
Raka akhirnya sampai di rumah sakit Eternal Maranggi cabang Surabaya, walaupun dengan perasaan yang tak menentu dan langsung menggendong tubuh Alina ke arah ruang ICU.
“Suster tolong!” teriak Raka mulai panik.
Dua orang suster membawa brankar dan Raka menaruh Alina yang sudah pingsan ke brankar tersebut. Lalu kedua Suster tersebut mendorong brankar ke dalam ruangan ICU untuk segera menangani Alina.
Saat kondisi Raka panik dia menerima telepon dari kolaborator untuk segera membunuh seseorang di pusat kota Sidoarjo.
Raka mengangkat telepon tersebut dengan berpura-pura tenang dan mengiyakan dari permintaan misi tersebut.
Dengan terpaksa Raka menaruh kartu hitam yang sudah selama satu tahun tidak pernah dipergunakannya untuk membayar biaya rumah sakit yang dipegang oleh Verdant dan 60% sahamnya milik Alina.
“Sus, bisa bayar pakai ini?” tanya Raka mulai gusar karena 1 jam lagi dia harus sudah berada di atas gedung apartemen yang berseberangan dengan gedung yang akan disinggahi oleh target.
“Bisa tuan,” jawab suster tersebut.
“Cepat Sus!”
Suster tersebut langsung memproses transaksi dan matanya melebar melihat isi dalam kartu tersebut dengan nominal uang yang sangat banyak. Tetapi dia harus profesional dan mempercepat transaksinya sesuai permintaan Raka.
Setelah Raka menerima kartu hitam tersebut dan meminta suster untuk menaruhnya di kamar VVIP. Dia langsung berlari cepat ke arah tempat parkir untuk segera mengendarai motornya.
Raka melajukan motornya gila-gilaan, sebab jarak gedung yang akan disinggahi oleh target berjarak 10 km dari rumah sakit Eternal Maranggi cabang Sidoarjo.
Sesampainya di depan gedung Apartemen Indiante Residence, Raka memarkirkan motornya secara sembarangan di tempat yang tidak tertangkap oleh CCTV.
Kemudian membuka jok motornya dan mengambil Koper kecil yang selalu dia bawa berisikan senjata berjenis rifle yang dibuatnya sendiri.
Raka berjalan agak cepat untuk melakukan sewa kamar apartemen di lantai atas hanya untuk sewa satu hari. Tapi ditolak oleh resepsionis yang mengurusi apartemen tersebut.
__ADS_1
Dengan kekuatan uangnya, Raka langsung meminta nomor rekening sang wanita resepsionis dan mentransfer uang 10 juta, setelah wanita resepsionis tersebut memberikan nomor rekeningnya.
Akhirnya wanita resepsionis menyetujui permintaan Raka untuk menyewa salah satu kamar di lantai 20 yang masih kosong.
Raka berlari cepat ke arah lift dan langsung menekan tombol lantai 20 setelah masuk ke dalam lift. Dia membuka tas kecil tersebut dan menyemprot ke arah kamera CCTV. Untuk di lobi apartemen, raka sudah meminta Abel untuk meretas dan menghancurkan semua rekaman tentang dirinya masuk ke dalam Apartemen Indiante Residence.
Raka segera merakit senapan Rifle SVD-17 tersebut di dalam lift dan melengkapinya dengan peredam.
Begitu keluar dari dalam lift, dia menggendong senapan rifle tersebut di belakang punggungnya dan mengeluarkan pistol kejut untuk melumpuhkan siapapun yang berada di lantai 20. Sebelum dia menaiki tangga menuju rooftop apartemen.
Sesampainya di atas rooftop gedung, hatinya gusar karena memikirkan kondisi Alina yang sedang sakit.
Akan tetapi dia harus profesional dan menguatkan tekadnya untuk membuat misi pembunuhan Bupati Sidoarjo ini berhasil.
Raka memasang standing pada senapannya, dan dia tengkurap. Lalu menyuntikan cairan penenang pikiran agar Raka fokus.
Detik demi detik, menit demi menit dia lewati sambil terus memikirkan kondisi Alina.
Dua orang tersebut adalah Monica dan Steven. Raka tidak bisa mengeksekusinya di depan mereka berdua karena akan ketahuan jika yang menembaknya adalah Raka.
Raka mengganti pelurunya dengan peluru ledak dalam skala kecil untuk mengaburkan mereka berdua. Walaupun efeknya akan sangat signifikan pada target, yakni tubuh target akan hancur lebur jika terkena peluru tersebut.
Teleskop diarahkan ke jantung Bupati Sidoarjo yang asyik sedang berbincang dengan Monica dan Steven. Raka pun menahan nafas dan menarik pelatuk senapan SVD-17 miliknya tersebut.
CUG!
Peluru tersebut secepat kilat melesat dan menembus dinding kaca. Lalu mengenai dada kiri bagian jantung Bupati Sidoarjo dan tubuhnya langsung meledak, hingga menjadi kabut darah.
Steven dan Monica sendiri terpental menabrak dinding hingga pingsan. Dengan begini Raka akan aman, sebab metode penembakannya telah berubah tidak seperti biasanya menggunakan peluru berefek korosif tapi berefek ledak.
__ADS_1
Dada Raka kembang-kempis dan langsung membongkar kembali senapannya itu dan memasukkannya lagi ke dalam tas.
Kemudian menuruni anak tangga yang menuju lantai 20. Raka benar-benar tidak tenang setelah obat penenang diri itu telah habis efeknya, karena hanya aktif selama 5 menit.
Jadi dia memutuskan untuk segera turun ke lantai dasar. Seharusnya dia tinggal dahulu selama sehari agar tidak ada yang curiga.
—
—
—
Sesampainya di rumah sakit, Raka langsung menuju ruangan ICU. Tapi tak mendapati Alina yang sudah dipindahkan ke ruangan VVIP dan bertanya pada salah satu Suster, ”Sus, pasien atas nama Maharani yang baru saja masuk ke ruangan ICU telah dipindahkan kemana ya?”
“Oh, Mbak Maharani ke ruangan VVIP satu di lantai lima,” jawab Suster.
Raka segera berlari ke lantai lima menaiki tangga dengan nafas terengah-engah. Sesampainya di kamar tersebut Alina sudah mendingan dan sedang duduk.
“Fyuh, syukurlah Mbak gak papa, huff … huff ….” Raka pun terkapar di bawah tempat tidur Alina karena kelelahan.
“Kenapa mas Toldep? Kok lelah sekali?” tanya Alina heran.
“Tidak apa-apa, huff … huff …. Aku hanya khawatir saja pada Mbak. Nanti aku yang dimarahi sama ibu Sinta kalau aku gak bisa jagain Mbak dengan baik,” jawab Raka masih dengan dada kembang-kempis.
"Aku gak papa kok Mas. Kalau Mas Toldep mau pulang dan buka bengkel gak papa. Besok pagi aku juga sudah boleh pulang dan aku bisa pulang sendiri. Terima kasih banyak Mas Toldep udah jagain aku dan bawa aku ke rumah sakit,” kata Alina dan membuat hati Raka tiba-tiba terenyuh.
“Ti-tidak apa-apa. Masalah bengkel mah gampang.” Raka menaikkan kacamatanya sedikit, untuk menyeka bulir bening yang sudah menggenang di kelopak matanya. “Aku akan jagain Mbak sampai sembuh.”
Kemudian Raka keluar ruangan dan duduk di samping pintu kamar VVIP nomor kosong satu yang dihuni oleh Alina. Dia mencoba menenangkan diri untuk menahan perasaan hatinya yang ingin mengungkapkan dirinya pada Alina.
__ADS_1
Raka melamun dengan air mata yang tanpa disadarinya telah terjatuh dan tersentak kaget setelah mendapatkan notifikasi transferan uang sebesar 20 milyar dari Kolaborator, karena telah berhasil membunuh Bupati Sidoarjo yang telah menerima banyak gratifikasi dari berbagai pengusaha di Jawa Timur sebanyak 313 triliun.
Notifikasi pada ponsel bututnya itu tidak digubris dan Raka menidurkan badannya yang sangat lelah tersebut.