiba ingatan akan mas Raka Tiba-tiba muncul di benakku? Oh, Tuhan, aku mohon berilah hamba petunjuk,” batin Alina dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa Ran? Sakit?" tanya Raka sedikit khawatir karena tiba-tiba Alina terdiam setelah mengatakan tentang pernikahan. "Sudah gak usah dipikirin. Aku juga gak pernah memaksa untuk mau menikah denganku. Aku juga masih agak trauma terhadap sebuah janji dan sebuah perkataan suka. Takut kalau aku nanti juga ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya.”
Alina merasa tersindir dengan perkataan Raka, membuatnya semakin teringat pada Raka yang pernah ditinggalkan olehnya begitu saja.
Raka memalingkan wajahnya dan memanggil bos pemilik restoran Ayam Taliwang yang kebetulan sedang ada di restoran, ”Hai Rena!” teriaknya Memanggil wanita berbaju kantoran berwarna merah yang sangat ketat itu.
Rena pun menengok, lalu berjalan agak epa menghampiri Raka, "Waduh maas Toldep! Lama kita gak jumpa. Sudah makan saja sepuasnya bersama pacarnya. Aku yang traktir."
__ADS_1
“Alah lama aku jumpa matamu sobek. Kamu aja yang tiap hari sibuk ngurusin banyak cabang restoranmu. Wong aku ini kadang seminggu empat sampai lima kali datang kesini, tanya noh karyawanmu itu Si Badrol, dia sering nemenin aku minum Fanta, hehehe …,” canda Raka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Oh, ya. Bilangin ama teman mas Toldep itu si tuan Vincent. Terima kasih banyak sudah menginvestasikan ke restoran. Sungguh, aku jadi terselamatkan,” kata rena sambil menangkupkan tangan ke arah Raka.
“Vincent? Seperti teman mas Raka namanya,” batin LAina sedikit curiga, tapi dia menganggap mungkin namanya kebetulan sama. Jadi dia tak bertanya pada Rena.
Padahal Vincent yang dimaksud oleh Rena memang temannya Raka dan sahabatnya yang sekarang mengurusi Eternal Grup.
“Ya, nanti aku sampaikan.” Raka mengacungkan jempol ke arah Rena. “Panggilin si Badrol Suruh kesini! Aku mau pesan! Aku gak mau kamu yang layanin, terlalu seksi, hehehe ….”
“Ya, ya, aku paham. Nanti pacarnya cemburu, hehehe …,” canda Rena sambil terkekeh pelan lalu pergi meninggalkan meja Raka.
“Mas, kamu pandai bergaul ya. Sampai-sampai semua orang yang ada di pusat kota Sidoarjo mengenalmu semua,” puji Alina mengalihkan perasaannya dari ingatannya pada Raka.
"Ah, biasa.Aku sering nongkrong aja di beberapa tempat dan kebetulan mereka punya masalah. Jadi aku tolongin aja," balas Raka merendah.
Badrol pun datang dan langsung ditodong pertanyaan oleh Raka, “Bagaimana emak sudah sehat?”
“Sudah bang. Terima kasih banyak atas pertolongannya,kalau tidak dibawa ke rumah sakit, mungkin nyawa emak sudah melayang. Terima kasih banyak bang,” jawab Badrol sambil bersimpuh di kedua kaki Raka.
Raka tak enak hati dan menegakan badannya, “Aku tak pantas menerima seperti ini. Kalau mau berterima kasih, berterima kasihlah dan bersyukurlah pada Tuhan. Ini uang untukmu!”
Raka juga memberikan uang 1 juta kepada Badrol dan dia menolaknya, “Jangan bang! Aku ada uang kok.”
“Ah, sudah. Cepat bawakan aku makanan favoritku dan semua makanan yang rekomen disini!” Raka malah memasukan uang tersebut ke saku baju Badrol dan mendorong tubuhnya.
__ADS_1
Tak sadar, air mata Badrol sudah terjatuh di kedu pipinya. Alina yang menyaksikan kemuliaan hati Raka juga ikut tersentuh hatinya dan mengingatkan Alina pada semua perbuatan Raka yang selalu tulus dalam memberi.