Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati

Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati
Kembali Menjadi Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Saat preman yang berdiri di depannya mau menurunkan resleting dan rasa putus asa menghinggapi hati Alina.


Saat itu pula motor Raka tiba di depan gang buntu dengan penerangan yang gelap tersebut.


Raka dengan mengeraskan rahang, menggulung lengan jas dan kemejanya untuk mengeluarkan senjata pelontar anak panah kecil yang berada di kedua lengan bagian dalam.


Kemudian, pria berponi miring ke kanan tersebut berlari secepat mungkin ke dalam gang bunuh yang sangat becek untuk segera menyelamatkan Alina.


Kelima preman tersebut begitu bodoh membawa Alina ke dalam gang buntu yang memiliki CCTV yang berada di seberang ujung gang buntu. Alhasil Raka bisa melacaknya dan sekarang dia akan membuat perhitungan dengan kelima preman tersebut.


Tanpa basa-basi Raka langsung menembakan senjata pelontar anak panah kecil tersebut ke arah kelima preman dana tepat mengenai tengkuk mereka.


Hanya dalam satu detik, kelima preman tersebut langsung tumbang terkena racun pelumpuh syaraf permanen.


Raka kembali menutupi senjata pelontar tersebut dengan kemejanya dan membuka jas miliknya untuk menutupi tubuh Alina yang sudah compang-camping.


“Raka, tolong aku!” teriak Alina histeris dan Raka langsung menggendongnya ala bridal style.


“Tenanglah, aku disini. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu. Kamu adalah belahan jiwaku dan selamanya kamu akan terus berada di hatiku,” kata Raka berjalan dengan cepat dengan raut muka panik dan khawatir melihat Alina sudah pingsan.


Raka menghubungi Vincent dengan chip telepon yang dipasang di telinga kanannya, “Bro, cepat kemari bawa pasukan! Bantai geng Harimau Putih!” titahnya.


Vincent tanpa menjawab langsung mematikan telepon, dan dia langsung mengumpulkan anak buah Raka yang khusus digunakan untuk membunuh para pesaing ataupun siapapun yang mengusik kehidupannya.


Raka sudah mengetahui jika kelima preman tersebut merupakan anggota geng Harimau Putih yang berkuasa di wilayah Jakarta Selatan. Dia mengetahui hal tersebut dari rekaman CCTV, saat salah satu preman itu menyeret tubuh Alina dan tampak tato di tengkuknya bermotif kepala Harimau berwarna putih.


Raka masih panik dan menggendong tubuh Alina dengan agak berlari cepat mencari taksi online.


“Pak, tolong pak!” Raka menemukan salah satu taksi Blue Bird dan menggedor pintunya agak keras, “Pak, tolong buka pak!”

__ADS_1


Sang supir segera keluar dari kursi kemudi dan membukakan pintu untuk Raka. Lalu membantunya mengangkat Alina masuk ke dalam mobil.


“Terima kasih pak,” ucap Raka, “Tolong bawa ke rumah sakit terdekat ya pak!”


“Baik, mas.”


Sang supir segera masuk ke dalam kursi kemudi dan melajukan mobilnya secepat mungkin, tapi masih dalam batas kecepatan menuju Rumah Sakit Eterna Maranggi milik salah satu sahabat Raka.


Sesampainya di rumah sakit, Raka meminta Verdant melalui telepon untuk melakukan pemindaian CT Scan pada Alina. Raka berupaya melakukan yang terbaik untuk Alina, karena saking bucinnya.


Alina sudah ditangani oleh para dokter terbaik di rumah sakit milik Verdant. Raka dan Verdant hanya bisa melihat dari kaca ruangan pemindaian CT Scan.


“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Verdanta pada Raka dan belum pernah melihat sahabatnya itu sepanik itu.


Verdant adalah sahabat kedua setelah Vincent yang sangat mengetahui seluk beluk Raka yang terkenal dingin, kejam dan tak berbelas kasihan dalam setiap membunuh targetnya.


Namun kali ini Verdant melihat Raka jauh berbeda dengan Raka yang ia kenal selama ini.


“Bro, kita sudah bersahabat sejak lama. Kali ini saja kita bicara!” pinta Verdant menepuk pundak kiri Raka dan merasakan ketegangan di pundak tersebut.


Verdanta juga melihat sorot mata Raka yang begitu khawatir terhadap Alina dan rasa marah yang memuncak.


“Kamu tahu kan kenapa aku berhenti?” Raka menyeka cairan bening di kelopak matanya dan melanjutkan, “Dia adalah alasannya dan aku adalah orang yang telah merusak masa depan wanita yang ada di dalam ruangan ini.”


“Hahahaha ….” Verdant tiba-tiba terpingkal-pingkal mendengar jawaban Raka yang menurutnya konyol. “Hadeuh, sejak kapan kau suka mempermainkan wanita? Lalu kau jatuh cinta dengannya?”


“in semua gara-gara Kolaborator yang telah memberikanku minuman anggur merah di malam itu. Aku mabuk dan salah masuk kamar hotel. Setelah itu ya … anu, itu, anu, itu …. Ya, begitulah. Aku merusak kesucian Alina yang mau menikah dengan Daniel Arslan Putra,” jawab Raka yang mulai tenang setelah mencurahkan isi hatinya pada Verdant.


“Ya kamu tinggal nikahin saja dia gampang kan?” Verdant memberikan solusi dengan menaikan kedua bahunya.

__ADS_1


“Justru itu, dia sekarang masih membenciku gara-gara kejadian itu. Bagi Alina, aku hanyalah orang yang telah merusak kebahagiaannya dan sekarang dia seperti ini gara-gara aku juga. Apakah memang aku harus menyerah untuk mengejarnya, bro?” tanya Raka yang sudah putus asa saat ini mengejar Alina.


Dia merasa setiap kali Raka berada di dekat Alina selalu saja membuat masalah untuknya. Maka dari itu, Raka memutuskan untuk tidak mengejar Alina.


“Bro, setelah dia bangun berikan kartu ini padanya.” Raka memberikan kartu hitam miliknya dan melanjutkan, “Berikan juga 60% saham rumah sakit ini untuknya.”


Raka menyeka air matanya dan pergi meninggalkan ruangan CT Scan dengan menyeka air matanya yang sudah jatuh membasahi kedua pipinya. Dia akan pergi menyusul Vincent untuk menghabisi semua anggota geng Harimau Putih.


***


4 jam kemudian.


“Raka! Raka!”


Aina terus mengigau memanggil Raka. Di dalam mimpinya Raka menyelamatkan hidupnya dari para preman, tapi pergi jauh setelah berhasil membereskan semua preman-preman yang akan memperkosa Alina.


“Raka!” teriak Alina sambil bangkit duduk dengan mata membelalak, dan keringat dingin membasahi wajahnya.


Verdant yang sedang menunggu Alina siuman di depan ruangan perawatannya langsung masuk setelah mendengar teriakan Alina.


“Kenapa Nona? Ada apa?” tanya Verdant panik dan langsung menekan tombol darurat untuk memanggil dokter khusus yang berjaga untuk Alina.


“Dimana tuan muda Raka, mas? Dimana tuan muda Raka?” tanya Alina dengan raut muka panik.


Verdant terdiam, dan memberikan kartu hitam juga map berisikan surat pemindahan 60% saham milik Eternal Grup yang berada di Rumah Sakit Eterna Maranggi.


"Dimana tuan muda Raka mas?" tanya Alina dengan menangis sesenggukan dan melanjutkan, "Ini apa? Mana tuan muda Raka?"


"Aku Verdant, ini semua untuk Nona Alina Maharani dari Raka sahabatku yang menitipkannya padaku. Raka pergi hanya menitipkan semua ini untuk Nona Alina. Terimalaha! Dan tandatangani surat pemindahan saham Rumah Sakit ini untuk Nona Alina," jawab Verdant.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak butuh ini. Aku hanya ingin tuan muda Raka."


Alina mencoba melepaskan jarum infusnya untuk pergi mencari Raka yang sudah memutuskan untuk kembali menjadi seorang pembunuh bayaran. Raka juga menyerahkan Eternal Grup untuk di urus oleh Vincent.


__ADS_2