Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati

Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati
Maafkan Aku


__ADS_3

Selesai makan nasi goreng, Raka mengantarkan Alina ke rumah Ibu Sinta dan mengulas senyum ke arah Alina.


“Sampai jumpa besok pagi ya. Kalau aku belum bangun telpon aja!” teriak Raka yang sedang melihat Alina masuk melewati gerbang rumah Ibu Sinta.


“Ya!” balas Alina berteriak.


Mereka berdua seperti mendapatkan air di tengah padang yang sangat gersang. Kedua hati mereka begitu segar setelah lama tak bertemu, walaupun dengan kondisi yang berbeda. Karena keduanya melepaskan identitas Alina dan Raka untuk mengubur cinta mereka dalam-dalam ke dalam palung waktu masa lalu.


***


Keesokan paginya.


Raka pagi-pagi jam lima sudah bangun. Biasanya masih terlelap dengan selimut tebal yang menutupi badannya.


“Hoaam …. Segar sekali pagi ini. Aku sudah lama tidak berolahraga. Olahraga dulu lah, siapa tau kalau dapat jodoh singkong premium in bisa menjadi Naga premium, hehehe ….”


Raka bangkit dan langsung melakukan push up 100 kali. Lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai dengan aktivitas di pagi harinya. Raka mengirim pesan pada Alina dengan ponsel bututnya itu sambil menyisir rambutnya yang sudah lama tak dirapikan.


Raka terkekeh sambil dirinya berpose keren di depan cermin, “Ganteng juga aku ya kalau disisir. Tapi walau gak disisir banyak ciwi-ciwi yang ngebet banget sama aku, hehehe ….”


Saat sudah rapi, Alina malah membalas pesan kalau dia tiba-tiba sakit demam dan dia izin tidak masuk untuk mengajar juga kerja paruh waktu di restoran Bebek Peking.


Raka segera mengeluarkan motornya itu untuk segera melesat ke rumah Ibu Sinta untuk menjenguk Alina.


Dalam perjalanan menuju rumah Ibu Sinta, Raka membelikan Ibu sinta dan Alina bubur untuk sarapan pagi.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah Ibu Sinta, Raka menekan tombol klakson, "Ibu! Toldep bu! Bawa bubur buat Maharani!" teriak Raka.


Ibu Sinta yang sedang mengompres dahi Alina segera keluar setelah mendengar suara klakson dan teriakan Raka, “Ya sebentar!” sahut Sinta.


Dengan berjalan cepat Sinta membukakan gerbang rumahnya, “Makasih mas Toldep sudah bawain Maharani bubur. Tapi ibu harus berangkat sekarang. Bisakah mas Toldep jagain Maharani? Kalau Maharani tambah parah bawa saja ke dokter. Masalah biaya nanti gampang ibu transfer kalau sudah sampai ke Jakarta.”


“Tenang bu. Masalah Mbak maharani serahkan saja pada pawangnya. Eh serahkan padaku. Pokoknya aman dan pasti 86, eh 86. Maksudnya beres dan masalah biaya tenang saja bu. Nanti aku ke rumah sakit temanku saja, dijamin gratis,” balas raka sambil memberikan dua bungkus bubur Ayam kepada Sinta.


Kemudian dia memarkirkan motornya itu ke dalam halam rumah Sinta yang sangat luas dipenuhi berbagai macam jenis bunga. Alina suka dengan berbagai macam bunga.


Jadi, mau tidak mau Sinta harus menuruti semua keinginan anak majikannya itu, yakni Verald Maharani.


Sinta menyiapkan dahulu bubur yang dibawa oleh Raka ke mangkuk dan memberikannya pada Alina yang sedang berada di kamarnya meringkuk di atas tempat tidurnya. Lalu meminta izin untuk berpamitan karena harus kembali ke Jakarta ke rumah Alina.


Sinta menarik koper dan berpamitan juga pada Raka dengan mengulas senyum. Dia sangat tenang dan lega jika menyerahkan Alina pada Raka yang terkenal sangat baik di wilayah desa Kembon Kedot.


Raka mengetuk pintu kamar Alina, “Permisi aku izin masuk!”


Saat Raka masuk, matanya langsung melebar dan air matanya langsung terjatuh dengan berkata lirih, “A-alina?!”


Raka melihat wajah Maharani tanpa memakai kacamata dan ternyata itu memang Alina yang sedang ingin dia lupakan, tapi tak pernah berhasil.


Dia berpura-pura matanya kemasukan debu dengan melepas sedikit kacamata bulatnya untuk menyeka air mata yang tiba-tiba terjatuh.


“Raka, kamu harus kuat dan biarkan dia tidak mengetahui dirimu yang sebenarnya sebagai Raka. Biarkan Alina tahu bahwa dirimu hanya punya identitas sebagai seorang yang bernama Toldep,” monolog Raka dalam batinnya.


Setelah menguatkan hatinya untuk menghadapi kenyataan yang begitu pahit. Raka berjalan perlahan dengan kaki tertatih ke arah tempat tidur Alina.

__ADS_1


Kemudian menempelkan punggung tangannya ke dahi Alina yang sudah terbalut oleh kain yang sudah direndam dengan air dingin.


Raka sangat telaten mengurusi Alina yang sedang sakit. Bagaimanapun juga rasa cinta Raka pada Alina yang sudah berjalan empat tahun masih ada. Walaupun Alina selalu pergi dan hilang entah kemana.


“Nona pe, eh maksudku Mbak Maharani panas Mba sangat tinggi. Lebih baik kita ke rumah sakit saja. Tenang saja nanti aku yang urus. Aku punya teman yang punya rumah sakit dan pasti gratis,” pinta Raka yang hampir saja keceplosan.


Alina hanya mengangguk dan Raka langsung menggendongnya ala bridal style untuk membawa Alina ke ruang tamu dulu.


“Mbak pinjam ponselnya ya? Ada aplikasi ojek online kan? Aku mau pesan mobil biar Mbak lebih nyaman saat ke rumah sakit,” mohon Raka.


“Tidak usah mas Toldep. Pa-pakai motor aja. Aku kuat kok. ma-maaf ngrepotin,” tolak Alina dan Raka langsung menggendong kembali ala bridal style.


Suhu panas tubuh Alina semakin tinggi dan membuat Raka sedikit panik. Tapi dia harus setenang mungkin menghadapi situasi ini.


Raka menaruh Alina di jok belakang motornya, “ Sebentar ya Mak. aku cari kain dulu buat ngikat tubuh Mbak agar gak jatuh.”


Pria berambut belah miring ke kiri tersebut masuk kembali ke dalam rumah untuk mencari kain dan menemukannya di kamar Alina.


Dengan berlari cepat, Raka segera kembali ke halaman rumah dan langsung mengikat pinggang Alina deng pinggang belakang Raka dengan kain tersebut.


Kemudian melajukan motornya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan. Tanpa disadari oleh Alina, kedua tangannya memeluk pinggang Raka dan sentuhan benda kenyal Alina yang sekarang bertambah besar tersebut membangkitkan hasrat Raka.


Sentuhan tersebut sangat terasa dan membuat Raka mengingat momen empat tahun lalu. Saat Alina bermantap-mantap dengannya di kamar hotel nomor 313.


“Tahan Raka, tahan. Kamu bukan siapa-siapa Alina. Bahkan dia juga tidak mengenalmu sekarang,” monolog Raka dalam batinnya dengan menahan singkong premiumnya yang sudah menjadi Naga premium.


Dalam kondisi sakit seperti ini, wajah Alina terlihat sangat menggairahkan dengan kedua pipi merona dan *******-******* atas rasa sakitnya.

__ADS_1


“Mas Raka, maafin aku. Aku sayang kamu mas. Maafin aku,” kata Alina yang sedang mengigau dan tanpa sadar kata itu terucap dari dalam alam bawah sadarnya yang sudah lama merindukan Raka.


Raka menyetir motor agak oleng. Dia berhenti di trotoar untuk menguatkan kedua kelopak matanya yang sudah kembali menggenang. Dia tak menyangka jika Alina masih mencintainya, walaupun telah meninggalkannya.


__ADS_2